Lintang Siltya Utami | Sherly Azizah
Nadhif Basalamah (instagram/nadhifbasalamah)
Sherly Azizah

Beberapa malam yang lalu, saya tidak sedang mencari cinta. Saya hanya sedang mencari pengungsi dari tumpukan pekerjaan dan ekspektasi hidup yang semakin membatasi usia kepala dua ini. Lalu, algoritma menyodorkan lagu Jatuh Cinta Lagi milik Nadhif Basalamah.

Sejujurnya, saya sempat ragu untuk menekan tombol play. Ada semacam membungkus kalau lagu ini bakal "mengacak-acak" pagar yang sudah susah payah saya bangun. Dan benar saja, baru lima puluh detik pertama, saya sudah merasa baper yang tidak keruan. Bukan baper senang yang bikin senyum-senyum sendiri, tapi baper yang bikin sesak, seolah-olah Nadhif baru saja membedah isi kepala saya tanpa izin.

Di tengah gempuran lagu-lagu upbeat yang merayakan kebebasan atau justru lagu galau yang meratapi pengorbanan, Nadhif datang dengan genre pop-folk yang sangat intim. Tema yang diangkat bukan lagi soal "aku dikhianati", melainkan isu yang jauh lebih personal dan relevan bagi banyak perempuan dewasa muda saat ini: kerentanan hati.

Di zaman di mana kita dituntut untuk selalu tampil kuat dan mandiri, lagu ini hadir sebagai pengakuan bahwa di balik topeng "aku baik-baik saja", ada ketakutan luar biasa untuk membuka pintu hati yang sudah digembok rapat.

Lagu ini tidak bercerita tentang keberhasilan sebuah hubungan, melainkan tentang momen krusial sebelum seseorang memutuskan untuk melangkah. Ini adalah narasi tentang transisi. Ada bayang-bayang masa lalu yang masih menghantui, namun di depannya ada sosok baru yang menawarkan kehangatan yang begitu tulus.

Konflik utamanya bukan dengan orang lain, melainkan dengan diri sendiri. Pertanyaan terbesarnya adalah: Apakah aku sudah cukup berharga untuk menerima cinta yang baru? Atau apakah aku hanya akan menghancurkan orang baik ini dengan sisa-sisa lukaku?

Nadhif memiliki kemampuan ajaib untuk membuat lirik yang terasa seperti bisikan hati nurani. Gaya bahasanya sederhana, tidak berusaha menjadi sastrawan yang rumit, namun setiap kata terasa tepat sasaran.

Secara emosional, lagu ini memicu teriakan internal dalam diri saya. Ada satu fase di mana sebagai wanita yang sudah melewati angka 20, saya merasa harus "selesai" dengan diri sendiri dulu sebelum melibatkan orang lain. Saya merasa belum worth it—belum cukup sukses, belum cukup stabil, belum cukup "utuh".

Mendengar lagu ini rasanya seperti ditarik paksa untuk mengakui bahwa saya sebenarnya rindu kasih sayang itu, tapi saya terlalu meremehkan untuk mengambil risikonya. Suara akustik gitarnya yang minimalis justru membuat vokal Nadhif terasa sangat telanjang dan jujur. Ini bukan sekedar musik, ini adalah cermin yang menampilkan betapa rapuhnya saya di balik kemandirian yang saya agungkan selama ini.

Jika bicara soal kualitas, lagu ini adalah mahakarya dalam kemudahan. Nadhif tidak membutuhkan orkestra megah untuk membuat pendengarnya menangis. Namun, secara argumentatif, lagu ini memang "berbahaya" bagi orang-orang yang sedang dalam masa penyembuhan trauma.

Ia memberikan harapan di saat kita mungkin belum siap memilikinya. Kekuatan naratifnya luar biasa, namun ia meninggalkan lubang menganga tentang “bagaimana selanjutnya?”. Lagu ini adalah sebuah teka-teki yang jawabannya dikembalikan lagi kepada keberanian masing-masing pendengar.

Lagu Jatuh Cinta Lagi adalah lagu yang wajib didengarkan oleh siapa pun yang sedang jatuh cinta tapi merasa tidak pantas, atau mereka yang ingin memulai namun kakinya masih berat melangkah dari masa lalu. Kesan yang tertinggal setelah lagu ini usai adalah sebuah kenyamanan yang panjang. Saya masih baper, saya masih takut, dan saya masih merasa belum worth it.

Namun, setidaknya Nadhif memberitahuku bahwa tidak apa-apa untuk merasa takut. Tidak apa-apa untuk ragu. Karena mungkin, jatuh cinta lagi memang bukan soal kapan kita siap, tapi soal kapan kita membiarkan seseorang membantu kita untuk merasa "cukup berani".

Identitas Karya

Judul: Jatuh Cinta Lagi (Official Music Video)
Kanal YouTube: Nadhif Basalamah
Tahun Rilis: 2025
Genre: Pop / Folk
Durasi: 04.09 menit