Penghargaan kita atas hak-hak kemanusiaan perempuan sejatinya adalah penghormatan kita atas hak-hak kita sendiri, karena โdia adalah akuโ. Betapa indahnya bila semakin banyak perempuan santri yang menulis dengan perspektif seperti dalam novel Cinta dalam Mimpi ini. Semoga sukses dan berkah. Demikian testimoni dari KH. Husein Muhammad, Pengasuh Pondok Pesantren Dar Al-Fikr, Arjawinangun Cirebon, sebagaimana yang tercantum di sampul belakang.
Novel Cinta dalam Mimpi mengisahkan perjalanan seorang perempuan bernama Farah yang bergulat dengan perasaan yang tak pernah benar-benar menemukan jalannya. Dalam hidupnya, ia dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak mudah, antara mempertahankan harapan atau merelakan sesuatu yang tak pernah sepenuhnya ia miliki.
Cerita berkembang melalui dinamika hubungan yang tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Tokoh utama harus menghadapi kenyataan bahwa cinta tidak selalu datang dalam bentuk yang diharapkan. Ada jarak, ada waktu, dan ada keadaan yang memisahkan, meskipun perasaan tetap tinggal.
Mimpi menjadi elemen penting dalam cerita ini. Ia hadir sebagai ruang di mana harapan bisa hidup tanpa batas, namun sekaligus menjadi pengingat bahwa tidak semua yang indah bisa dibawa ke dunia nyata.
Dalam perjalanan itu, tokoh utama belajar tentang arti keikhlasan, tentang menerima tanpa harus memahami sepenuhnya, dan tentang mempercayakan sesuatu kepada takdir.
Novel ini tidak hanya menawarkan kisah cinta, tetapi juga perjalanan spiritual yang mengajak pembaca merenungkan makna kehilangan, harapan, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Sebuah cerita yang lembut, namun meninggalkan jejak yang dalam.
Menjadi sosok seperti Farah terasa nyaris mustahil ketika ia menyimpan cita-cita menjadi seorang dokter. Latar belakang keluarga yang serba kekurangan, ditambah kondisi sang ayah yang sakit dan tak lagi mampu bekerja, membuat langkahnya terhenti di persimpangan.
Ia bahkan berada di ambang pernikahan dini yang direncanakan keluarganya, sebuah keputusan yang memaksanya mengubur impian dan meninggalkan bangku sekolah.
Keadaan itu berubah ketika Gus Syauqi hadir dan menggagalkan rencana pernikahan tersebut. Farah pun mendapatkan kesempatan kedua untuk melanjutkan pendidikan sekaligus menjadi santri ndalem di pesantren miliknya.
Kepribadian Farah yang ceria serta kecintaannya yang mendalam terhadap alam semesta perlahan menumbuhkan perasaan tersendiri di hati Gus Syauqi, meski tak pernah diungkapkan secara terang.
Namun, pertanyaan besar pun menggantung, mungkinkah Farah kembali merajut harapan tentang cinta, sementara ia hanyalah seorang santri ndalem dan Gus Syauqi adalah putra seorang kiai?
Kelebihan novel Cinta dalam Mimpi karya Muyassarotul Hafidzoh ini menawarkan kisah yang menarik, terutama dengan latar kehidupan pesantren yang terasa dekat bagi sebagian pembaca. Hal ini tentu menjadi daya tarik tersendiri, khususnya bagi kalangan santri.
Selain itu, karakter Farah yang memiliki ketertarikan besar terhadap alam semesta memberi warna unik yang membedakannya dari tokoh-tokoh dalam novel sejenis. Nuansa tersebut bahkan bisa memikat pembaca yang menyukai bidang seperti biologi. Tampilan sampulnya pun cukup memikat dan tidak terasa monoton.
Meski demikian, akhir cerita dalam novel ini terkesan menggantung. Hal tersebut berpotensi menimbulkan rasa kurang puas bagi pembaca karena tidak memberikan penutup yang benar-benar tuntas. Namun, bukan tidak mungkin hal ini menjadi pintu bagi kelanjutan cerita di seri berikutnya.
Oh ya, novel ini berada dalam lanskap fiksi romantis bernuansa religi, dengan tema utama tentang cinta, takdir, dan keikhlasan. Ia tidak sekadar berbicara tentang hubungan antar manusia, tetapi juga relasi batin dengan Tuhan.
Isu yang diangkat terasa dekat dengan realitas banyak orang, tentang harapan yang tidak selalu menemukan jalannya, tentang doa yang menggantung di antara yakin dan ragu.
Dalam konteks hari ini, di mana banyak orang terburu-buru dalam mencintai, buku ini justru mengajak untuk berhenti sejenak dan memahami makna menunggu.
Buku ini pun cocok untuk mereka yang tidak sedang terburu-buru. Untuk pembaca yang ingin merasakan, bukan sekadar mengetahui akhir cerita. Yang tertinggal setelah selesai membacanya bukan sekadar kisahnya, tetapi suasana, semacam sunyi yang justru terasa penuh.
Identitas Buku
- Judul: Cinta Dalam Mimpi
- Penulis: Muyassarotul Hafidzoh
- Penerbit: Diva Press
- Cetakan: I, Desember 2020
- Tebal: 227 Halaman
- ISBN: 978-623-293-141-1
- Genre: Fiksi/Novel
Baca Juga
-
MacBook Pro 14 inci M5: Laptop Pro yang Kini Semakin Pintar dan Bertenaga
-
Sedekah yang Berubah Jadi Tagihan: Tradisi atau Tekanan Sosial?
-
5 Pilihan Laptop Gaming Murah 2026: Performa Kencang, Harga Tetap Ramah di Kantong!
-
Di Balik Novel Marioriawa: Mitos yang Hidup dan Menghantui Realitas
-
5 HP Samsung dengan Kamera Paling Gahar 2026, Hasil Foto Bikin Takjub
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Film Ikatan Darah: Pertaruhan Nyawa Demi Sebuah Kehormatan Terakhir!
-
Review The Price of Confession: Saat Ketenangan Terlihat Lebih Mencurigakan
-
Review Film Apex: Metafora Duka dalam Pertarungan Brutal di Alam Terbuka
-
Aftersun: Sebuah Potret Pedih Hubungan Ayah dan Anak yang Menyayat Perasaan
-
Di Balik Novel Marioriawa: Mitos yang Hidup dan Menghantui Realitas
Terkini
-
Blunder Usul Gerbong Perempuan Pindah Tengah: Solusi atau Respons Prematur?
-
MacBook Pro 14 inci M5: Laptop Pro yang Kini Semakin Pintar dan Bertenaga
-
Siap Debutkan Boy Group Baru, YG Entertainment Ungkap Jadwal Promosi Artis
-
Tumpukan di Balik Senyum Desa Tambakromo
-
Sekolah Gratis Tapi Tak Setara: Hidden Cost yang Menyaring Status Siswa