Sekar Anindyah Lamase | Chairun Nisa
Novel Entrok (Perpustakaan BPK RI )
Chairun Nisa

Sejak membaca Pasung Jiwa karya Okky Madasari, saya merasa ada dorongan kuat untuk menelusuri karya-karyanya yang lain. Tulisan Okky selalu punya cara unik untuk memotret realitas sosial yang getir, dan itulah yang akhirnya membawa saya pada novel pertamanya, Entrok.

Jangan terkecoh dengan sampulnya yang terlihat manis dengan dominasi warna merah muda dan gambar perempuan yang sedang mengaitkan bra. Di balik kemasan yang menyerupai genre chick-lit ini, tersimpan sebuah narasi yang sangat kuat, tajam, dan bisa dibilang semi-subversif. Okky dengan berani mengangkat hubungan timpang antara negara dan rakyat kecil ke dalam ranah sastra yang memikat.

Entrok membawa kita melintasi waktu selama hampir lima dekade, mulai dari tahun 1950 hingga 1999. Melalui perspektif sejarah politik Indonesia, novel ini adalah rekaman zaman Orde Baru—era di mana "keamanan" justru menjadi momok yang mencekam dan aparat berseragam seringkali identik dengan intimidasi serta pungutan liar.

Kisah ini berpusat pada dua tokoh utama: Marni dan putrinya, Rahayu. Marni adalah representasi nyata dari perjuangan hidup dan pemberdayaan perempuan. Lahir dalam kemiskinan ekstrem, ia tumbuh menjadi pekerja keras yang tak kenal lelah.

Semua bermula dari keinginan sederhana namun mendalam: memiliki "entrok" atau bra. Baginya, entrok bukan sekadar pakaian dalam, melainkan simbol martabat dan kedewasaan yang tidak bisa ia dapatkan hanya dengan upah singkong.

Marni akhirnya banting tulang sebagai kuli panggul di pasar—pekerjaan yang saat itu dianggap tidak lazim bagi perempuan—demi mendapatkan upah uang.

Kegigihannya membuahkan hasil. Ia berkembang dari kuli menjadi pedagang keliling, hingga akhirnya menjadi rentenir sukses di desanya.

Meski buta huruf, Marni memiliki intuisi bisnis yang tajam. Namun, kesuksesan finansial ini justru membawanya pada pusaran masalah baru: ia menjadi sasaran empuk pemerasan oleh oknum aparat yang selalu datang meminta "sumbangan" atas nama keamanan.

Konflik utama novel ini bukan hanya soal tekanan eksternal dari penguasa, tapi juga keretakan hubungan antara ibu dan anak. Rahayu, yang tumbuh dengan pendidikan formal dan ajaran agama yang kaku di sekolah, mulai memandang ibunya sebagai pendosa.

Ia membenci praktik kepercayaan tradisional ibunya yang masih memberikan sesajen di bawah pohon asem dan menganggap profesi ibunya sebagai pemakan riba.

Perbedaan generasi ini menciptakan jurang yang dalam; yang satu hidup demi kerja keras dan bertahan hidup, sementara yang lain hidup demi dogma dan idealisme.

Sayangnya, idealisme Rahayu sebagai aktivis kampus justru membenturkannya pada tembok kekuasaan yang sama dengan yang memeras ibunya.

Ia dipenjara dan diberi label eks-tapol (ET) hanya karena membela warga korban pembangunan waduk. Di sinilah narasi Okky terasa sangat menyesakkan. Ia menunjukkan bahwa baik si kaya yang buta huruf maupun si terpelajar yang idealis, keduanya sama-sama tidak berdaya di hadapan kesewenang-wenangan negara.

Membaca Entrok memang melelahkan secara emosional. Okky menyajikan ketidakadilan secara bertubi-tubi hingga pembaca mungkin akan merasa jengah dengan tingkah laku para "orang berseragam" yang digambarkan begitu represif. Meskipun alurnya terasa sedikit linier dan mudah ditebak bagi mereka yang akrab dengan sejarah Orde Baru, novel ini tetap berhasil menjadi cermin retak bagi bangsa kita.

Pada akhirnya, Entrok adalah sebuah gugatan terhadap sejarah. Novel ini mempertanyakan kembali hakikat keadilan di negeri ini. Meski latar waktunya sudah berlalu lebih dari satu dekade, ironisnya, potret ketimpangan relasi antara negara dan rakyatnya yang digambarkan Okky masih sering kita temui hingga hari ini. Sebuah karya debut yang sangat layak untuk diapresiasi bagi siapa pun yang ingin melihat wajah nyata Indonesia di masa lalu.

Identitas Buku

Judul: Entrok
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: April 2010
Tebal: 282 Halaman
ISBN: 978-979-22-5589-8