Ketika membicarakan tokoh pendiri bangsa Indonesia, nama Mohammad Hatta hampir selalu berdampingan dengan Soekarno. Namun, di balik perannya sebagai proklamator dan wakil presiden pertama Republik Indonesia, Hatta merupakan sosok intelektual, ekonom, sekaligus negarawan yang mengabdikan hidupnya untuk membangun bangsa melalui pemikiran dan keteladanan.
Perjalanan hidupnya terangkum dalam buku Mohammad Hatta: Biografi Singkat 1902–1980 karya Salman Alfarizi, sebuah biografi setebal 244 halaman yang mengajak pembaca mengenal lebih dekat kehidupan Bung Hatta sejak masa kecil hingga akhir hayatnya.
Buku yang diterbitkan oleh Garasi House Yogyakarta, ini tidak hanya menyajikan kronologi kehidupan Mohammad Hatta, tetapi juga menggambarkan nilai-nilai perjuangan, integritas, dan kecintaan terhadap Indonesia yang masih relevan hingga saat ini. Dengan bahasa yang ringan, buku ini cocok dibaca oleh pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum yang ingin memahami salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia.
Isi Buku
Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 12 Agustus 1902 dari pasangan Haji Mohammad Jamil dan Siti Saleha. Sejak masih bayi, Hatta telah kehilangan ayahnya sehingga ia tumbuh dalam lingkungan keluarga besar yang penuh perhatian. Kakeknya bahkan sempat bercita-cita menyekolahkannya ke Makkah, meski rencana tersebut tidak pernah terwujud karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Sejak kecil, Hatta dikenal sebagai anak yang cerdas dan gemar belajar. Ia mengawali pendidikan di Europese Lagere School (ELS) di Bukittinggi, kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Padang. Di masa inilah pemikiran Hatta mulai berkembang setelah mengenal gagasan pembaruan Islam dari Muhammad Abduh melalui Haji Abdullah Ahmad. Selain berprestasi di sekolah, Hatta juga aktif sebagai Bendahara Jong Sumatranen Bond Cabang Padang. Keterlibatannya dalam organisasi membuat kesadaran politiknya tumbuh sejak usia muda.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Dagang atau Prins Hendrik School di Batavia pada 1921, Hatta melanjutkan studi ke Netherland Handelshogeschool di Rotterdam, Belanda. Masa studinya di negeri itu menjadi titik balik perjalanan hidupnya.
Di Belanda, Hatta aktif dalam organisasi Indische Vereeniging yang kemudian berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, organisasi tersebut menjadi wadah perjuangan mahasiswa Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan melalui jalur diplomasi dan pemikiran.
Aktivitas politiknya membuat pemerintah kolonial Belanda menangkap dan mengadilinya atas tuduhan melakukan kegiatan subversif. Namun, dalam persidangan yang terkenal, Hatta menyampaikan pidato pembelaan berjudul "Indonesia Vrij" atau "Indonesia Merdeka", yang justru memperkuat posisinya sebagai tokoh pergerakan nasional. Ia akhirnya dibebaskan pada 1928 dan menyelesaikan pendidikannya sebelum kembali ke Tanah Air pada 1932.
Sepulang dari Belanda, Hatta semakin aktif menggerakkan perjuangan kemerdekaan melalui pendidikan politik, organisasi, dan tulisan di berbagai media. Bersama Soekarno, ia menjadi tokoh sentral dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sehari setelahnya, Hatta diangkat sebagai Wakil Presiden pertama Republik Indonesia.
Selain dikenal sebagai proklamator, Bung Hatta juga dijuluki sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Ia meyakini bahwa koperasi merupakan sistem ekonomi yang paling sesuai dengan semangat gotong royong dan keadilan sosial.
Menurut Hatta, pembangunan ekonomi tidak boleh hanya dinikmati segelintir orang, melainkan harus mampu meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat. Gagasan ekonomi kerakyatan yang diperjuangkannya masih menjadi salah satu fondasi penting dalam sistem perekonomian Indonesia hingga kini.
Kelebihan dan Kekurangan
Salah satu bagian paling menarik dalam buku ini adalah kisah mengenai integritas Bung Hatta. Salman Alfarizi menceritakan bagaimana Hatta memegang teguh prinsip bahwa kepentingan negara harus berada di atas kepentingan pribadi.
Ketika pemerintah melakukan kebijakan pemotongan nilai uang, istrinya, Rahmiati Rachim, sempat kecewa karena tabungan keluarga ikut terdampak. Namun Hatta menjawab dengan tegas bahwa rahasia negara tidak boleh digunakan demi kepentingan keluarganya sendiri. Kisah sederhana tersebut memperlihatkan betapa besar komitmennya terhadap etika sebagai pejabat negara.
Pada 1956, Hatta mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden karena memiliki perbedaan pandangan politik dengan Soekarno. Meski demikian, hubungan pribadi keduanya tetap terjaga dengan baik. Setelah tidak lagi berada di pemerintahan, Hatta lebih banyak mengabdikan diri sebagai akademisi, penulis, dan pemikir bangsa. Ia menghasilkan berbagai karya mengenai ekonomi, politik, demokrasi, hingga filsafat, serta mengajar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Secara keseluruhan, Mohammad Hatta: Biografi Singkat 1902–1980 bukan sekadar buku sejarah, melainkan juga refleksi mengenai pentingnya integritas, kecerdasan, dan pengabdian dalam kehidupan berbangsa. Di tengah tantangan Indonesia saat ini, sosok Bung Hatta mengingatkan bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari kemewahan atau kekuasaan, tetapi dari keberanian menjaga amanah dan mendahulukan kepentingan rakyat.
Identitas Buku
- Judul: Mohammad Hatta
- Penulis: Salman Alfarizi
- Editor: Abdul Qodir Shaleh
- Penerbit: Garasi House of Book
- Tahun Terbit: 2009
- Tebal: 244 halaman
- ISBN: 979-25-4533-6
- Kategori: Non Fiksi, Biografi, Sejarah
Baca Juga
-
Keinginan Remaja vs Orang Tua dalam How Could You Do This to Me, Mum?
-
Mawar Merah Matahari: Aksi Seru si Gadis Pembunuh Bayaran Mencegah Perang
-
Kalau Standarnya Cuma "Daripada Dikorupsi", Semua Program Terlihat Bagus
-
Berbagi Kisah & Harapan: Ketika Menagih Pajak Tidak Sekadar Soal Angka
-
Teropong Pendidikan Kita: Membaca Wajah Pendidikan Indonesia 2006-2007
Artikel Terkait
-
Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna: Teman Teduh Memeluk Kerapuhan
-
Hospitality: Seni Memanusiakan Pelanggan di Tengah Persaingan Bisnis
-
Ketika Darah Rakyat Mengakhiri Takhta: Sumatera dalam Kacamata Anthony Reid
-
Saat Sampul Manis Menyembunyikan Thriller Psikologis: Ulasan The Arson Project
-
Dari Fort Du Bus hingga Trikora: Membaca Papua dari Arsip Kolonial
Ulasan
-
Bedah Makna Video Musik 'Masih Ada Cahaya': Saat Kegelapan Bertemu Harapan
-
Denyut Tradisi Bali dalam Bait-Bait 'Saiban' Karya Oka Rusmini
-
10 Momen Kece yang Wajib Kamu Tahu sebelum Nonton Spider-Man: Brand New Day
-
Review House of the Dragon Season 3: Hancurnya Moralitas Para Penguasa!
-
Keinginan Remaja vs Orang Tua dalam How Could You Do This to Me, Mum?
Terkini
-
Sering Diabaikan, 4 Kebiasaan Sepele Ini Bikin Laptop Cepat Rusak!
-
Kontradiksi Era Digital: Mau Merdeka Finansial tapi Masih Pakai Paylater
-
Trailer Utama Film Made in Abyss Part 1 Ungkap Lagu Tema dan Karakter Baru
-
4 Acne Micellar Water Bebas Alkohol, Rawat Kulit Berjerawat Tanpa Iritasi
-
Menjaga Tradisi, Menggerakkan Desa: Perjalanan Kang Edai di Kemiren