Novel sejarah biasanya identik dengan perang atau tokoh-tokoh besar. Namun, Daughters of the Sun and Moon karya Lisa See memilih sudut pandang yang berbeda.
Novel berbahasa Inggris ini mengisahkan kehidupan tiga imigran perempuan Tionghoa yang berjuang bertahan hidup di tengah diskriminasi, kekerasan, dan tragedi berdarah yang benar-benar terjadi di Los Angeles pada 1871.
Melalui kisah mereka, Lisa See mengangkat kembali Chinese Massacre of 1871, salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah Amerika Serikat yang selama ini jarang tersorot publik.
Hasilnya bukan sekadar novel, melainkan cerita yang emosional sekaligus membuka mata tentang kehidupan para imigran Tionghoa pada masa itu.
Sinopsis
Cerita Daughters of the Sun and Moon berfokus pada Moon, Dove, dan Petal, tiga perempuan Tionghoa yang berasal dari latar belakang berbeda tetapi disatukan oleh takdir di Los Angeles pada 1870 silam.
Moon merupakan istri seorang tabib pengobatan tradisional Tiongkok. Berpendidikan dan mampu berbahasa Inggris, ia menjadi salah satu perempuan yang cukup dihormati di komunitasnya. Namun, kehidupannya tetap dibatasi oleh tradisi dan pandangan masyarakat terhadap perempuan.
Berbeda dengan Moon, Dove datang dari keluarga terpandang di Tiongkok. Di usia 17 tahun, ia dikirim ke Amerika untuk menikah dengan seorang saudagar kaya yang belum pernah ditemuinya. Ia membayangkan kehidupan rumah tangga yang bahagia, tetapi kenyataan yang menantinya justru jauh dari harapan.
Sementara Petal berasal dari keluarga miskin yang menjualnya demi bertahan hidup. Setibanya di Amerika, ia dipaksa bekerja di rumah bordil milik pemimpin kelompok kriminal Tionghoa. Sejak saat itu, satu-satunya impian Petal hanyalah memperoleh kebebasan atas hidupnya sendiri.
Pertemuan ketiga perempuan tersebut menjadi awal dari persahabatan yang tumbuh di tengah situasi penuh ketidakpastian.
Saat ketegangan terhadap komunitas Tionghoa kian meningkat dan konflik antargeng terus memanas, mereka harus berjuang menghadapi dunia yang nyaris tidak memberi ruang bagi perempuan untuk menentukan nasibnya sendiri.
Ulasan
Dalam novel Daughters of the Sun and Moon, Lisa See tidak menghadirkan tokoh yang sepenuhnya baik atau buruk. Moon, Dove, dan Petal memiliki kepribadian, ketakutan, serta cara bertahan hidup yang berbeda sehingga ketiganya terasa hidup.
Petal menjadi karakter yang paling saya sorot. Perjalanannya dipenuhi penderitaan, tetapi ia tidak pernah kehilangan keinginan untuk mendapatkan kebebasan.
Moon tampil sebagai sosok yang bijaksana sekaligus menjadi benang merah cerita, sedangkan Dove memperlihatkan bagaimana kepolosan perlahan berubah setelah dihadapkan pada kenyataan hidup yang kejam.
Novel ini juga berhasil menggambarkan bagaimana perempuan Tionghoa pada masa itu diperlakukan layaknya barang yang bisa dibeli, dijual, atau ditukar.
Diskriminasi rasial terhadap komunitas Tionghoa berpadu dengan penindasan terhadap perempuan, membuat setiap keputusan para tokohnya terasa begitu berat.
Meski mengangkat banyak tema kelam seperti rasisme, perdagangan manusia, kekerasan seksual, hingga konflik antargeng, Lisa See tidak menjadikan penderitaan sebagai satu-satunya fokus cerita.
Di balik semua itu, novel ini juga berbicara tentang persahabatan, keberanian, serta kemampuan seseorang untuk tetap bertahan ketika dunia terus berusaha menghancurkannya.
Teknik penceritaan melalui beberapa sudut pandang membuat cerita terasa lebih kaya. Pembaca tidak hanya melihat peristiwa dari satu sisi, tetapi juga memahami bagaimana status sosial dan pengalaman hidup membentuk cara masing-masing tokoh memandang dunia.
Latar sejarahnya pun menjadi nilai tambah. Los Angeles pada akhir abad ke-19 digambarkan dengan begitu detail sehingga pembaca seolah ikut menyusuri kawasan Pecinan yang dipenuhi ketegangan, konflik antargeng, dan sentimen anti-Tionghoa yang terus membesar hingga memuncak pada tragedi Chinese Massacre of 1871.
Bagi kalian yang suka membaca novel sejarah dengan tema persahabatan, perjuangan perempuan, dan kisah yang emosional, Daughters of the Sun and Moon bisa menjadi pilihan.
Baca Juga
-
Resmi Tayang, Film Supergirl Raup 13 Juta Dolar di Box Office Global
-
Diadaptasi dari Novel Klasik, Serial The Doll Siap Tayang September 2026
-
Mahershala Ali Bintangi Your Mother Your Mother Your Mother, Ini Teasernya
-
Masuki Babak Baru, Serial The Monster of Florence Season 2 Resmi Digarap
-
Perdana Tayang, House of the Dragon S3 Raih 21,5 Juta Penonton dalam 3 Hari
Artikel Terkait
-
Novel Tiga Sandera Terakhir, Aksi Operasi Penyelamatan Sandera di Papua
-
Kafe Ajaib yang Memasak Impian: Fantasi Epik yang Menyuntik Semangat Mimpi!
-
Jingga untuk Sandyakala Part 2: Penutup Manis Perjalanan Panjang Ari-Tari
-
Djed Spence Ukir Sejarah di Piala Dunia 2026: Muslim Pertama Timnas Inggris
-
Membaca Papua Lewat Memoria Passionis: Catatan Luka dari Timur Nusantara
Ulasan
-
Film Religi atau Drama Air Mata? Membaca Ulang Kehormatan di Balik Kerudung
-
Hidden Gem di Muara Bulian: Menikmati Kuliner Lezat di Tepi Sungai Bujang
-
Resensi Film Dokumenter Syekh Yusuf: Ziarah Panjang Sang Sufi
-
She's the Man: Film Komedi Romantis yang Mengkritik Stereotip Gender
-
Branding in Seongsu: Kisah Body Swap di Balik Sengitnya Dunia Marketing
Terkini
-
Melihat Bukan Lagi Berarti Percaya: Mengapa Era Deepfake Adalah Ancaman Nyata bagi Realitas Kita
-
4 Capsule Cream Vitamin C yang Bikin Kulit Auto Cerah dan Glowing
-
Bukan Sekadar Sepak Bola: Alasan Gen Z Tak Mau Ketinggalan Nobar Piala Dunia
-
Sekolah Rakyat: Solusi Kemiskinan atau Sekadar Program Jangka Pendek?
-
Jika FIFA Bertindak Tegas, Kuota AFC di Piala Dunia Bisa Berkurang Gegara Tim-Tim Arab!