Hayuning Ratri Hapsari | Athar Farha
Scene dalam Series Avatar: The Last Airbender (Netflix)
Athar Farha

Membuat adaptasi dari sebuah karya yang sudah fenomenal barangkali menjadi salah satu pekerjaan paling sulit di industri hiburan. Terlalu setia pada materi asli sering dianggap nggak menawarkan sesuatu yang baru. Sebaliknya, jika terlalu banyak berubah, para penggemar lama akan merasa kehilangan ‘rasa’ yang membuat karya tersebut dicintai sejak awal.

Dilema itulah yang kembali dihadapi Series Avatar: The Last Airbender Season 2 yang tayang di Netflix pada 25 Juni 2026. Musim keduanya dipimpin oleh showrunner Christine Boylan dan Jabbar Raisani, dengan Raisani, Anu Menon, Amit Gupta, serta Hiromi Kamata bergantian mengarahkan episode-episodenya. Series ini diproduksi Netflix bersama Nickelodeon dan Rideback.

Deretan pemerannya kembali diisi Gordon Cormier sebagai Aang, Kiawentiio sebagai Katara, Ian Ousley sebagai Sokka, Dallas Liu sebagai Zuko, Paul Sun-Hyung Lee sebagai Iroh, Daniel Dae Kim sebagai Ozai, serta Elizabeth Yu sebagai Azula. Musim kedua juga memperkenalkan Miya Cech sebagai Toph Beifong, karakter yang paling dinanti penggemar. 

Ceritanya melanjutkan perjalanan Aang setelah pertempuran di Kutub Utara. Demi memenuhi takdir sebagai Avatar, dia harus mempelajari pengendalian tanah. Bersama Katara dan Sokka, perjalanannya membawa mereka menuju Kerajaan Bumi hingga akhirnya tiba di Ba Sing Se. 

Di sisi lain, Zuko dan Iroh hidup sebagai pengungsi sambil menghindari kejaran Negara Api, sementara Azula mulai menjalankan misinya sendiri yang jauh lebih berbahaya. Di balik megahnya Ba Sing Se, Team Avatar perlahan menyadari bahwa musuh terbesar nggak selalu datang dari luar tembok kota, melainkan dari intrik politik dan manipulasi yang tersembunyi di dalamnya.

Menarik banget, bukan? 

Visual dan Perbedaan Adaptasi

Scene dalam Series Avatar: The Last Airbender (Netflix)

Bicara soal kualitas, menurutku musim kedua memang mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Visual pengendalian elemen lebih meyakinkan, koreografi pertarungan jauh lebih rapi, dan chemistry antarpemain terbilang jauh natural dibanding musim pertamanya. Miya Cech sebagai Toph pun berhasil mencuri perhatian tanpa terlihat berusaha meniru versi animasi mentah-mentah.

Namun, apakah adaptasi memang harus selalu setia pada sumber aslinya?

Selama bertahun-tahun, banyak orang menganggap ukuran keberhasilan adaptasi adalah seberapa mirip hasil akhirnya dengan karya asli. Padahal, menurutku pandangan itu terlalu bias. 

Film atau series semacam live action bukanlah animasi. Durasi berbeda. Bahasa visual berbeda. Cara bercerita pun berbeda. Hal-hal yang bekerja sangat baik dalam animasi belum tentu menghasilkan emosi yang sama ketika dipindahkan ke medium yang lebih sempit. 

Musim kedua Series Avatar: The Last Airbender memahami hal tersebut. Series ini jelas nggak sekadar menyalin adegan demi adegan. Beberapa urutan cerita diubah, sejumlah alur digabung, bahkan beberapa momen ikonik dihilangkan demi menjaga ritme tujuh episode yang dimiliki musim ini. Keputusan itu jelas berani, sekaligus mengundang perdebatan.

Sebenarnya aku bisa memahami alasan kreatif di balik perubahan tersebut. Nggak mungkin seluruh isi animasinya dari Book Two: Earth banyak episode itu dipindahkan begitu saja ke dalam live action dengan durasi yang jauh lebih terbatas.

Namun, sebagai penikmat animasinya, aku juga merasakan beberapa perubahan membuat perkembangan karakter kehilangan napas. Ada hubungan antar tokoh yang belum sempat tumbuh, tapi cerita sudah keburu berpindah menuju konflik berikutnya. Akibatnya, beberapa adegan yang seharusnya emosional malah nggak menghantam sekeras versi animasi.

Inilah tantangan terbesar sebuah adaptasi. Yup, kesetiaan bukan selalu soal menyalin adegan, melainkan menjaga jiwa cerita.

Jika sebuah adegan diubah tapi tetap menghasilkan emosi yang sama, menurutku perubahan tersebut bukanlah masalah. Sebaliknya, jika perubahan malah menghilangkan makna yang selama ini menjadi fondasi cerita, wajar apabila penggemar merasa kecewa.

Nah, mungkin memang sudah waktunya kita berhenti menilai adaptasi hanya dari seberapa mirip hasil akhirnya dengan materi asli. Film atau series hasil adaptasi seharusnya diberi ruang untuk bernapas sebagai karya baru. Selama tetap menghormati karakter, tema, dan pesan utama yang membuat orang jatuh cinta pada sumber aslinya, perubahan bukanlah dosa.

Series Avatar: The Last Airbender Season 2 memang belum sempurna. Masalah pacing masih terasa, beberapa perubahan cerita akan terus memecah pendapat penggemar, dan tentu saja series ini belum mampu melampaui pesona animasinya.

Namun, musim kedua membuktikan satu hal penting. Adaptasi nggak harus menjadi fotokopi. Sekian dan selamat menonton.