The Death of Robin Hood merupakan film thriller-drama yang disutradarai dan ditulis oleh Michael Sarnoski, diproduksi oleh A24. Film ini menawarkan adaptasi gelap dari balada abad ke-17 berjudul Robin Hood's Death, dengan Hugh Jackman memerankan Robin Hood yang telah tua dan penuh penyesalan.
Dibintangi juga oleh Jodie Comer sebagai Suster Brigid, Bill Skarsgård sebagai Little John, serta Murray Bartlett dan Noah Jupe dalam peran pendukung, film ini berjalan selama sekitar 122 menit dengan rating R karena kekerasan berdarah yang kuat.
Film ini tayang perdana di Amerika Serikat pada 19 Juni 2026 dan masuk ke bioskop Indonesia mulai 3 Juli 2026, didistribusikan oleh Prima Cinema Multimedia. Penonton di Indonesia dapat menyaksikannya di jaringan seperti Cinema XXI, CGV, Cinepolis, dan bioskop lainnya.
Pertemuan Sang Pembunuh Tua dan Suster Brigid
Berbeda dengan adaptasi Robin Hood sebelumnya yang penuh petualangan heroik dan romansa, The Death of Robin Hood menghadirkan versi yang lebih realistis, suram, dan introspektif. Cerita berfokus pada Robin Hood yang kini hidup dalam pengasingan diri, diteror oleh masa lalunya sebagai penjahat yang telah membunuh banyak orang.
Setelah terluka parah dalam pertempuran terakhirnya, ia mencari perlindungan di sebuah priory terpencil. Di sana, ia bertemu dengan Suster Brigid yang penuh kasih dan seorang gadis yatim piatu, yang memaksanya menghadapi mitos yang selama ini membentuk identitasnya.
Sutradara Michael Sarnoski berhasil membangun narasi yang lambat namun mendalam, mengeksplorasi tema penebusan dosa, warisan, dan konsekuensi kekerasan. Hugh Jackman memberikan penampilan yang luar biasa, mengubah citra karismatiknya menjadi seorang pria tua yang rapuh, penuh dendam, dan haus penebusan.
Ekspresi wajahnya yang penuh keraguan serta interaksinya dengan karakter pendukung menjadi kekuatan utama film. Jodie Comer juga memukau sebagai Suster Brigid, membawa nuansa ketenangan dan kekuatan moral yang kontras dengan kegelapan Robin. Bill Skarsgård sebagai Little John menambah kedalaman emosional pada hubungan persahabatan yang rumit.
Review Film The Death of Robin Hood
Secara visual, film ini memanfaatkan lokasi syuting di alam liar Northern Ireland dengan sinematografi yang indah dan dingin. Adegan-adegan pertarungan dirancang realistis, tanpa glamorisasi, menunjukkan kekejaman perang dan banditry di era abad pertengahan. Skor musik yang minimalis mendukung suasana kontemplatif, sementara desain produksi priory menciptakan kontras antara kedamaian rohani dan kekacauan batin Robin.
Salah satu adegan paling mengharukan terjadi di paruh kedua film, ketika Robin yang menyembunyikan identitas aslinya sebagai Randolph berinteraksi dengan Margaret, putri Little John. Dalam sebuah momen intim di priory, Robin yang biasanya dingin dan sinis mulai membuka diri. Ia menceritakan kisah-kisah masa lalunya sambil merawat gadis kecil itu, yang melihatnya sebagai figur ayah.
Adegan ini penuh dengan dialog sederhana namun menyentuh, di mana penyesalan Robin atas korban-korban tak berdosa yang pernah ia bunuh terungkap melalui air mata yang tertahan. Hugh Jackman dan aktris cilik yang memerankan Margaret menyampaikan chemistry yang autentik, membuatku dan penonton yang lain merasakan beban emosional seorang pria yang kehilangan segalanya demi legenda palsu. Adegan ini bukan hanya tentang kesedihan, melainkan juga tentang harapan kecil akan hubungan manusiawi di tengah kehancuran. Sampai sampai saat aku keluar bioskop sudah metes aja air mata di pipi, ya karena kedalaman introspeksinya sih.
Bagian yang paling membekas di ingatanku setelah menonton film ini adalah saat Robin akhirnya berhadapan langsung dengan masa lalunya, terutama ketika ia harus menerima dampak dari segala perbuatannya di masa lalu. Tanpa mengungkap detail plot, adegan ini menggabungkan elemen aksi brutal dengan refleksi filosofis yang kuat. Visualnya yang gelap, disertai dialog yang menusuk tentang apa yang tersisa dari seorang pahlawan ketika mitosnya runtuh, meninggalkan kesan mendalam.
Menurutku sih ini klimaks yang sinis tapi tetap realistis, yang mempertanyakan apakah penebusan benar-benar mungkin bagi seseorang dengan sejarah sebanyak Robin. Bisa dibilang ini adalah salah satu cara Sarnoski mendekonstruksi legenda populer, membuatku mempertanyakan narasi heroik tradisional.
Jadi kesimpulannya, The Death of Robin Hood bukan film hiburan ringan. Ia menuntut perhatian dan refleksi dari penonton. Dengan rating IMDb sekitar 6.4 film ini unggul dalam karakterisasi dan tema, meski ritmenya terlalu lambat. Bagi penggemar drama karakter-driven seperti karya-karya A24 sebelumnya, film ini adalah sajian yang memuaskan. Rating pribadi: 7.5/10. Direkomendasikan bagi yang mencari cerita dewasa tentang penebusan dan warisan, bukan aksi petualangan klasik Robin Hood.
Film ini mengingatkan kita bahwa legenda sering kali menyembunyikan kebenaran yang lebih kelam. Dengan penampilan kuat para aktor dan arahan visioner Sarnoski, The Death of Robin Hood berhasil menjadi catatan akhir yang bermakna bagi seorang ikon abadi. Bagi penonton Indonesia yang baru menyaksikannya hari ini, pengalaman ini patut direnungkan lama setelah lampu bioskop menyala kembali. Jadi, Selamat menonton ya teman-teman online-ku.
Baca Juga
-
Review Film Enola Holmes: Pemberontakan Perempuan di Tengah Norma Sosial
-
Review Film Tuner: Thriller yang Menyeimbangkan Drama dan Aksi Kriminal!
-
Review Juvenile Justice: Sebuah Pengungkapan Kasus Brutal pada Remaja
-
Little Brother: Meniti Badai Ego dan Perjuangan Menemukan Kedamaian Bersama
-
Review Film Minions & Monsters: Mendobrak Batasan Komedi Lewat Mantra Kuno
Artikel Terkait
Ulasan
-
Fireworks of My Heart: Sajikan Keseharian dan Detail Pemadam Kebakaran
-
The Mummy Tomb of the Dragon Emperor: Plot Krusial, tapi Eksekusi Fatal
-
Review Film Enola Holmes: Pemberontakan Perempuan di Tengah Norma Sosial
-
Ulasan Cold Blooded Intern: Dilema Perempuan antara Karier dan Keluarga
-
Film Pendek Singsot, dari Mitos Menjadi Mimpi Buruk
Terkini
-
Bye Skin Barrier Rusak! 4 Pelembap untuk Kulit Kombinasi tanpa Menyumbat Pori
-
Piala Dunia Tingkatkan Bursa Transfer dan Nilai Pasar Pemain, Benarkah?
-
Tren 'Match My Freak': Saat Kesamaan Jadi Kriteria Hubungan Bagi Gen Z
-
Kisah Vozinha Tembok Cape Verde, Si Kiper yang Buat Lionel Messi Frustrasi
-
Ketika PTN Berubah: Dari Subsidi Negara ke Kemandirian Kampus