Lintang Siltya Utami | Chairun Nisa
Off The Record. (Dok. Pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Awal pertemuan saya dengan buku berjudul Off The Record ini murni karena kesalahan persepsi. Melihat sampulnya yang didominasi warna gelap dan kesan misterius, insting saya langsung menebak bahwa ini adalah novel horor Jepang yang akan membawa saya masuk ke dalam lorong-lorong kelam atau cerita mencekam. Namun, saat saya mulai membalik halaman demi halaman, alih-alih menemukan sosok hantu atau teror psikologis, saya justru terseret ke dalam hiruk-pikuk dapur, restoran, dan perjalanan seorang food vlogger ternama: Ria SW.

Saya bukanlah penonton setia kanal YouTube-nya. Bagi saya, konten makan-makan hanyalah sekadar "tontonan selingan". Namun, Off The Record ternyata menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar ulasan makanan. Buku ini berhasil meruntuhkan dinding pembatas antara penonton dan kreator, memperlihatkan bahwa menjadi seorang food vlogger jauh dari sekadar pergi ke tempat makan, merekamnya, mengunggah video, lalu duduk santai menunggu angka subscribers dan viewers naik.

Ria SW membawa kita menyelami dunia yang tidak pernah tertangkap oleh kamera. Di layar ponsel, kita sering melihat hasil akhir yang estetis: makanan yang tampak lezat, pengambilan gambar yang apik, dan narasi yang ceria. Namun, buku ini adalah antitesis dari kemilau tersebut. Ia bercerita tentang kelelahan, tekanan, dan kejadian-kejadian "gagal" yang justru menjadi bumbu paling jujur dalam kariernya.

Salah satu bab yang paling bagus adalah bagian yang menceritakan proses kreatifnya. Misalnya, saat ia bercerita tentang kegagalannya dalam memasak daging di restoran milik Chef Baek Jong-Won. Alih-alih menyembunyikan kenyataan bahwa ia selalu membuat daging tersebut gosong, Ria justru menuliskannya dengan gaya yang jenaka.

Begitu pula dengan insiden salah sebut alamat "Victoria’s Street" menjadi "Victoria’s Secret" saat bersama rekannya, Ara. Momen-momen konyol seperti ini memberikan dimensi manusiawi yang dalam; mereka bukan sekadar influencer yang sempurna, tetapi individu yang bisa melakukan kesalahan bodoh dan justru menertawakannya bersama.

Lebih dari sekadar buku kuliner, Off The Record menyisipkan refleksi mendalam tentang kehidupan. Bagian monolog dalam buku ini adalah titik balik bagi saya. Ria secara jujur mengakui bahwa ia sendiri masih mempertanyakan definisi "sukses". Ia tidak malu menceritakan bahwa jalan yang ia tempuh saat ini menjadi seorang creator bukanlah rencana awal.

Dahulu, ia bermimpi kuliah di jurusan hukum. Namun, takdir berkata lain; ia justru terjun ke dunia komunikasi karena keputusan ibunya. Cerita ini menjadi pengingat bahwa hidup sering kali membawa kita ke tempat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, dan itu tidak selalu berarti buruk.

Buku ini memiliki visual yang memanjakan mata melalui desain colorful dan ilustrasi yang ringan namun tetap menyentuh secara emosional. Keunggulan utamanya terletak pada kejujuran Ria SW yang tampil apa adanya tanpa polesan berlebihan, bahkan berani mengungkap sisi gelap dan kegagalan di balik layar.

Selain itu, pesan inspiratifnya disampaikan secara hangat tanpa kesan menggurui, menekankan bahwa kesuksesan adalah definisi personal bagi setiap orang dan kegagalan hanyalah bagian dari proses yang harus tetap dilalui.

Sebagai penutup, Off The Record adalah bukti bahwa kita tidak perlu menjadi penggemar berat sebuah topik untuk menikmati kisahnya. Ria SW mengajarkan bahwa di balik setiap konten yang kita tonton selama sepuluh atau dua puluh menit di YouTube, ada ribuan menit kerja keras, tawa, air mata, dan perjalanan panjang yang tak pernah tersampaikan. Jika Anda sedang mencari bacaan yang jujur, menghibur, dan bisa memberikan semangat baru untuk mengejar impian, buku ini adalah teman yang sangat tepat.

Identitas Buku

Judul: Off The Record
Penulis: Ria SW
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 224 Halaman