Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Setiap kali Eka Kurniawan menerbitkan karya baru, perhatian pembaca sastra Indonesia hampir selalu tertuju kepadanya. Setelah dikenal melalui novel-novel seperti Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau, Eka kembali menghadirkan karya yang memancing renungan melalui Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong. 

Novel yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada 19 Juli 2024. Dengan ketebalan sekitar 135 halaman dan ISBN 9786020673851, buku ini menawarkan kisah yang ringkas, tetapi sarat dengan pertanyaan filosofis tentang agama, tradisi, keluarga, dan pencarian jati diri.

Sinopsis Novel

Tokoh utama novel ini adalah Sato Reang, seorang anak yang sejak usia tujuh tahun telah dibebani harapan menjadi "anak saleh". Kalimat sederhana dari ayahnya, "Sudah saatnya kau menjadi anak saleh," menjadi titik awal pergulatan batin yang terus berkembang hingga masa remajanya. Alih-alih menerima ajaran tersebut begitu saja, Sato justru mempertanyakan hampir semua hal yang dianggap wajar oleh lingkungan sekitarnya.

Dari sinilah kekuatan utama novel ini muncul. Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong bukanlah kisah tentang pemberontakan fisik, melainkan pemberontakan cara berpikir. Sato Reang mempertanyakan mengapa seseorang harus menjalankan kebiasaan tertentu hanya karena "memang dari dulu begitu". Pertanyaan-pertanyaan yang tampak lugu itu sesungguhnya mengandung kritik terhadap tradisi yang sering diwariskan tanpa penjelasan yang memadai.

Melalui sudut pandang seorang anak, Eka Kurniawan menggambarkan bagaimana masyarakat kerap meminta kepatuhan tanpa memberi ruang bagi rasa ingin tahu. Orang dewasa memberikan perintah, sementara anak-anak diharapkan mengikuti tanpa banyak bertanya. Dalam situasi seperti itulah Sato tumbuh menjadi sosok yang gelisah, kritis, dan sering kali berseberangan dengan lingkungan tempat ia dibesarkan.

Kelebihan dan Kekurangan

Salah satu aspek menarik dari novel ini adalah teknik penceritaannya. Eka sengaja memainkan batas antara sudut pandang orang pertama dan orang ketiga. Dalam satu bagian pembaca menemukan narasi "ia", sementara pada bagian lain tokoh utama berbicara sebagai "aku".

Pergantian ini bukan sekadar eksperimen gaya, melainkan cara untuk menunjukkan kedekatan sekaligus keterasingan Sato terhadap dirinya sendiri. Pembaca diajak masuk ke dalam arus kesadaran tokoh utama yang riuh, penuh amarah, kebingungan, dan refleksi.

Karakter Sato Reang juga mengingatkan sebagian pembaca pada tokoh Holden Caulfield dalam novel The Catcher in the Rye karya J.D. Salinger. Keduanya sama-sama menghadapi masa transisi menuju kedewasaan dengan sikap sinis terhadap dunia orang dewasa. Namun, Sato tetap memiliki identitas yang khas karena pergulatannya sangat lekat dengan konteks sosial dan budaya Indonesia.

Judul novel ini sendiri merupakan alegori yang kuat. Seekor anjing yang mengeong dan seekor kucing yang menggonggong menggambarkan sesuatu yang berjalan di luar kebiasaan. Simbol tersebut merepresentasikan Sato Reang yang menolak mengikuti pola pikir mayoritas. Bahkan dalam penggunaan bahasa, Eka Kurniawan sengaja mencampurkan latar waktu era 1990-an dengan kosakata yang populer di masa kini. Pilihan ini mempertegas semangat novel yang tidak tunduk pada konvensi.

Pesan Moral

Di balik gaya bertuturnya yang jenaka dan kadang kasar, novel ini sesungguhnya membahas tema yang serius. Sato mempertanyakan makna kesalehan, hubungan anak dengan orang tua, serta bagaimana norma sosial membentuk identitas seseorang. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak selalu dijawab secara gamblang. Justru pembaca diberi ruang untuk menyusun pemaknaannya sendiri.

Sebagian pembaca mungkin menganggap novel ini lebih ringan dibanding karya-karya besar Eka sebelumnya. Ada pula yang merasa penyelesaian ceritanya tidak sekuat ekspektasi. Namun, sebagai karya yang berdiri sendiri, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong tetap menawarkan pengalaman membaca yang unik. Novel ini mengajak pembaca melihat bahwa keberanian bertanya bukanlah bentuk pembangkangan semata, melainkan bagian dari proses memahami kehidupan.

Pada akhirnya, novel ini tidak mengajak pembaca menolak tradisi ataupun keyakinan. Yang ditawarkan Eka Kurniawan justru sebuah ajakan untuk tidak berhenti pada kebiasaan. Tradisi akan memiliki makna yang lebih dalam apabila dijalankan dengan pemahaman, bukan sekadar karena diwariskan.

Melalui sosok Sato Reang, pembaca diajak menyadari bahwa setiap manusia, cepat atau lambat, akan sampai pada fase ketika ia perlu bertanya bukan hanya tentang apa yang harus dilakukan, tetapi juga mengapa hal itu perlu dilakukan.

Identitas Buku

  • Judul: Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong
  • Penulis: Eka Kurniawan
  • Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit: 19 Juli 2024
  • Tebal: 148 halaman
  • ISBN: 9786020673851