Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Indonesia dan Masa Lalunya (Dok. Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Sejarah sering dipahami sebagai kumpulan fakta tentang masa lampau. Padahal, sejarah juga merupakan cara suatu bangsa memahami dirinya sendiri. Peristiwa yang dipilih untuk dikenang, tokoh yang diangkat menjadi pahlawan, hingga kerajaan yang dijadikan simbol kejayaan, semuanya merupakan hasil dari proses penafsiran.

Gagasan inilah yang menjadi benang merah buku Indonesia dan Masa Lalunya yang disunting oleh Anthony Reid dan David Marr. Buku yang diterbitkan oleh Mata Bangsa ini merupakan adaptasi dari karya berbahasa Inggris Perceptions of the Past in Southeast Asia.

Edisi Indonesia terbit kembali pada 2022 dengan kata pengantar sejarawan Sartono Kartodirdjo. Memiliki sekitar 318 halaman, buku ini menghimpun delapan esai dari sejumlah sejarawan terkemuka yang membahas bagaimana masa lalu Indonesia direkonstruksi untuk membentuk identitas nasional.

Isi Buku

Alih-alih menyajikan kronologi sejarah, buku ini mengajak pembaca memahami bagaimana sejarah ditulis, dimaknai, dan bahkan digunakan untuk mendukung cita-cita politik serta kebangsaan. Dengan demikian, pembaca diajak melihat bahwa sejarah bukanlah narasi yang sepenuhnya netral, melainkan selalu dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, dan politik pada zamannya.

Salah satu gagasan menarik dalam buku ini adalah bahwa negara-negara baru, termasuk Indonesia, membutuhkan narasi sejarah sebagai fondasi identitas bersama. Setelah merdeka, Indonesia tidak hanya harus membangun pemerintahan, tetapi juga membangun kesadaran bahwa masyarakat yang sangat beragam ini merupakan satu bangsa. Dalam proses itulah sejarah menjadi instrumen penting.

Anthony Reid, melalui esainya Jejak Nasionalis Indonesia Mencari Masa Lampaunya, menjelaskan bahwa para tokoh nasional memiliki cara pandang yang berbeda dalam mencari akar sejarah Indonesia. Ada yang melihat Indonesia sebagai kelanjutan dari wilayah bekas Hindia Belanda, sementara yang lain menelusuri legitimasi kebangsaan melalui kejayaan kerajaan-kerajaan Nusantara, khususnya Majapahit. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa sejarah selalu menjadi ruang dialog mengenai identitas nasional.

Buku ini juga menghadirkan tulisan Benedict Anderson yang membahas perubahan pemikiran kaum nasionalis Indonesia. Anderson memperlihatkan bagaimana gagasan tentang bangsa tidak lahir begitu saja, melainkan berkembang melalui proses panjang yang dipengaruhi pendidikan, kolonialisme, dan dinamika politik. Nasionalisme Indonesia, menurut pembahasan dalam buku ini, merupakan hasil konstruksi intelektual yang terus mengalami perkembangan.

Kelebihan dan Kekurangan

Perspektif lain datang dari Deliar Noer, yang membandingkan pandangan Muhammad Yamin dan Hamka dalam memaknai identitas Indonesia. Jika Yamin banyak menekankan warisan kejayaan Majapahit sebagai simbol persatuan Nusantara, Hamka justru melihat Islam sebagai salah satu fondasi penting pembentukan identitas bangsa.

Perbedaan ini memperlihatkan bahwa sejarah Indonesia tidak dibangun hanya dari satu sumber inspirasi, melainkan dari beragam tradisi intelektual.

Keberagaman perspektif semakin diperkaya melalui tulisan Barbara Watson Andaya, Virginia Matheson, dan Leonard Y. Andaya, yang mengangkat tradisi Melayu serta sejarah kawasan di luar Jawa. Kehadiran tulisan-tulisan tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah Indonesia tidak hanya berpusat pada Pulau Jawa. Berbagai wilayah lain di Nusantara juga memiliki pengalaman sejarah yang sama pentingnya dalam membentuk Indonesia modern.

Selain itu, buku ini memuat tulisan Ruth T. McVey mengenai pengaruh pemikiran revolusioner dan komunisme dalam sejarah Indonesia. Esai tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan sejarah Indonesia juga dipengaruhi oleh arus pemikiran global yang masuk melalui kolonialisme dan pergerakan politik internasional.

Rekomendasi Pembaca

Yang membuat buku ini tetap relevan hingga sekarang adalah kemampuannya mengajak pembaca berpikir kritis terhadap historiografi Indonesia. Ketika Indonesia menghadapi berbagai perubahan, seperti pembangunan ibu kota baru, penguatan identitas daerah, hingga upaya memperkaya narasi sejarah nasional, pertanyaan mengenai siapa yang menulis sejarah dan untuk tujuan apa menjadi semakin penting.

Meskipun beberapa tulisan menggunakan bahasa akademik yang cukup padat, keseluruhan buku memberikan wawasan yang kaya bagi pembaca yang ingin memahami sejarah Indonesia dari sudut pandang yang lebih luas. Buku ini tidak menawarkan jawaban tunggal tentang masa lalu, melainkan memperlihatkan bahwa sejarah adalah arena perdebatan, negosiasi, dan pencarian makna.

Pada akhirnya, Indonesia dan Masa Lalunya menunjukkan bahwa masa lalu bukan sekadar sesuatu yang telah berlalu. Cara kita memahami sejarah akan memengaruhi cara kita membangun masa depan.

Dengan membaca buku ini, pembaca diajak menyadari bahwa identitas Indonesia tidak lahir dari satu kisah, satu tokoh, atau satu wilayah, melainkan dari perjumpaan berbagai pengalaman sejarah yang bersama-sama membentuk bangsa yang majemuk.

Identitas Buku

  • Judul Buku: Indonesia dan Masa Lalunya
  • Editor/Penyunting: Anthony Reid dan David Marr
  • Kata Pengantar: Sartono Kartodirdjo
  • Penerbit: Mata Bangsa
  • Tahun Terbit: 2022 
  • Tebal: xxvi + 292 halaman 
  • ISBN: 978-979-9471-34-5