Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Salah satu adegan di serial Musafir Cafe (IMDb)
Ryan Farizzal

Musafir Cafe adalah serial drama romantis India yang tayang di Netflix mulai 24 Juli 2026. Serial delapan episode ini diadaptasi dari novel Divya Prakash Dubey, ditulis dan digarap oleh Sharanya Rajgopal, serta disutradarai Ruchir Arun. Diproduksi oleh Terribly Tiny Tales bersama Homemade Stories (banner produksi debut Vikrant Massey), serial ini dibintangi Vikrant Massey sebagai Chander Mohan Sharma, Vedika Pinto sebagai Sudha Tripathi, dan Mahima Makwana sebagai Preeti Kaushik, didukung Adil Hussain, Rajeev Siddhartha, Anubha Fatehpuria, Loveleen Mishra, dan Sadiya Siddiqui.

Untuk penonton di wilayah Indonesia, Musafir Cafe sudah bisa streaming di Netflix sejak 24 Juli 2026. Serial ini tersedia global di platform tersebut, sehingga akun Netflix Indonesia bisa langsung menontonnya tanpa menunggu rilis terpisah.

Cerita berjalan dalam dua garis waktu. Di 2018 di Bhopal, Chander, seorang pekerja logistik yang kembali dari Amerika dan masih mencari arah hidup, bertemu Sudha, pengacara perceraian yang mandiri dan ambisius, melalui perjodohan. Mereka awalnya saling menolak, lalu saling tertarik, hingga hidup bersama tanpa komitmen formal. Chander mengimpikan membuka kafe di pegunungan dan membangun keluarga, sementara Sudha lebih fokus karier dan masa depan ibunya.

Delapan tahun kemudian di Mussoorie, Chander telah mewujudkan mimpinya dengan membuka Musafir Cafe bersama Preeti. Mereka saling mencintai dan menjalankan usaha bersama, namun bayang-bayang Sudha masih menempel di hati Chander. Ketika masa lalu dan masa kini bertemu, ketiga tokoh ini harus menghadapi pilihan, penyesalan, dan arti musafir atau pejalan yang saling bersinggungan.

Review Serial Musafir Cafe

Salah satu adegan di serial Musafir Cafe (IMDb)

Kekuatan serial ini terletak pada pendekatan yang tenang dan relatable. Bukan romansa penuh ledakan emosional atau konflik berlebihan, melainkan percakapan sehari-hari, perbedaan nilai, dan momen kecil yang membentuk hubungan. Vikrant Massey kembali menunjukkan sisi romantis yang nuansa, memainkan Chander yang pendiam, introspektif, dan mudah tersentuh. Vedika Pinto mencuri perhatian sebagai Sudha yang berapi-api, jenaka, dan keras kepala—karakter yang terasa modern tanpa dipaksa. Mahima Makwana memberikan kehangatan sebagai Preeti yang stabil dan penuh pengertian, meski karakternya kurang digali dibanding dua yang lain. Latar Bhopal dan Mussoorie difilmkan indah tanpa terasa seperti iklan wisata, sementara musik latar yang lembut serta dialog-dialog cerdas menambah kenyamanan menonton.

Serial ini mengeksplorasi tema yang dekat dengan kehidupan nyata: apakah cinta cukup tanpa keselarasan tujuan hidup? Bagaimana seseorang bergerak maju tanpa penutup yang jelas? Dan apakah teman seperjalanan yang tepat adalah yang membakar semangat atau yang memberi ketenangan? Penulisan yang lembut membuatku merasakan keraguan para tokoh, bukan sekadar menyalahkan satu pihak. Akan tetapi, ada kekurangan. Hubungan Chander-Preeti kurang divisualisasikan sehingga dampak emosionalnya lebih lemah dibanding kisah masa lalu. Beberapa subplot pendukung terasa setengah matang, dan ending yang menggantung (cliffhanger) mungkin membuatku kurang puas, terutama karena serial ini justru banyak membicarakan soal penutup.

Salah satu adegan paling romantis terjadi di fase awal hubungan Chander dan Sudha di Bhopal. Setelah beberapa pertemuan tak terduga—termasuk saat Sudha menyelamatkan Chander dari kencan yang membosankan dengan cara yang kocak—mereka menghabiskan waktu berjam-jam bercakap di kafe dan jalanan kota. Momen ketika mereka mulai hidup bersama, dengan kehangatan sederhana di apartemen Chander, terasa intim dan alami. Ada kelembutan dalam cara mereka saling menerima perbedaan: Chander yang rapi dan terencana, Sudha yang spontan dan berani. Adegan kencan Senin malam menonton teater, atau percakapan ringan yang berubah menjadi pengakuan perasaan, membuatku tersenyum. Bukan ciuman dramatis atau pernyataan cinta bombastis, melainkan rasa nyaman dan ketertarikan yang tumbuh perlahan—justru itu yang membuatnya terasa tulus dan romantis.

Adapun adegan paling emosional muncul saat hubungan mereka mulai retak karena pilihan karier Sudha. Ketika Sudha menerima tawaran kerja yang berarti harus pergi, Chander memohon agar ia tetap tinggal. Ia mendukung mimpinya, tapi rasa cinta membuatnya takut kehilangan. Sudha, di sisi lain, melihat cinta sebagai potensi penghalang menuju kemandirian dan tanggung jawab terhadap ibunya. Ketegangan yang diam-diam, air mata yang tertahan, dan percakapan yang jujur tapi menyakitkan menciptakan momen yang menghantui. Di garis waktu sekarang, saat Sudha muncul kembali di Mussoorie dan Preeti mulai merasakan getaran masa lalu Chander (termasuk menemukan cincin yang sempat disangka untuknya), emosi semakin tebal. Perasaan tidak aman Preeti, kebingungan Chander, dan keputusan yang menggantung di akhir membuatku ikut menahan napas.

Jadi pada akhirnya, Musafir Cafe adalah serial yang tenang, hangat, dan cocok untuk dinikmati perlahan. Ia mengingatkan bahwa kisah cinta yang bermakna tidak selalu sempurna; kadang justru yang mengubah kita. Dengan runtime total sekitar empat jam, serial ini mudah ditonton tanpa terburu-buru. Kalau kamu menyukai romansa dewasa yang fokus pada percakapan, keraguan, dan pencarian jati diri—bukan sekadar happily ever afterMusafir Cafe layak ditonton. Tersedia sekarang di Netflix Indonesia. Yuk, segera streaming! Rating pribadi: 7/10.