"Selama seseorang itu pernah jadi santri, tak peduli seberapa tersesat dia dalam kehidupan, ia tetaplah santri." (Hal. 95)
Rumah adalah kado terbaik dan novel terbaru karya JS Khairen. Uniknya, novel ini saya jadikan kado kelulusan bagi seseorang yang telah menjadi "rumah" bagi saya sendiri.
Pada bulan Desember lalu, penulis yang akrab disapa "abang gondrong" ini memang jorjoran mempromosikannya, bahkan mencatatkan angka penjualan hingga 10.000 eksemplar pada masa pre-order saja.
Sudah banyak pengulas yang membedah Rumah dari sudut emosi, luka batin, dan peliknya arti pulang. Namun, mari kita telisik sisi lain yang lebih krusial: pergulatan batin Griya Zahrotul Jannah alias Ria dan mentalitas kesantriannya. Terlebih, JS Khairen sempat melontarkan strategi pemasaran provokatif bahwa novel ini "menjelek-jelekkan pesantren". Sebuah klaim yang justru memancing rasa penasaran untuk membuktikan validitasnya secara tekstual.
Labirin Kemewahan dan Krisis Eksistensial Ria
Tokoh sentral kita, Ria, adalah potret seorang santri yang kehilangan kompas moral. Ia seorang hafizah yang ironisnya telah meninggalkan salat dan hampir menanggalkan identitas keagamaannya—bahkan nyaris setengah ateis.
Secara materi, Ria berada di puncak rantai keistimewaan. Ia bekerja sebagai luxury travel planner, profesi elit yang melayani perjalanan mewah orang-orang kaya hingga kalangan mafia. Saldo rekeningnya mustahil habis tujuh turunan. Permintaan kliennya kerap tidak masuk akal: mulai dari wisata duyung di laut lepas, pulau terjauh di bumi, hingga perjalanan ke Mars hanya untuk bermain kelereng.
Namun, di balik gemerlap jet set itu, Ria adalah perempuan yang kehilangan rumah secara batiniah. Ia memiliki rumah secara fisik, tetapi konsep "pulang" adalah teror psikologis baginya. Trauma masa lalu mencengkeram kuat: ibunya yang otoritatif mengekang Ria, membatasi ruang geraknya, merampas hasil kerjanya, sementara sang kakak—yang kerap diistimewakan—melenggang mulus meraih cita-citanya.
Puncaknya, usai menamatkan pendidikan di pesantren yang penuh aturan, Ria memberontak total dengan melepas jilbab dan memilih jalan hidupnya sendiri.
Runtuhnya Benteng Kesombongan di Baitullah
Konflik batin ini meledak ketika Ria mendadak kehilangan kendali atas sebuah proyek sederhana: mengatur umrah sekeluarga dan pernikahan di Madinah.
Birokrasi yang biasanya bisa ia tembus dengan mudah mendadak macet total. Di bandara Arab, ia ditahan imigrasi karena salah bicara, sementara mutawif aslinya menghilang.
Di sinilah struktur naratif JS Khairen bekerja efektif—menggunakan pergantian alur maju-mundur dengan simbol visual rumah sebagai pemisah adegan, yang memaksa pembaca untuk meraba kedalaman luka Ria secara perlahan.
Di hadapan Kakbah, seluruh benteng kesombongan Ria runtuh berkeping-keping. Takdir mempertemukannya kembali dengan Sayyid—teman masa kecilnya di pesantren dari keluarga berpengaruh—serta kehadiran Habib Hadar (Habib Ja’far) sebagai mutawif pengganti, dan sang penulis sendiri, Joven (JS Khairen).
Pendakian ke Gua Hira di malam hari menjadi titik balik spiritual yang paling purba. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ria bersujud dalam salat subuh dengan kerinduan yang meletup-letup.
Di tanah suci inilah katarsis terjadi: Ria belajar memaafkan ibunya, ayahnya yang memilih poligami tanpa alasan yang jelas bagi Ria, dan yang terberat, memaafkan dirinya sendiri.
Pertemuannya dengan Zulaikha—calon pengantin wanita berpendidikan S2 luar negeri yang cerdas namun rendah hati—juga menampar kesadaran Ria tentang arti perempuan berdaya yang sesungguhnya.
Menimbang Isu Pesantren: Dekonstruksi atau Kritik?
Lantas, benarkah novel ini menjelek-jelekkan pesantren? Jawabannya terletak pada cara pandang naratifnya. JS Khairen secara jujur memotret trauma Ria terhadap sistem pesantren yang kaku, penuh tekanan, dan dirasanya mengekang kebebasan masa muda.
Namun, di sinilah letak kejeniusan penulis: kritik tersebut tidak dihadirkan untuk mendiskreditkan institusi pesantren secara membabi buta, melainkan sebagai bentuk objektivitas psikologis seorang anak yang memberontak.
Pada akhirnya, ketika Ria terombang-ambing dalam badai kehidupan modern, justru memori-memori tentang disiplin pondok, hafalan Al-Qur'an, dan petuah para ustazah yang selama ini ia benci menjadi pelampung penyelamat hidupnya.
Nasihat-nasihat itu menyelamatkannya dari jurang kehancuran moral yang lebih dalam. Rumah bukan sekadar kisah perjalanan religi biasa.
Ini adalah refleksi tajam tentang bagaimana luka masa kecil, relasi toksik dengan orang tua, dan identitas seorang santri bergesekan dengan modernitas. JS Khairen berhasil meramu kisah ini tanpa nada menggurui yang kaku, menjadikannya bacaan kontemporer yang kaya lapisan makna.
Identitas Buku:
Judul: Rumah
Penulis: JS Khairen
Penerbit: Elex Media Komputindo
ISBN: 9786230076466
Tahun Terbit: 2026
Baca Juga
-
Bedah Isu Plagiarisme Yellowface: Saat Etika Penulis Diuji Habis-Habisan!
-
Menyelimuti 55 Juta Ton Sampah dengan Geomembrane: Solusi Darurat atau Bom Waktu Berbahaya?
-
Dari Lelucon Erotis hingga Arisan Valas: Sisi Lain Kaum Borjuis Tempo Dulu
-
Viral Hair Croissant yang Menjijikkan: Kreativitas atau Pelecehan Berkedok Gimmick?
-
Objektifikasi Tubuh Perempuan di Balik Hair Croissant yang Viral
Artikel Terkait
Ulasan
-
Memaknai Lagu Selesai: Saat Cinta dalam Diam Harus Belajar Melepaskan
-
Tidak Harus Rapi, Inilah Keindahan Taman dalam Buku "The Weedy Garden"
-
Review Buku Navigating Night, Kisah Hangat Keluarga Imigran
-
Review Voicemails for Isabelle: Sebuah Arti Ketulusan Cinta yang Sejati
-
Ulasan Novel Tuan Besar Gatsby: Saat Kekayaan Tak Mampu Membeli Cinta
Terkini
-
Dibalik Tren Padel dan Gym: Kenapa Olahraga Sekarang Jadi Ajang Pamer Gaya Hidup?
-
Pemerintah Adalah Pelayan Publik, Bukan Penguasa yang Kebal Kritik
-
Jepang Harus Belajar dari Indonesia? 4 Hal Ini Buktikan Transportasi Jakarta Lebih "Sat-Set"
-
Kejutkan Publik! Penulis Jepang Keigo Higashino Meninggal Dunia di Usia 68
-
Netflix Buka Suara soal Rumor Produksi Season 2 Drakor Teach You a Lesson