Lintang Siltya Utami | Tarassa Q.
Thunderbolts* (IMDb)
Tarassa Q.

Thunderbolts* menjadi salah satu film Marvel Cinematic Universe (MCU) yang menghadirkan pendekatan berbeda terhadap kisah pahlawan super. Alih-alih berfokus pada sosok pahlawan dengan moral sempurna, film ini mengeksplorasi perjalanan para karakter abu-abu yang memiliki masa lalu kelam. Dirilis pada 2025, film bergenre aksi superhero ini merupakan adaptasi dari kelompok Thunderbolts dalam komik Marvel. Karya produksi Marvel Studios ini menjadi bagian ke-36 dari rangkaian MCU dan diarahkan oleh sutradara Jake Schreier dengan naskah garapan Eric Pearson, Lee Sung Jin, serta Joanna Calo.

Film ini menghadirkan jajaran pemeran populer seperti Florence Pugh sebagai Yelena Belova, Sebastian Stan sebagai Bucky Barnes, David Harbour sebagai Red Guardian, Wyatt Russell sebagai U.S. Agent, Olga Kurylenko sebagai Taskmaster, Lewis Pullman sebagai Bob, Geraldine Viswanathan, Chris Bauer, Wendell Edward Pierce, Hannah John-Kamen, hingga Julia Louis-Dreyfus. Kisahnya mengikuti sekelompok antihero yang terjebak dalam situasi berbahaya dan harus mengesampingkan perbedaan mereka demi bertahan hidup. Film ini tersedia untuk ditonton melalui Disney+ Hotstar dan Prime Video.

Para Antihero yang Terjebak dalam Permainan Berbahaya

Thunderbolts* (IMDb)

Cerita Thunderbolts* berpusat pada Yelena Belova, Bucky Barnes, Red Guardian, serta beberapa karakter lain yang memiliki hubungan rumit dengan dunia kriminal maupun operasi rahasia pemerintah. Mereka bukanlah sosok yang dikenal sebagai penyelamat dunia, melainkan individu dengan luka, rasa bersalah, dan masa lalu yang sulit dilupakan.

Kehidupan Yelena berubah setelah bertahun-tahun menjalankan misi gelap atas perintah Valentina Allegra de Fontaine. Merasa kehilangan tujuan setelah menyelesaikan berbagai pekerjaan rahasia, Yelena kemudian menjadi salah satu korban rencana Valentina. Sang direktur CIA menjebak Yelena bersama U.S. Agent, Taskmaster, dan Ghost dalam sebuah fasilitas tersembunyi bernama Fold. Tempat tersebut dirancang sebagai perangkap untuk membuat mereka saling menghancurkan sekaligus menghilangkan bukti atas tindakan rahasia CIA.

Di dalam fasilitas tersebut, mereka bertemu Bob, seorang pria yang tampak biasa dan kebingungan. Namun, mereka segera mengetahui bahwa Bob merupakan bagian dari eksperimen Project Sentry, sebuah proyek yang berkaitan dengan kekuatan luar biasa. Kehadiran Bob menjadi faktor penting yang mengubah situasi mereka, terutama ketika kekuatannya mulai memperlihatkan sisi yang tidak terkendali.

Ketika menyadari bahwa mereka telah dimanfaatkan oleh Valentina, kelompok Yelena mencoba mencari jalan keluar dari jebakan tersebut. Sementara itu, Bucky Barnes bersama beberapa sekutunya bergerak untuk membantu mereka dari luar. Konflik semakin rumit ketika Valentina berusaha memanfaatkan kekuatan Bob sebagai alat untuk mengendalikan situasi dan menyingkirkan para antihero yang dianggap sebagai ancaman.

Namun, kekuatan besar Bob memiliki konsekuensi. Penolakannya terhadap kendali pihak lain justru memicu munculnya sisi gelap dalam dirinya, yaitu The Void. Entitas tersebut menjadi ancaman besar karena mampu membawa kehancuran dan memanfaatkan ketakutan terdalam setiap orang.

Yelena dan anggota kelompok lainnya akhirnya memasuki ruang batin Bob untuk membantunya menghadapi The Void. Mereka tidak hanya melawan musuh secara fisik, tetapi juga berusaha menyelamatkan seseorang yang kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Setelah berhasil menghadapi konflik tersebut, para karakter yang sebelumnya merasa terasing mulai menemukan arti keluarga baru. Mereka kemudian membentuk kelompok bernama Thunderbolts sebagai tempat bagi orang-orang dengan masa lalu buruk untuk saling mendukung dan memperbaiki diri.

Dinamika Karakter Menjadi Kekuatan Utama

Thunderbolts* (IMDb)

Sebagai penggemar Marvel, saya tentu tidak ingin melewatkan Thunderbolts* meskipun film ini tidak menghadirkan karakter favorit saya. Namun, karena film ini memiliki kaitan dengan konsep multiverse dan kemungkinan terhubung dengan cerita MCU lainnya, saya sempat merasa khawatir jika konflik dalam film ini akan menjadi bagian penting dari alur besar Marvel berikutnya.

Meski begitu, kekhawatiran tersebut perlahan menghilang karena daya tarik utama film ini justru berada pada hubungan antarkarakternya. Interaksi antara para anggota Thunderbolts terasa menarik karena dipenuhi sindiran, perdebatan, humor spontan, dan gaya komedi khas Marvel. Berbagai celetukan di tengah situasi serius membuat film terasa lebih ringan tanpa menghilangkan unsur aksi dan pertarungan yang menjadi ciri khas genre superhero.

Selain karakter, saya juga menyukai pilihan tone warna dalam film ini. Visualnya terasa lebih gelap dan sesuai dengan kondisi emosional para tokoh yang dipenuhi trauma serta konflik batin. Film ini tidak hanya menjual adegan aksi, tetapi juga menghadirkan pesan mengenai penerimaan diri dan proses berdamai dengan kesalahan masa lalu.

Melalui Thunderbolts*, Marvel mencoba menunjukkan bahwa seseorang tidak selalu ditentukan oleh kesalahan yang pernah dilakukan. Para karakter dalam film ini memang jauh dari kata sempurna, tetapi mereka belajar menerima sisi gelap dalam diri mereka dan menghadapi luka yang selama ini mereka sembunyikan.

Film ini juga menggambarkan pentingnya dukungan sosial dalam menghadapi trauma dan rasa bersalah. Proses penyembuhan tidak terjadi secara instan, melainkan membutuhkan keberanian untuk membuka diri serta bantuan dari orang-orang yang memahami perjuangan kita.

Dengan perpaduan aksi, humor, serta perkembangan karakter yang kuat, Thunderbolts* menjadi film MCU yang lebih berfokus pada sisi manusiawi para tokohnya. Walaupun belum menjadi film Marvel terbaik, pengalaman menontonnya tetap memberikan kesan positif. Penilaian saya untuk film ini adalah 7,5/10.