Lintang Siltya Utami | Chairun Nisa
Minimarket yang Merepotkan. (Goodreads )
Chairun Nisa

Di tengah gempuran literasi instan dan bacaan serba cepat, ada kalanya kita merindukan sebuah karya yang tidak sekadar bercerita, tetapi juga membongkar isi kepala pembacanya. Bayangkan sebuah narasi yang memaksa kita melihat sisi-sisi gelap realitas, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai cermin atas apa yang sering kita abaikan dalam keseharian. Novel Minimarket yang Merepotkan karya Kim Ho Yeon, yang diterjemahkan dengan apik oleh Hyacinta Louisa dan diterbitkan oleh Penerbit Haru pada Oktober 2022, hadir membawa warna tersendiri dalam kancah sastra kontemporer. 

Sinopsis

Kisah bermula di Stasiun Seoul, tempat di mana Dokgo, seorang tunawisma paruh baya yang kehilangan ingatan dan hidup tanpa arah, secara tidak sengaja memungut dompet milik Nyonya Yeom, seorang wanita lanjut usia yang mengelola sebuah minimarket lokal yang nyaris sepi. Alih-alih mengabaikannya, Nyonya Yeom justru melihat ketulusan di balik penampilan Dokgo yang berantakan dan menawarinya pekerjaan paruh waktu untuk menjaga shift malam. Keputusan ini awalnya memicu kehebohan dan keraguan dari orang-orang sekitar, mengingat minimarket tersebut dikelola oleh para pekerja dari berbagai latar belakang hidup yang pelik.

Berjalan dari bab ke bab, alur cerita berfokus pada interaksi antara Dokgo dan para pengunjung atau penjaga shift lain di minimarket tersebut. Alih-alih menggunakan plot aksi yang meledak-ledak, penceritaan dipecah melalui sudut pandang berbagai karakter yang membawa persoalan hidupnya masing-masing.

Tanpa disadari, interaksi tersebut berhasil mengubah jalan hidup Dokgo dan nenek pemilik minimarket itu. Ada seorang gadis yang tidak tahu tujuannya ingin menjadi apa di masa depan. Ada seorang ibu yang tidak bisa berkomunikasi dengan sang anak. Ada juga lelaki pegawai kantoran yang merasa rendah diri dan tidak diterima oleh istri serta putri kembarnya, dan masih banyak lagi orang yang bertemu dengan Dokgo.

Kehadiran Dokgo di minimarket ini perlahan menjadi titik balik bagi hidup mereka. Melalui obrolan malam yang tenang, sebungkus nasi kepal hangat, atau secangkir teh jagung, Dokgo tidak pernah dengan sengaja menggurui. Sebaliknya, ia mendengarkan dan memantik kesadaran kecil yang membantu orang-orang tersebut menyelesaikan masalah mereka sendiri.

Namun, satu misteri paling besar masih belum terjawab, yaitu siapa sebenarnya Dokgo sebelum ia mengalami hilang ingatan? Mengapa ia berakhir tidak memiliki rumah dan hidup miskin di Stasiun Seoul?

Buku ini bukan hanya bercerita tentang bagaimana Dokgo membantu para rekan kerja dan pengunjung minimarket, melainkan seiring dengan berjalannya waktu, pertemuan-pertemuan itu mengungkap misteri di balik kehidupan Dokgo. Rasa penasaran ini semakin diperkeruh oleh langkah anak Nyonya Yeom yang menyewa seorang detektif untuk menyelidiki latar belakang sang penjaga shift malam.

Seluruh kepingan masa lalu dan proses kembalinya ingatan Dokgo baru terkuak secara utuh di bagian akhir cerita, memberikan penyelesaian yang emosional sekaligus merangkum alasan mengapa minimarket tersebut dinamai tempat yang merepotkan.

Keunikan Novel

Satu hal yang sangat menarik adalah desain sampulnya yang minimalis. Gaya visual tersebut terasa jauh lebih elegan dan berkelas dibanding sampul penuh warna yang biasa mendominasi selera pasaran konvensional. Tampilan ilustrasi nasi kotak di sampulnya begitu memikat mata, dan setelah menamatkan bacaannya, kita akan benar-benar paham makna mendalam di balik simbol sederhana tersebut.

Lebih jauh lagi, buku ini memotret bagaimana kebahagiaan kerap hadir dalam bentuk yang bersahaja, seperti saat seseorang tulus membalas kebaikan kecil yang diterimanya. Alih-alih terjebak pada melodrama murahan, narasinya merajut refleksi bahwa kesedihan dan rasa rindu merupakan bagian penting untuk mendewasakan diri serta menghargai orang-orang terkasih. Kehidupan digambarkan sebagai rangkaian persoalan yang menuntut ketulusan komunikasi, membuktikan bahwa di balik segala kepenatan urban, selalu ada secercah harapan dalam kemanusiaan.

Identitas Buku

Judul Asli: (Uncanny Convenience Store)
Judul Terjemahan: Minimarket yang Merepotkan
Penulis: Kim Ho Yeon
Penerjemah: Hyacinta Louisa
Penerbit: Penerbit Haru
Tahun Terbit: Cetakan pertama, Oktober 2022
Jumlah Halaman: 400 halaman
ISBN: 978-623-5467-01-6
Kategori: Healing Fiction