M. Reza Sulaiman | Athar Farha
Thumbnail Trailer Film Spider-Man Brand New Day (YouTube/ Sony Pictures Indonesia)
Athar Farha

Marvel Studios memang paling jago menyimpan rahasia. Selama berbulan-bulan, penggemar dibuat sibuk menebak siapa sebenarnya karakter yang diperankan Sadie Sink di film Spider-Man: Brand New Day. Ada yang yakin dia adalah Mary Jane versi baru, ada yang percaya dirinya Gwen Stacy, bahkan nggak sedikit yang menghubungkannya dengan Firestar. Marvel memilih diam. Mereka membiarkan teori demi teori bermunculan hingga akhirnya film tersebut resmi tayang.

Dan ternyata, semua tebakan itu meleset. Sadie Sink diperkenalkan sebagai Jean Elaine Grey, salah satu mutan paling terkenal dalam sejarah Marvel Comics. Kemunculannya bukan hanya menjadi kejutan terbesar di film ini, tapi juga seperti pernyataan bahwa Marvel Studios akhirnya mulai membuka pintu menuju era X-Men di Marvel Cinematic Universe.

Disutradarai Destin Daniel Cretton, Spider-Man: Brand New Day menjadi film solo keempat Tom Holland sebagai Peter Parker di MCU. Film berdurasi sekitar 145 menit ini diproduksi Marvel Studios bersama Columbia Pictures dan didistribusikan Sony Pictures Releasing. Selain Tom Holland, film ini juga dibintangi Zendaya sebagai MJ, Jacob Batalon sebagai Ned Leeds, Jon Bernthal sebagai Frank Castle alias The Punisher, Michael Mando sebagai Scorpion, Mark Ruffalo sebagai Bruce Banner, Sadie Sink, Liza Colon-Zayas sebagai Detektif DeWolff, hingga Tramell Tillman.

Ceritanya, kini orang-orang sudah melupakan identitas Peter Parker. Peter pun mencoba menjalani hidup baru sebagai Friendly Neighborhood Spider-Man. Di tengah usaha memulai semuanya dari nol, Peter dipertemukan dengan Jean Elaine Grey, gadis muda yang memiliki kekuatan luar biasa dan sedang diburu organisasi misterius. Pertemuan itulah yang perlahan mengubah arah hidup Peter sekaligus membuka babak baru bagi masa depan MCU.

Mutan dan Misteri V-MAX (Spoiler Alert!)

Jean Grey dalam Film Spider-Man: Brand New Day (IMDb)

Kalau di berbagai film dan komik, Jean adalah sosok superhero yang kemudian berubah akibat Phoenix Force. Di Spider-Man: Brand New Day, dia muncul sebagai seseorang yang dianggap ancaman sejak awal. Banyak orang percaya kekuatan telepati dan telekinesis miliknya terlalu berbahaya untuk dibiarkan bebas. Bahkan Peter Parker pun sempat yakin menangkap Jean adalah keputusan yang benar.

Keyakinan itu muncul setelah Peter bertemu organisasi bernama Department of Damage Control (Damage Control). Di permukaan, kelompok ini terlihat seperti lembaga yang bertugas melindungi masyarakat dari individu berkekuatan super. Mereka berbicara tentang keamanan, tanggung jawab, dan keselamatan banyak orang. Sulit untuk nggak percaya pada mereka. Namun, seperti kebanyakan organisasi misterius di semesta Marvel, wajah baik itu hanyalah topeng.

Semakin jauh cerita berjalan, semakin jelas Damage Control bukan sedang menyelamatkan dunia. Mereka menjadi penyebab seluruh tragedi yang dialami Jean Grey. Organisasi tersebut ternyata menculik kakak Jean, Sarah Grey, untuk dijadikan bahan eksperimen. Mereka ingin memanfaatkan kemampuan telepati keluarga Grey demi kepentingan proyek rahasia yang jauh lebih besar. Peter yang awalnya membantu Damage Control perlahan menyadari dirinya telah dimanfaatkan. Orang yang selama ini dianggap monster ternyata hanyalah korban.

Konflik ini membuat Film Spider-Man: Brand New Day berbeda dibanding kebanyakan Film Spider-Man. Ancamannya bukan berasal dari alien, penyihir, ataupun makhluk multiverse, melainkan dari manusia yang merasa punya hak menentukan siapa yang layak hidup bebas dan siapa yang pantas dikendalikan. Tema ini ibarat cerminan dari dunia X-Men, lho.

Salah satu kejutan terbaik film ini terkait misteri bernama V-MAX. Sepanjang film, Jean terus mengulang kata tersebut. Penonton dibuat menebak-nebak apa sebenarnya arti V-MAX. Banyak yang mengira itu adalah nama senjata biologis, serum mutan, atau kode eksperimen Damage Control. Dugaan itu masuk akal mengingat Marvel memang gemar menyimpan plot twist di balik istilah-istilah misterius.

Namun, jawaban yang diberikan rupanya jauh lebih sederhana sekaligus menyakitkan. V-MAX ternyata bukan nama proyek rahasia. Itu hanyalah tulisan VENTMAX yang terdapat pada ventilasi pendingin udara tua di ruang eksperimen. Tulisan itu menjadi hal terakhir yang dilihat Sarah Grey sebelum meninggal akibat eksperimen yang dilakukan Damage Control. Trauma membuat ingatan Jean terpecah. Yang tersisa hanyalah potongan kata "V-MAX" yang terus menghantuinya selama bertahun-tahun.

Momen itu menjadi salah satu adegan paling emosional di film. Marvel nggak membutuhkan ledakan besar atau kemunculan monster raksasa untuk membuat penonton terdiam. Cukup dengan satu potongan kenangan yang menjelaskan betapa besar luka yang dipendam Jean Grey selama ini.

Kematian Sarah akhirnya menjadi titik balik. Kesedihan berubah menjadi kemarahan. Kemampuan telepati dan telekinesis Jean berkembang sangat pesat hingga memperlihatkan kekuatan yang selama ini hanya dikenal pembaca komik. Untuk sesaat, penonton dibuat percaya bahwa inilah awal lahirnya supervillain baru di MCU.

Namun, di sinilah Marvel mengambil jalan yang berbeda. Alih-alih membiarkan Jean Grey tenggelam dalam amarah, film memilih menunjukkan sisi kemanusiaannya. Yup, Peter Parker membagikan kenangan dalam telepati tentang Bibi May, tentang kehilangan orang yang paling dicintai, rasa sakitnya yang nggak pernah hilang, serta tentang tanggung jawab yang lahir dari kekuatan besar.

Kenangan yang dilihat Jean Grey itu menjadi titik balik baginya. Membalas dendam nggak akan mengembalikan Sarah. Akhirnya, Jean memilih memaafkan Bill Metzger, orang yang bertanggung jawab atas seluruh tragedi tersebut. Jean akhirnya meninggalkan New York untuk memulai perjalanan baru, bukan sebagai musuh Spider-Man, tapi sebagai seseorang yang masih mencari jati dirinya.

Keputusan itu sangat menarik. Marvel seolah-olah ingin memperkenalkan Jean Grey bukan sebagai karakter yang langsung sempurna, melainkan sebagai manusia yang masih bergulat dengan trauma sebelum akhirnya menjadi sosok yang lebih besar di masa depan.

Nah, hal-hal menarik lainnya terkait petunjuk-petunjuk kecil mengenai masa depan MCU. Damage Control diduga bukan organisasi biasa. Film memberi isyarat mereka diduga memiliki hubungan dengan proyek Sentinel, robot pemburu mutan yang selama puluhan tahun menjadi ancaman utama X-Men di komik. Kalau petunjuk ini benar, berarti Marvel Studios diam-diam sedang membangun fondasi menuju Mutant Saga setelah Multiverse Saga berakhir.

Di sisi lain, Peter Parker juga mengalami perkembangan penting. Film memperlihatkan evolusi kekuatannya, termasuk munculnya kemampuan jaring organik yang membuat Spider-Man versi Tom Holland semakin berbeda dibanding film-film sebelumnya. Perubahan ini menunjukkan Peter akhirnya mulai berkembang tanpa lagi bergantung pada teknologi buatan orang lain.

Pada intinya, Film Spider-Man: Brand New Day ternyata bukan sebatas film tentang Peter Parker yang belajar hidup setelah kehilangan segalanya. Di balik cerita emosional tersebut, Marvel diam-diam sedang membuka gerbang menuju masa depan yang jauh lebih besar.

Kalau selama ini MCU identik dengan Avengers, Infinity Stones, dan Multiverse, kini arahnya mulai bergeser menuju konflik yang lebih personal antara manusia dan mutan. Dan menariknya, langkah pertama menuju era itu dimulai lewat Spider-Man.

Kalau benar semua petunjuk yang ditanam dalam film ini mengarah ke kemunculan X-Men, maka beberapa tahun ke depan kita mungkin akan melihat MCU memasuki babak baru. Bukan lagi soal menyelamatkan alam semesta dari satu penjahat besar, tapi tentang bagaimana manusia dan mutan belajar hidup berdampingan di dunia yang sama.

Dan kalau melihat bagaimana Jean Grey diperkenalkan di Film Spider-Man: Brand New Day, rasanya Marvel sedang mengatakan satu hal kepada para penggemarnya: era baru akhirnya dimulai.

Keren banget, deh! Sobat Yoursay nggak tertarik nonton?