Sekar Anindyah Lamase | Tarassa Q.
Namaku Alam (Gramedia)
Tarassa Q.

Namaku Alam merupakan novel karya Leila S. Chudori yang menghadirkan kisah menyentuh tentang Segara Alam, seorang anak yang lahir pada tahun 1965 dan harus menjalani hidup dengan cap yang tidak pernah ia pilih.

Sejak kecil, Alam tumbuh dalam lingkungan yang memandangnya sebagai keturunan "pengkhianat negara" akibat tuduhan politik yang diarahkan kepada ayahnya.

Lewat cerita ini, Leila tidak hanya mengangkat isu sejarah Indonesia, tetapi juga menunjukkan bagaimana luka politik dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Setelah menyelesaikan Laut Bercerita, saya memutuskan untuk melanjutkan membaca novel ini. Secara keseluruhan, saya kembali menikmati cara Leila S. Chudori membangun cerita

Menurut saya, tidak banyak penulis Indonesia yang berani mengangkat peristiwa Orde Baru beserta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

Tema-tema semacam ini terasa penting karena membantu pembaca memahami sisi kemanusiaan di balik sejarah yang sering kali hanya disampaikan secara singkat dalam buku pelajaran.

Sejak usia dini, kehidupan Alam dipenuhi pengalaman yang membentuk kepribadiannya. Ayahnya, seorang jurnalis yang dituduh memiliki kedekatan dengan organisasi kebudayaan yang dikaitkan dengan peristiwa politik masa lalu, tewas ditembak pada tahun 1970.

Peristiwa tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi keluarganya. Alam pun tumbuh dalam suasana penuh ketakutan, pengawasan, dan diskriminasi yang terus menghantui kehidupan sehari-harinya.

Salah satu aspek yang membuat tokoh utama terasa unik adalah kemampuannya mengingat setiap detail pengalaman hidup dengan sangat jelas. Ingatan yang nyaris sempurna membuat setiap penghinaan, ancaman, maupun momen menyakitkan terus tersimpan dalam benaknya.

Bahkan kenangan saat masih balita, ketika dirinya berhadapan dengan ancaman senjata, tetap melekat kuat hingga dewasa. Kemampuan tersebut menjadi anugerah sekaligus beban karena ia sulit melepaskan diri dari masa lalu.

Tekanan yang terus-menerus membuat Alam tumbuh sebagai anak yang mudah tersulut emosi. Ia kerap terlibat perkelahian karena tidak tahan melihat dirinya maupun sahabatnya, Bimo, direndahkan oleh orang lain.

Sikapnya yang keras membuat sang ibu beberapa kali harus memenuhi panggilan dari pihak sekolah. Meski demikian, perilaku tersebut bukan sekadar kenakalan remaja, melainkan bentuk perlawanan terhadap perlakuan yang dianggap tidak adil.

Memasuki masa remaja hingga bangku SMA, perjalanan hidup Alam semakin kompleks. Ia harus menghadapi pergolakan batin, kemarahan yang sulit dikendalikan, serta berbagai pembatasan yang mewarnai kehidupan masyarakat pada era Orde Baru. Di sisi lain, kecerdasannya yang berada di atas rata-rata membuat pihak sekolah tetap mempertahankannya sebagai siswa meskipun ia sering bermasalah dalam urusan kedisiplinan.

Berbeda dengan Pulang yang lebih banyak mengeksplorasi dinamika politik dan kehidupan para tokohnya di pengasingan, Namaku Alam lebih menitikberatkan pada proses pendewasaan seorang anak yang berusaha memahami siapa dirinya. Novel ini menjadi semacam kisah coming of age yang memperlihatkan bagaimana seseorang berusaha menemukan identitas di tengah beban sejarah yang diwariskan kepadanya.

Dengan ketebalan sekitar 448 halaman, pengalaman membaca novel ini terasa cukup lambat bagi saya. Ada beberapa bagian yang menurut saya berjalan cukup panjang sehingga ritme cerita terasa menurun.

Hal tersebut mungkin dipengaruhi oleh tema yang memang cukup berat dan sarat refleksi. Meski demikian, ketika memasuki bagian-bagian yang menyoroti konflik batin Alam, saya kembali merasa tertarik untuk terus mengikuti kisahnya hingga selesai.

Salah satu kekuatan terbesar novel ini adalah keberhasilannya memperlihatkan bahwa dampak kekerasan politik tidak berhenti pada mereka yang menjadi korban langsung. Anak-anak dan keluarga yang ditinggalkan juga harus menanggung stigma sosial yang berlangsung selama bertahun-tahun. Melalui perjalanan Alam, pembaca diajak melihat bagaimana seseorang berusaha bertahan, menolak menyerah pada label yang diberikan lingkungan, dan perlahan membangun harga dirinya sendiri.

Selain itu, novel ini juga memberikan perhatian besar pada isu kesehatan mental. Kemarahan, trauma, dan luka batin yang dipendam Alam digambarkan dengan sangat manusiawi. Menariknya, Leila menunjukkan bahwa emosi tidak selalu harus dilampiaskan secara destruktif. Aktivitas seperti karate menjadi sarana bagi Alam untuk menyalurkan amarah, membangun disiplin, sekaligus memperkuat ketahanan mentalnya.

Secara keseluruhan, Namaku Alam adalah bacaan yang kaya akan nilai sejarah, psikologi, dan kemanusiaan. Walaupun ritme ceritanya tidak selalu cepat, novel ini menawarkan refleksi mendalam tentang identitas, trauma antargenerasi, dan perjuangan melawan stigma. Bagi pembaca yang menyukai kisah bertema sejarah Indonesia dengan karakter yang kuat dan emosional, novel ini layak masuk dalam daftar bacaan.

Identitas Buku

Judul: Namaku Alam
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Bahasa: Indonesia
ISBN: 592302176