Lintang Siltya Utami | Tarassa Q.
The Invisible Man (Gramedia)
Tarassa Q.

The Invisible Man karya H.G. Wells merupakan novel fiksi ilmiah yang pertama kali diterbitkan pada 1897. Ceritanya berpusat pada Griffin, seorang ilmuwan yang berhasil menemukan cara membuat tubuh manusia tidak terlihat. Namun, keberhasilan tersebut justru menyeretnya menuju kehidupan penuh kekerasan, kesepian, dan kegilaan. Melalui kisah Griffin, Wells tidak sekadar menawarkan cerita tentang manusia tak kasatmata, tetapi juga mempertanyakan apa yang terjadi ketika pengetahuan digunakan tanpa batas moral.

Cerita bermula ketika seorang pria asing muncul di Iping, sebuah desa yang sedang dilanda musim dingin. Penampilannya segera menarik perhatian. Seluruh tubuhnya tertutup pakaian, wajahnya dibalut perban, matanya tersembunyi di balik kacamata gelap, dan ia memilih menjaga jarak dari penduduk. Sikapnya yang mudah marah dan tertutup membuat kehadirannya semakin mencurigakan.

Identitas pria tersebut kemudian terungkap sebagai Griffin, ilmuwan yang menekuni bidang optik. Ia menemukan metode untuk membuat tubuh memiliki kemampuan membiaskan cahaya seperti udara sehingga keberadaannya tidak dapat dilihat. Griffin menguji temuannya pada dirinya sendiri dan berhasil.

Sayangnya, ia tidak memperhitungkan berbagai konsekuensi kehidupan sebagai manusia transparan. Ia kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan aktivitas sederhana seperti makan dan berpakaian menjadi persoalan karena benda-benda tersebut dapat memperlihatkan keberadaannya.

Keadaan tersebut perlahan memperburuk kondisi mental Griffin. Alih-alih mencari jalan untuk memperbaiki kesalahannya, ia menggunakan ketidak terlihatannya sebagai alat untuk melakukan kejahatan. Ia mencuri, mengancam orang lain, melakukan kekerasan, bahkan membakar tempat yang pernah menjadi persembunyiannya.

Setelah identitasnya terbongkar di Iping, Griffin melarikan diri dan memanfaatkan Thomas Marvel, seorang gelandangan, untuk menyimpan barang serta catatan penelitian miliknya. Marvel akhirnya berusaha mengambil buku catatan Griffin dan mencari perlindungan di Port Burdock.

Pengejaran kemudian membawa Griffin kepada Dr. Kemp, kenalan lamanya. Kepada Kemp, Griffin mengungkapkan rencana mengerikan untuk memanfaatkan tubuhnya yang tak terlihat demi menciptakan pemerintahan berdasarkan ketakutan. Kemp yang menyadari bahwa Griffin telah kehilangan kendali atas dirinya memilih melaporkan keberadaannya kepada pihak berwenang.

Pengkhianatan itu membuat Griffin semakin brutal. Perburuan pun berlangsung hingga akhirnya ia ditangkap dan dipukuli oleh massa yang marah. Menjelang kematiannya, tubuhnya perlahan kembali terlihat sehingga orang-orang akhirnya dapat menyaksikan wujud asli Griffin.

Dengan panjang sekitar 208 halaman, buku ini cukup singkat untuk diselesaikan tanpa terasa melelahkan. Bagi saya, tantangan utamanya justru berasal dari bahasa Inggris yang digunakan dalam buku. Saya harus beberapa kali mencari arti kata yang belum saya pahami agar dapat mengikuti cerita dengan baik.

Sebelum membaca, saya sempat menghubungkan konsep manusia tak terlihat dengan jubah ajaib Harry Potter. Saya bahkan pernah membayangkan seperti apa rasanya jika tubuh saya sendiri dapat menjadi transparan. Karena itu, novel ini terasa menyenangkan untuk dibaca karena Wells seolah membawa saya masuk ke dalam salah satu fantasi yang selama ini hanya hidup dalam imajinasi.

Namun, di balik unsur fantastisnya, novel ini menyimpan pesan yang cukup serius. Griffin memperlihatkan bahwa pengetahuan yang tidak disertai tanggung jawab dapat berubah menjadi bencana. Ketika kemampuan luar biasa dipadukan dengan hasrat menguasai orang lain, ilmu pengetahuan justru menjadi senjata penghancur.

Menurut saya, salah satu bagian paling kuat adalah gambaran tentang isolasi. Ketika Griffin kehilangan kemampuan untuk berinteraksi secara normal, hubungan sosialnya ikut terputus. Tidak adanya tatapan, penilaian, dan batasan sosial membuat sisi egoisnya semakin dominan.

Pada akhirnya, ia kehilangan empati dan kendali atas dirinya sendiri. The Invisible Man mengingatkan bahwa kecerdasan dan kekuasaan tidak akan berarti apabila manusia kehilangan etika, empati, dan kemampuan untuk mengendalikan ambisinya.

Identitas Buku

Judul: The Invisible Man
Penulis: H.G. Wells
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Bahasa: Inggris
ISBN: 9786020632834