Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Usaha Mencintai Hidup (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Ada masa ketika seseorang tidak benar-benar ingin mati, tetapi juga tidak tahu bagaimana caranya kembali mencintai hidup. Ia hanya ingin semuanya berhenti sebentar. Berhenti mengingat seseorang, berhenti merasa kehilangan, berhenti memikirkan keluarga, hubungan, dan segala kekacauan yang membuat hari-hari terasa berat.

Perasaan semacam itulah yang menjadi pintu masuk Usaha Mencintai Hidup, buku karya Arman Dhani yang diterbitkan Buku Mojok pada 2024. Dengan ketebalan hanya 131 halaman, buku ini cukup tipis untuk dibaca dalam perjalanan pulang-pergi kantor. Namun, persoalan yang dibawanya jauh lebih berat daripada ukuran bukunya.

Isi Buku

Cerita berpusat pada tokoh “Aku”, seseorang yang sedang berusaha menjalani hidup setelah mengalami perpisahan dengan orang yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan akan hilang dari kehidupannya. Dan seperti kebanyakan orang yang patah hati, tokoh ini tidak serta-merta menjadi sosok yang bijaksana setelah membaca satu-dua nasihat.

Justru sebaliknya.

Ia bisa menyebalkan. Sensitif. Mudah marah. Membuat keputusan yang membuat pembaca geregetan. Kadang kita mungkin ingin mengatakan, “Sudahlah, jangan begitu!” Namun semakin jauh membaca, semakin terlihat bahwa perilaku tersebut tidak muncul dari ruang kosong. Ada luka, persoalan keluarga, hubungan yang tidak sehat, dan berbagai pengalaman yang membentuk cara tokoh “Aku” menghadapi kehidupannya.

Di sinilah buku ini menarik. Patah hati sering dianggap sebagai masalah sederhana. Putus, menangis, kemudian move on. Padahal, bagi sebagian orang, kehilangan seseorang bisa mengguncang banyak hal sekaligus. Rutinitas berubah, lingkungan sosial terasa asing, kepercayaan diri turun, bahkan cara melihat masa depan ikut berantakan.

Tokoh “Aku” mengalami proses tersebut dengan segala kekacauannya. Pembaca mungkin tidak selalu setuju dengan tindakannya. Bahkan, beberapa bagian bisa membuat frustrasi. Tetapi mungkin justru itu yang ingin diperlihatkan buku ini: manusia yang sedang terluka tidak selalu bersikap rasional.

Orang yang sedang tidak baik-baik saja terkadang justru menjadi versi dirinya yang paling sulit dihadapi. Karena itu, salah satu pesan penting dari buku ini bukan sekadar bagaimana melupakan mantan, melainkan bagaimana belajar menyembuhkan diri sendiri.

Hidup seharusnya tetap bergerak. Kita tidak bisa selamanya tinggal di tempat yang sama hanya karena seseorang meninggalkan kita. Terluka adalah hal yang wajar, tetapi menjadikan luka sebagai rumah permanen adalah persoalan lain.

Kelebihan dan Kekurangan

Menariknya, buku ini juga menyentuh persoalan yang masih sering dianggap tabu: mencari bantuan profesional.

Ketika seseorang merasa kehidupannya sudah tidak terkendali, mencari psikolog atau psikiater bukanlah tanda bahwa ia lemah atau “kurang iman”. Sebaliknya, meminta bantuan ketika kita tidak mampu menghadapi sesuatu sendirian merupakan bentuk ikhtiar.

Ini penting karena masih banyak orang yang lebih memilih mencari diagnosis sendiri melalui internet. Sedikit membaca gejala, lalu buru-buru menyimpulkan dirinya mengalami gangguan tertentu. Padahal, informasi di internet tidak dapat menggantikan proses asesmen profesional.

Usaha Mencintai Hidup tidak hadir sebagai buku panduan kesehatan mental yang sistematis. Namun, melalui perjalanan tokohnya, buku ini menyelipkan pengingat sederhana: kita tidak harus menyembuhkan semuanya sendirian.

Ada pula Bara, sosok teman yang tetap hadir ketika tokoh “Aku” sedang berada dalam kondisi sulit. Kehadiran Bara memperlihatkan bahwa terkadang orang yang terluka tidak membutuhkan ceramah panjang. Mereka membutuhkan seseorang yang bersedia tetap tinggal, mendengarkan, dan tidak buru-buru menghakimi.

Di tengah cerita yang cukup berat, Arman Dhani menyelipkan hal-hal yang membuat buku ini terasa lebih ringan. Makanan menjadi salah satu elemen yang cukup menonjol. Ada resep yang bisa dicoba dan rekomendasi kuliner yang membuat pembaca seolah diajak berjalan-jalan ke Jogja sambil menemani tokoh “Aku” berusaha mengurai hidupnya.

Rekomendasi Pembaca

Namun, buku ini juga tidak sepenuhnya bebas dari kelemahan. Karakter “Aku” bisa terasa terlalu menjengkelkan bagi sebagian pembaca. Ada keputusan-keputusan yang membuat kita ingin mengomel dari halaman ke halaman. Bagi pembaca yang sedang berada dalam kondisi emosional tertentu, tema dan perilakunya juga bisa terasa cukup berat.

Karena itu, buku ini mungkin lebih nyaman dibaca ketika kondisi mental sedang cukup stabil. Usaha Mencintai Hidup bukan cerita tentang seseorang yang tiba-tiba sembuh dan kemudian hidup bahagia selamanya. Judulnya sendiri sudah memberikan petunjuk: usaha.

Mencintai hidup ternyata bukan selalu tentang merasa bahagia. Kadang ia sesederhana bangun pagi, makan sesuatu yang enak, menerima bantuan, menemui orang yang dipercaya, berhenti menyalahkan diri sendiri, lalu mencoba menjalani satu hari lagi.

Besok mungkin masih berat. Tetapi setidaknya hari ini kita sudah mencoba. Dan mungkin, mencintai hidup memang dimulai dari usaha kecil untuk tidak menyerah kepadanya.

Identitas Buku

  • Judul: Usaha Mencintai Hidup
  • Penulis: Arman Dhani
  • Penyunting: Balqisnab
  • Penerbit: Buku Mojok
  • Tahun Terbit: 2024
  • Tebal: 131 halaman
  • ISBN: 9786238463053