Kingdom of the Planet of the Apes (2024), disutradarai Wes Ball dengan naskah Josh Friedman, merupakan kelanjutan waralaba yang berlatar beberapa generasi setelah kematian Caesar. Film berdurasi sekitar 145 menit ini berhasil membuka era baru tanpa meninggalkan warisan trilogi sebelumnya. Dengan penampilan utama Owen Teague sebagai Noa, Freya Allan sebagai Mae, Kevin Durand sebagai Proximus Caesar, serta Peter Macon sebagai Raka, karya ini menawarkan petualangan epik yang memadukan aksi, visual spektakuler, dan refleksi mengenai kekuasaan, warisan, serta kemungkinan koeksistensi.
Perjalanan Noa Mengikuti Jejak Sang Legenda Caesar
Cerita berpusat pada Noa, seekor simpanse muda dari klan elang yang hidup damai di tengah hutan yang telah merebut kembali sisa-sisa peradaban manusia. Kehidupan tranquil itu hancur ketika pasukan Proximus Caesar menyerang desa mereka, membunuh ayah Noa, dan menculik seluruh klan. Noa yang terpisah memulai perjalanan mencari keluarganya. Dalam perjalanannya, ia bertemu Raka, orangutan bijak yang masih setia pada ajaran Caesar tentang persatuan dan penolakan terhadap kekerasan antarkera, serta Mae, manusia cerdas yang tidak sepenuhnya seperti manusia liar lainnya. Bersama-sama mereka menghadapi ancaman Proximus, pemimpin otoriter yang menyalahgunakan nama Caesar untuk membangun kerajaan berdasarkan perbudakan dan ambisi teknologi manusia.
Review Film Kingdom of the Planet of the Apes
Kekuatan utama film terletak pada world-building yang kaya dan efek visual yang luar biasa. Teknologi motion-capture mencapai puncak baru; ekspresi wajah dan bahasa tubuh kera terasa autentik serta penuh emosi. Pemandangan dunia pasca-apokaliptik—gedung-gedung tertutup tanaman merambat, bandara yang ditumbuhi lumut, serta benteng di tepi pantai—memberikan skala epik tanpa mengorbankan kedalaman karakter. Owen Teague menyampaikan Noa dengan kepekaan yang mengesankan: transisi dari remaja yang ragu menjadi pemimpin yang mempertanyakan segala yang diajarkan sangat meyakinkan. Kevin Durand sebagai Proximus memberikan performa karismatik sekaligus menakutkan, sementara Peter Macon membawa kehangatan dan kebijaksanaan melalui Raka. Freya Allan berhasil menggambarkan kompleksitas Mae yang penuh rahasia dan determinasi.
Secara tema, film ini menantang gagasan superioritas spesies dan bahaya kultus terhadap pemimpin. Proximus bukan sekadar penjahat; ia merepresentasikan distorsi ideologi demi kekuasaan absolut. Hubungan antara kera dan manusia digambarkan penuh ketegangan moral, bukan sekadar konflik hitam-putih. Meskipun alur sempat sedikit melambat di bagian tengah, keseluruhan pengalaman tetap solid dan layak sebagai pembuka saga baru.
Untuk streaming berlangganan tanpa biaya tambahan per judul, film ini lebih umum tersedia di Disney+ (sebelumnya Disney+ Hotstar). Disarankan memeriksa aplikasi Prime Video secara langsung karena katalog dapat berubah, serta mempertimbangkan opsi sewa jika ingin menonton segera tanpa berlangganan layanan lain.
Adegan yang paling menyentuh terjadi ketika Noa menemukan jenazah ayahnya di antara puing desa yang terbakar. Momen tersebut singkat namun padat emosi: rasa kehilangan, rasa bersalah, dan tekad yang lahir dari kesedihan digambarkan melalui ekspresi Noa yang sangat manusiawi. Janji Noa untuk membawa pulang klan menjadi titik balik emosional yang kuat. Momen lain yang menggetarkan adalah pengorbanan Raka serta perpisahan terakhir antara Noa dan Mae, di mana Noa menyerahkan medali warisan Raka sebagai simbol harapan akan perdamaian. Adegan-adegan ini berhasil menyampaikan kerinduan akan koneksi dan warisan tanpa melodrama berlebihan.
Sementara itu, adegan paling menegangkan adalah serangan awal terhadap desa klan elang. Ketegangan dibangun secara gradual melalui kedatangan pasukan bertopeng, kemudian meledak dalam kekacauan yang intens—api, teriakan, dan kebrutalan yang memaksa penonton menahan napas. Klimaks di dalam bunker dengan banjir yang diluncurkan serta pengejaran dengan Sylva (gorila pengikut Proximus) juga sangat menegangkan. Noa memanfaatkan ruang sempit untuk menjebak lawan yang lebih kuat, sementara air naik dengan cepat. Urutan aksi ini memadukan kecerdikan, ketegangan fisik, dan stakes emosional yang tinggi, menjadikanku sampai terpaku hingga detik terakhir.
Jadi bisa kusimpulkan, Kingdom of the Planet of the Apes merupakan entri yang solid dan layak dihargai. Film ini tidak hanya melanjutkan warisan visual dan emosional trilogi Caesar, tetapi juga membuka ruang bagi cerita baru yang lebih luas. Dengan penampilan yang kuat, tema yang relevan, serta adegan yang berhasil menyentuh sekaligus menegangkan, karya Wes Ball ini layak ditonton baik oleh penggemar lama maupun penonton baru. Buat kamu yang ingin streaming berlangganan dapat dicek di Disney+. Film ini mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan hanya akan menghasilkan tiran baru, dan bahwa harapan untuk masa depan bersama tetap mungkin meski penuh tantangan. Rating pribadi: 8/10.
Baca Juga
-
Bukan Film Horor Biasa! Conjurig Tawarkan Sisi Lain Cosplayer Jalanan yang Penuh Air Mata
-
Review Serial Ted Lasso Season 2: Kehangatan Komedi yang Menyentuh Jiwa
-
Review Venom: The Last Dance, Penutup Trilogi Antihero yang Sangat Kocak!
-
Ulasan Film Lobang Buaya: Babak Baru Sinema Horor Sejarah Garapan Hanung
-
Hati-Hati Kena Mental, Review Film 'Verity' Hadirkan Ketegangan Erotis dan Plot Twist Berlapis
Artikel Terkait
-
Review Film Galaksi: Luka Tersembunyi di Balik Sikap Keras Seseorang
-
Review Film Bad and Crazy: Saat Sisi Gelap dan Gila dalam Diri Saling Bertabrakan
-
Tazza: The Song of Beelzebub: Intrik Yakuza, Pengkhianatan, dan Plot Twist Bikin Nahan Napas
-
Plot Twist Mengejutkan di 'The Handmaiden', Ketika Cinta Sesama Jenis Jadi Simbol Perlawanan
-
Mengupas Karakter Kim Seon-ho di 'The Childe': Tersenyum Lebar tapi Bikin Merinding!
Ulasan
-
Bukan Film Horor Biasa! Conjurig Tawarkan Sisi Lain Cosplayer Jalanan yang Penuh Air Mata
-
Juhoon Stoic Bukan Cerita Rakyat, Kini Rekomendasikan Buku Karya Seneca
-
Nugas Nyaman Tanpa Bikin Kantong Jebol di Tjap Nyonya 2, Ada Dimsum Murah & Teh Refill!
-
Menelusuri Jejak Sejarah dan Kebudayaan Bondowoso dalam Sebuah Buku
-
Review 'dejavu' Olivia Rodrigo: Sindiran Telak Buat Mantan yang Minim Ide
Terkini
-
HONOR X9e Pro Resmi Rilis, Baterai 11.000 mAh Bikin HP Ini Serasa Membawa Powerbank
-
Di Balik Hiatus One Piece: Menyelamatkan Animator dari Sindrom Kejar Tayang
-
MBG dan Hak Publik untuk Mengawasi Setiap Rupiah Uang Negara
-
The Assassin(s) Batalkan Seluruh Agenda BIFF 2026 di Tengah Kontroversi
-
Ribuan Manajer KDMP Mundur, Efektivitas Pelatihan Rp1 Triliun Jadi Sorotan