Hayuning Ratri Hapsari | Chairun Nisa
Out Of The Book (Dok. Pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Siapa sangka, perjalanan pulang setelah upacara penurunan bendera pada 17 Agustus kemarin justru berlanjut ke tempat yang tak kalah menarik: gudang buku. Dari suasana peringatan kemerdekaan, langkah kemudian beralih menuju Gedung Kesenian Purworejo yang berada tak jauh dari Alun-alun Purworejo. Di sana, rak-rak buku memenuhi ruangan dalam pameran OUT OF THE BOOX – Gudang Buku Keliling 2026.

Sebelumnya, Purworejo juga sempat diramaikan festival literasi yang digelar di halaman Perpustakaan Kutoarjo. Kini, para pemburu buku kembali mendapat kesempatan untuk berburu bacaan, kali ini dengan suasana yang berbeda. Pameran yang berlangsung pada 15 Agustus hingga 6 September 2026 ini menawarkan berbagai buku dengan potongan harga hingga 60 persen dan dapat dikunjungi tanpa tiket masuk.

Begitu masuk, hal pertama yang menarik perhatian tentu saja tumpukan buku di berbagai sudut ruangan. Berdasarkan informasi penyelenggara, OUT OF THE BOOX menghadirkan hingga 20 juta buku pilihan dari lebih dari 100 penerbit. Namun, bagi pengunjung dengan anggaran terbatas, bukan jumlah bukunya yang paling menggiurkan, melainkan harga yang ditawarkan.

Saat berkeliling, salah satu temuan yang cukup mengejutkan adalah buku-buku psikologi yang dibanderol sekitar Rp20.000. Dengan uang Rp100.000, secara sederhana sudah bisa membawa pulang lima buku. Bagi pelajar yang ingin menambah koleksi bacaan tanpa menguras uang saku, harga semacam ini tentu sulit dilewatkan.

Bukan hanya buku psikologi. Deretan novel dan buku populer dari penerbit besar seperti Bentang Pustaka juga tersedia dengan harga yang sudah dipotong. Bagi pembaca yang selama ini hanya melihat buku-buku tersebut di toko dengan harga normal, pameran semacam ini bisa menjadi kesempatan untuk mendapatkan bacaan yang sudah lama masuk daftar keinginan.

Namun, berburu buku murah ternyata juga memiliki sedikit kekecewaan. Beberapa judul yang justru banyak dicari, seperti karya J.S. Khairen dan Tere Liye, tidak berhasil ditemukan. Kemungkinan, buku-buku yang sangat laris dan terus mengalami cetak ulang memang tidak banyak berakhir di gudang untuk kemudian dijual dengan harga miring. Padahal, judul-judul semacam itulah yang mungkin paling ditunggu pelajar SMP yang memiliki anggaran terbatas tetapi ingin membaca novel yang sedang populer.

Meski begitu, ketiadaan beberapa judul populer tersebut tidak membuat pameran ini kehilangan daya tarik. Justru, kondisi itu bisa menjadi kesempatan untuk keluar dari kebiasaan membaca buku-buku yang sedang ramai diperbincangkan. Di antara tumpukan buku yang mungkin belum pernah dilirik sebelumnya, selalu ada kemungkinan menemukan bacaan yang ternyata menarik.

Tak hanya berburu buku, pengunjung juga bisa naik ke lantai dua Gedung Kesenian Purworejo. Di sana terdapat pameran bertema pendidikan yang menghadirkan berbagai informasi dan produk seputar dunia pendidikan. Beberapa stan makanan juga turut meramaikan area tersebut, sehingga pengunjung tidak perlu khawatir jika mulai lapar setelah berkeliling mencari buku. Kehadiran pameran pendidikan dan stan kuliner ini membuat kunjungan terasa lebih lengkap, karena setelah puas menyusuri rak-rak buku, pengunjung masih bisa menikmati aktivitas lain sebelum pulang.

Bagi yang ingin datang, pameran ini berlangsung setiap hari pukul 09.00–21.00 WIB hingga 6 September 2026. Masuknya gratis. Jadi, kalau kebetulan sedang berada di sekitar Alun-alun Purworejo, tidak ada salahnya mampir. Siapa tahu, dengan uang seratus ribuan, pulangnya bukan cuma membawa satu buku incaran, tetapi satu kantong penuh bacaan baru.

OUT OF THE BOOX pada akhirnya bukan hanya soal berburu buku dengan harga murah. Pameran ini juga memberi ruang bagi masyarakat Purworejo untuk kembali berjumpa dengan buku secara langsung. Setelah sebelumnya festival literasi hadir di Kutoarjo, kini giliran Gedung Kesenian Purworejo menjadi tempat berkumpulnya para pemburu bacaan.