Lebaran kadang menjadi momen yang paling ditunggu banyak orang. Di waktu tersebut, kita bisa bertemu dan berkumpul dengan keluarga serta orang-orang terdekat.
Ada suasana hangat, makanan yang melimpah, dan obrolan yang mungkin sudah lama tidak terjadi. Semua terasa menyenangkan. Namun, ada pula sebagian orang yang berharap momen itu cepat berlalu. Bukan karena ia tak bahagia, tetapi karena ada hal-hal yang membuatnya justru merasa tidak nyaman.
Salah satunya kebiasaan membandingkan pencapaian antaranggota keluarga. Sebagai anak bungsu dari cukup banyak saudara, saya merasa cukup akrab dengan situasi seperti ini.
Sejak kecil, saya beberapa kali melihat bagaimana pencapaian seseorang bisa menjadi ukuran untuk menilai anggota keluarga lainnya. Di beberapa momen tertentu, perbandingan semacam itu menjadi hal yang tak bisa dihindari.
Kadang dibandingkan dengan saudara sendiri, kadang dengan teman sebaya, kadang juga dengan anak tetangga yang entah siapa orangnya. Mungkin niat mereka baik, untuk memotivasi, katanya. Namun, orang yang menerima perbandingan tersebut, belum tentu merasakan hal yang sama.
Mungkin karena itu, saya merasa film Tunggu Aku Sukses Nanti ini terasa begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Film ini seperti mengajak kita melihat kembali satu pertanyaan sederhana: benarkah membandingkan seseorang dengan orang lain bisa membuatnya lebih termotivasi untuk sukses?
Sinopsis Tunggu Aku Sukses Nanti
Film Tunggu Aku Sukses Nanti bercerita tentang Arga (Ardit Erwandha), lelaki muda pejuang loker yang selalu menjadi objek perbandingan di keluarga besarnya, terutama saat lebaran. Momen yang seharusnya penuh kebahagiaan, menjadi ajang untuk membandingkan pencapaian. Sialnya, Arga selalu dilihat sebagai orang yang paling gagal dari semua orang.
Namun, semua itu tak membuat Arga menyerah. Ia terus berusaha membuktikan bahwa dirinya juga bisa sukses seperti saudaranya yang lain. Sayangnya, sekeras apapun upaya Arga, semua seolah tidak berarti di mata mereka. Selalu ada kekurangan yang dilihat, selalu ada bahan yang menjadi perbandingan. Dan ia tetap terlihat gagal.
Ulasan Tunggu Aku Sukses Nanti
Kesan pertama saya saat melihat beberapa menit awal film ini: saya tidak suka dengan cara keluarga Arga diperlakukan oleh keluarga besarnya. Dibanding dengan yang lain, hidup keluarga Arga memang yang paling sederhana dan pas-pasan. Namun, itu tidak seharusnya menjadi alasan bagi orang lain untuk memperlakukan mereka seperti pembantu.
Kemudian mulut Tante Yuli yang pedasnya melebihi sambal buatan ibu saya juga terdengar sangat menyebalkan. Di film ini dia seperti kompor yang menyulut perbandingan antara Arga dengan para sepupunya. Arga yang saat itu belum juga mendapat pekerjaan dianggap sebagai anak yang gagal dan nggak pernah berusaha cari kerja.
Berkat omongan Tante Yuli yang tajam seperti pisau ini, Arga memang menjadi berusaha lebih keras. Ia ingin membuktikan kepada keluarga besarnya bahwa dirinya juga bisa berhasil. Arga mulai mengirim lebih banyak lamaran pekerjaan ke berbagai perusahaan sampai akhirnya diterima kerja sebagai sales perumahan mewah di Jakarta.
Semua berjalan lancar. Sampai akhirnya lebaran tiba. Di sini, Arga merasa sudah cukup membuktikan diri. Namun, lagi-lagi semuanya seolah sia-sia. Semua usahanya tak pernah dianggap cukup. Sekeras apapun ia mengejar, ia tetaplah dinilai sebagai anak yang tertinggal.
Orang bilang, Tante Yuli melakukan itu karena menyayangi Arga dan ingin memotivasinya agar tak tertinggal dari yang lain. Namun, pada akhirnya perbandingan itu justru terasa seperti standar yang harus diikuti oleh Arga. Kerja keras yang dia lakukan hanya demi membuktikan diri dan memperoleh validasi dari mereka. Lalu, ketika ia tak mendapatkannya dan ketika orang yang diharapkan memberi validasi itu pergi untuk selamanya, Arga hancur. Ia kehilangan arah dan motivasi kerja kerasnya.
Sebenarnya nggak ada salahnya kita berusaha keras karena termotivasi perkataan orang lain. Yang menjadi masalah di sini adalah bagaimana perkataan Tante Yuli akhirnya mengubah cara Arga melihat dirinya sendiri. Ia tidak lagi bekerja keras semata-mata karena ingin mendapatkan pekerjaan atau membangun kehidupan yang lebih baik. Ia bekerja keras karena ingin membuktikan bahwa dirinya tidak lebih buruk daripada saudara-saudaranya.
Film ini seolah memberikan gambaran bahwa nggak akan ada habisnya jika kita terus mengejar validasi dan mengikuti standar orang lain.
Apapun yang kita perjuangkan, apapun yang kita capai, perbandingan bisa terus ada. Sebab ketika ukuran keberhasilan kita ditentukan oleh penilaian orang lain, maka pencapaian sebesar apa pun bisa terasa tidak pernah cukup.
Hari ini mungkin kita dibandingkan karena belum punya pekerjaan. Setelah mendapat pekerjaan, mungkin kita dibandingkan karena gajinya.
Setelah itu, bisa saja dibandingkan lagi karena belum menikah, belum punya rumah, atau belum mencapai sesuatu yang dianggap lebih tinggi oleh keluarga. Padahal hidup bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan.
Tunggu Aku Sukses Nanti mengingatkan bahwa niat baik untuk memotivasi seseorang tidak selalu menghasilkan dampak yang baik. Mungkin kita tidak bisa mengontrol bagaimana orang lain menilai kehidupan kita. Namun, kita masih bisa memilih apakah penilaian tersebut akan menjadi bahan bakar untuk berkembang atau justru menjadi standar yang menentukan harga diri kita.
Baca Juga
-
Makna Lagu Iqro': Pengingat bahwa Manusia Hanya Bagian Kecil dari Semesta
-
Review Kill Boksoon: Pembunuh Bayaran yang Sulit Memahami Putrinya Sendiri
-
Review Juvenile Justice: Ketika Usia Menjadi Tameng bagi Pelaku Kejahatan
-
Ulasan The Devil Judge: Ketika Pengadilan Jadi Tontonan Publik
-
Film Na Willa dan Masa Ketika Masalah Terbesar Hanya Tak Bisa Bermain
Artikel Terkait
Ulasan
-
Never-Ending Summer: Drama dengan Opening Bergaya Donghua yang Colorful
-
Ulasan Moon in the Day: Kisah Dendam yang Mengikat Kehidupan Lintas Zaman
-
Gagal Jadi Figuran! Serunya Dating Show di Novel The Supernumerary Project
-
Mengulas Bridge to Terabithia, Novel yang Ajarkan Anak tentang Kehilangan
-
Ulasan Drama Brewing Love: Perpaduan Manis Dunia Bir dan Romansa Slow-Burn
Terkini
-
Ketika AI Jadi Tempat Curhat, Apa yang Dicari Manusia dari Chatbot?
-
Festival Momaya 2026 Tandai Berakhirnya Pengabdian KKN-PPM UGM di Kecamatan Biluhu
-
81 Tahun Indonesia Merdeka, Mengapa Kita Masih Takut Menatap Masa Depan?
-
Ungkap Terima Kasih ke Barca, Ferran Torres Mulai Babak Baru Bersama PSG
-
Film Kompilasi Takopi's Original Sin Umumkan Resmi Tayang 27 November 2026