Lintang Siltya Utami | Tarassa Q.
Breasts and Eggs (Water Lily Literary)
Tarassa Q.

Mieko Kawakami menghadirkan Breasts and Eggs sebagai novel yang membicarakan perempuan dari sudut yang sangat personal sekaligus sosial. Ceritanya mengikuti Natsuko Natsume, seorang penulis yang menjalani hidup di Tokyo, dan terbagi dalam dua bagian yang saling melengkapi. Melalui perjalanan tokoh-tokohnya, Kawakami mengangkat persoalan tentang tubuh perempuan, hubungan keluarga, keibuan, kemiskinan, serta kebebasan menentukan hidup di tengah tuntutan masyarakat.

Bagian pertama berfokus pada kunjungan Makiko, kakak Natsuko, bersama putrinya, Midoriko. Makiko, yang mendekati usia 40 tahun dan bekerja sebagai hostess, merasa semakin tertekan oleh perubahan fisiknya. Ia datang ke Tokyo untuk mencari tempat yang dapat membantunya memperbesar payudara. Baginya, penampilan baru mungkin menjadi jalan untuk mempertahankan pekerjaan sekaligus memperbaiki kondisi ekonominya.

Keinginan Makiko tersebut berbanding terbalik dengan keresahan Midoriko. Remaja berusia 12 tahun itu sedang menghadapi perubahan tubuh yang membuatnya bingung dan tidak nyaman. Ia bahkan memilih tidak berbicara kepada ibunya selama berbulan-bulan. Pemikiran Midoriko mengenai tubuh perempuan kemudian diketahui melalui catatan hariannya. Dari sana terlihat bagaimana seorang anak mulai mempertanyakan mengapa tubuh perempuan seolah harus memenuhi ukuran tertentu agar dianggap bernilai.

Konflik keluarga tersebut menjadi pintu masuk Kawakami untuk mengkritik standar kecantikan. Tubuh perempuan tidak hanya menjadi bagian dari identitas pribadi, tetapi juga komoditas yang dapat memengaruhi pekerjaan, ekonomi, dan cara seseorang dipandang. Pada saat yang sama, pergulatan Midoriko mengingatkan pembaca bahwa menerima tubuh sendiri tidak selalu mudah ketika lingkungan terus memberikan penilaian.

Cerita kemudian melompat beberapa tahun. Natsuko telah berkembang sebagai penulis dan memasuki usia akhir 30-an. Ia tidak menikah dan tidak memiliki ketertarikan seksual, tetapi tiba-tiba memiliki keinginan kuat untuk menjadi ibu. Keinginan tersebut justru membawanya pada pertanyaan yang jauh lebih rumit. Apakah perempuan harus memiliki pasangan untuk menjadi seorang ibu? Apakah kelahiran seorang anak harus selalu berada dalam struktur keluarga konvensional?

Natsuko mulai mempertimbangkan teknologi reproduksi dan kemungkinan menjadi ibu tunggal. Ia berbicara dengan berbagai orang, termasuk penulis, editor, dan perempuan yang membesarkan anak seorang diri. Percakapan-percakapan tersebut membuatnya memikirkan kembali masa lalu, kemiskinan yang pernah dialaminya, serta alasan manusia memilih untuk menghadirkan kehidupan baru meskipun dunia tidak selalu menawarkan kehidupan yang mudah.

Alasan terbesar saya membaca novel ini awalnya sederhana, yaitu rasa penasaran setelah melihat begitu banyak pembahasan mengenai Breasts and Eggs di media sosial. Namun, setelah sampai di halaman terakhir, saya justru dibuat terdiam dan memikirkan kembali banyak hal yang sebelumnya saya anggap biasa.

Satu-satunya tantangan selama membaca buku setebal 432 halaman ini adalah penggunaan beberapa kosakata bahasa Inggris yang belum saya pahami. Saya beberapa kali harus mencari terjemahannya sebelum melanjutkan cerita. Meski cukup memperlambat proses membaca, pengalaman tersebut tetap terasa menyenangkan karena sekaligus menjadi kesempatan untuk memperluas perbendaharaan kata.

Setelah menuntaskan novel ini, saya semakin memahami bahwa pengalaman menjadi perempuan tidak pernah sesederhana memenuhi gambaran yang telah ditentukan masyarakat. Kawakami memperlihatkan bahwa tubuh, reproduksi, pernikahan, dan keibuan seharusnya tidak menjadi wilayah yang sepenuhnya dikendalikan oleh norma sosial.

Breasts and Eggs juga kuat dalam menggambarkan relasi antargenerasi perempuan. Hubungan antara Natsuko, Makiko, dan Midoriko memperlihatkan bagaimana trauma, kemiskinan, kasih sayang, dan kesalahpahaman dapat diwariskan sekaligus dipahami kembali. Novel ini akhirnya menjadi refleksi mengenai hak perempuan atas tubuh dan pilihan hidupnya sendiri, sekaligus membuka ruang empati terhadap berbagai pengalaman perempuan di tengah tekanan norma patriarki modern.

Identitas Buku

Judul: Breasts and Eggs
Penulis: Mieko Kawakami
Penerbit: Water Lily Literary
Bahasa: Inggris
ISBN: 9781529074413