Di era ketika hubungan bisa dimulai dari satu reply story, berlanjut ke chat tengah malam, lalu berakhir tanpa status kepastian. Nyatanya, urusan menikah ternyata tidak sesederhana mengganti status hubungan. Ada cinta, tentu. Ada kecocokan. Tapi ada juga restu, keluarga, kesiapan mental, urusan finansial, adat, sampai kehidupan setelah pernikahan yang kadang bikin kepala cenat-cenut.
Hal-hal semacam itulah yang coba dibahas dalam buku Aku, Kau dan KUA karya @TweetNikah. Diterbitkan Elex Media Komputindo pada 2013, buku ini adalah bacaan pranikah yang ringan, informatif, dan berbobot.
Kalau dibandingkan dengan buku pranikah yang lebih serius dan kental dengan pembahasan keagamaan, buku ini memang terasa lebih santai. Bahkan dari judulnya saja sudah ada kesan playful. Namun, jangan tertipu. Di balik gaya bertuturnya yang ringan, topik yang dibahas cukup serius dan dekat dengan realitas pasangan yang sedang mempertimbangkan pernikahan.
Isi Buku
Buku ini tidak berfokus pada pembahasan pernikahan dari sisi agama. Sebaliknya, pembaca diajak melihat sisi praktis yang sering kali justru bikin pasangan kelabakan ketika hubungan sudah masuk tahap serius.
Bagaimana mendapatkan restu? Bagaimana cara melamar? Bagaimana menghadapi calon mertua alias camer? Bagaimana menyikapi resepsi yang bersinggungan dengan adat keluarga?
Menikah bukan cuma tentang dua orang yang saling mencintai. Ada dua keluarga yang ikut bertemu, dua latar belakang yang mungkin berbeda, serta dua kebiasaan yang nantinya harus belajar hidup dalam satu ruang.
Menariknya, buku ini juga membahas berbagai manfaat pernikahan. Salah satunya berkaitan dengan kesehatan. Dalam buku disebutkan sejumlah penelitian yang mengaitkan status pernikahan dengan kondisi kesehatan dan kemampuan seseorang menghadapi penyakit. Ada pula pembahasan mengenai tingkat stres dan berbagai keuntungan finansial yang dapat muncul setelah seseorang membangun keluarga, misalnya akses terhadap fasilitas atau tunjangan tertentu dari tempat kerja.
Namun, bagian seperti ini sebaiknya tidak dibaca sebagai alasan utama seseorang harus menikah. Menikah bukan strategi mendapatkan fasilitas perusahaan atau “upgrade” kehidupan secara otomatis. Pernikahan tetap membutuhkan kesiapan dan tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar daftar keuntungan.
Kelebihan dan Kekurangan
Justru, salah satu pesan penting yang terasa dari buku ini adalah soal alasan menikah. Motivasi seseorang ketika memutuskan menikah dapat memengaruhi bagaimana ia menjalani kehidupan setelahnya. Menikah karena cinta tentu berbeda dengan menikah karena takut kesepian, tekanan usia, tuntutan keluarga, atau sekadar karena teman-teman sudah menikah semua.
Ini bagian yang relevan banget untuk generasi sekarang. Kita hidup di zaman ketika timeline media sosial dipenuhi foto lamaran, prewedding, akad, dan honeymoon. Melihat orang lain menikah bisa membuat kita merasa tertinggal. Padahal, pernikahan bukan perlombaan. Tidak ada podium untuk pasangan yang paling cepat sampai pelaminan.
Karena itu, persiapan pranikah seharusnya tidak berhenti pada memilih gedung, menentukan warna dekorasi, atau mencari konsep wedding. Yang jauh lebih penting adalah membicarakan kehidupan setelah pesta selesai.
Bagaimana mengelola uang? Bagaimana membagi pekerjaan rumah? Bagaimana menghadapi perbedaan karakter? Bagaimana berkomunikasi ketika sedang marah? Bagaimana hubungan dengan keluarga besar? Bagaimana mengambil keputusan besar?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang justru menentukan kualitas perjalanan setelah hari pernikahan.
Rekomendasi Pembaca
Aku, Kau dan KUA terasa menarik karena mampu menyampaikan isu serius dengan bahasa yang tidak membuat pembaca merasa sedang membaca buku manual kehidupan. Ada pembahasan yang serius, ada pula gaya bercanda yang membuatnya terasa dekat dengan pembaca muda.
Pada akhirnya, buku ini seperti mengajak pasangan berhenti sebentar sebelum berlari menuju pelaminan. Bukan untuk membuat takut, tetapi supaya lebih sadar bahwa menikah bukan sekadar menemukan orang yang tepat.
Menikah adalah tentang menjadi orang yang tepat juga. Sebab pesta pernikahan mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Foto dan video bisa selesai diedit dalam beberapa minggu. Tetapi kehidupan setelah kata sah bisa berlangsung puluhan tahun.
Identitas Buku
- Judul: Aku, Kau dan KUA
- Penulis: @TweetNikah
- Penerbit: PT Elex Media Komputindo
- Tahun Terbit: 2013
- Tebal: 224 halaman
- ISBN: 978-602-02-4811-0
Baca Juga
-
Bad Hair Day Bikin Hidup Ikut Berantakan: Petualangan Andita di Hair-Quake!
-
Kalau Belum Siap Bertanggung Jawab, Pertimbangkan Lagi Punya Anak
-
Membaca Yuk Gaul! Jadi Orang Keren Tanpa Kehilangan Arah
-
Bahaya Laten Normalisasi Korupsi: Saat Pejabat Publik Memaklumi Kejahatan Luar Biasa
-
Pray for Kalimantan: Ketika Hutan Gundul, Kemarau Menjadi Api
Artikel Terkait
Ulasan
-
Bad Hair Day Bikin Hidup Ikut Berantakan: Petualangan Andita di Hair-Quake!
-
Review Kadet 1947: Saat Sejarah Perang Dikemas Penuh Humor, Romansa, dan Tanpa Kesan Kaku
-
The Fantastic Four: First Steps, Fondasi Baru Menuju Konflik Besar MCU
-
Review Film A New Dawn: Potret Puitis Perubahan Zaman dan Kenangan Manusia
-
Hamsad Rangkuti dan Kisah Perjuangan Melawan Tentara NICA dalam BukuKereta Pagi Jam 5
Terkini
-
Jebakan Ketenangan Semu: Mengapa Transaksi Cashless Bikin Kita Makin Boros?
-
Menjaga Dapur Sendiri: ASEAN Butuh Aturan Latihan Militer Bersama
-
Gen Z Mulai Gemar Beli Produk Lokal: Bangga atau Sekadar Ikut Tren?
-
Jangan Asal Buang ke Selokan! Begini Cara Benar Menyikapi Bangkai Tikus di Jalan Raya
-
Kimpul Mendadak Viral, Benarkah Umbi Lokal Ini Lebih Sehat dari Nasi?