M. Reza Sulaiman | Athar Farha
Scene PAW Patrol The Dino Movie (IMDb)
Athar Farha

Anak-anak dalam film seringkali diberi satu nasihat untuk berani mengambil sikap. Ketika masalah datang, mereka harus maju. Ketika orang lain membutuhkan pertolongan, mereka harus siap. Ketika keadaan menjadi kacau, mereka dituntut menemukan solusi. Pesan semacam ini memang positif. Siapa yang keberatan mengajarkan keberanian kepada anak?

Nah, masalahnya muncul ketika keberanian hampir selalu diterjemahkan sebagai kemampuan untuk berguna bagi orang lain. Anak yang hebat adalah anak yang sigap, kompeten, produktif, mampu bekerja dalam tim, dan punya keterampilan untuk menyelesaikan masalah. Dalam dunia ‘PAW Patrol’, menjadi anak-anak seolah-olah hidup dalam tuntutan jadi pahlawan.

Dan gagasan itu kembali dalam ‘PAW Patrol: The Dino Movie’, film ketiga dari waralaba layar lebar PAW Patrol setelah PAW Patrol: The Movie (2021) dan PAW Patrol: The Mighty Movie (2023). 

Film ini rilis di bioskop Indonesia sejak 14 Agustus 2026, disutradarai Cal Brunker, yang menulis skenario bersama Bob Barlen berdasarkan serial ciptaan Keith Chapman. Produksinya melibatkan Paramount Animation, Nickelodeon Movies, dan Spin Master Entertainment, dengan Paramount Pictures sebagai distributor. 

Film berdurasi sekitar 88 menit ini diisi suara Carter Young sebagai Marshall, Mckenna Grace sebagai Skye, Rain Janjua sebagai Chase, Henry Bolan sebagai Ryder, Hayden Chamberlen sebagai Rex, Lucien Duncan-Reid sebagai Rubble, William Desrosiers sebagai Rocky, Nylan Parthipan sebagai Zuma, serta Ron Pardo sebagai Mayor Humdinger. Jennifer Hudson, Terry Crews, Jameela Jamil, Bill Nye, Snoop Dogg, dan Paris Hilton juga ikut mengisi suara.

Ceritanya kali ini dimulai ketika kapal PAW Patrol terjebak badai misterius dan akhirnya terdampar di pulau tropis yang belum dipetakan. Pulau tersebut ternyata dihuni dinosaurus. Di sana mereka bertemu Rex, seekor anjing yang sudah bertahun-tahun terdampar di pulau itu dan kemudian menjadi ahli dinosaurus. Rex juga merupakan karakter dengan kaki belakang yang membutuhkan kursi roda, sekaligus sosok kreatif yang membangun rumah pohon dan kehidupannya sendiri di tengah pulau.

Situasi berubah ketika musuh lama mereka, Mayor Humdinger, datang dan melakukan penambangan secara sembrono demi mengeksploitasi sumber daya alam pulau. Tindakannya membangunkan gunung berapi yang selama ini tertidur. Letusan tersebut mengancam dinosaurus dan seluruh ekosistem pulau.

PAW Patrol kemudian menghadapi misi penyelamatan terbesar mereka. Mereka harus menghadapi lava, menyelamatkan dinosaurus, dan menghentikan bencana sebelum seluruh kehidupan di pulau itu terancam punah.

Di tengah semua kekacauan itu, Marshall mendapatkan porsi emosional yang cukup besar. Dia merupakan anggota tim yang terkenal ceroboh dan sering melakukan kesalahan. Kali ini, persoalan tersebut berkembang menjadi rasa ragu terhadap kemampuan dirinya sendiri. Kehadiran Rex membantu Marshall melihat kesalahan bukan alasan untuk menganggap dirinya gagal sebagai bagian dari tim. 

Film pun kembali menawarkan pesan tentang keberanian, ketekunan, kerja sama, dan kepercayaan terhadap diri sendiri. Akankah usaha PAW Patrol berhasil? Sobat Yoursay bisa langsung tengok bioskop dan nonton filmnya tanpa kena banyak spoiler, ya. 

Anak Hebat dalam Dunia PAW Patrol Harus Selalu Berguna?

Poster PAW Patrol The Dino Movie (IMDb)

Lihat bagaimana dunia PAW Patrol bekerja. Setiap anggota memiliki kemampuan spesifik. Chase punya kemampuan kepemimpinan dan kepolisian. Skye menguasai penyelamatan dari udara. Rubble ahli konstruksi. Rocky bisa memanfaatkan barang-barang yang tersedia. Zuma mengurus penyelamatan di air. Marshall menjadi petugas pemadam kebakaran.

Mereka bukan semata-mata anak anjing yang bermain bersama. Mereka diibaratkan sistem kerja. Ketika masalah muncul, setiap orang harus tahu apa yang harus dilakukan.

Formula tersebut memang jadi daya tarik utama PAW Patrol. Anak-anak bisa belajar mengenali kerja sama, memahami fungsi masing-masing anggota tim, sekaligus melihat bahwa setiap orang punya kemampuan yang berbeda. Film ini bahkan menunjukkan sisi positif Marshall, yang mana membuat kita memahami, bahwa di balik kekurangannya tetap ada sesuatu yang berharga meski sering melakukan kesalahan.

Namun ada sesuatu yang mengganjal ketika pola tersebut dilihat dari perspektif yang lebih luas. Misalnya, kenapa anak-anak dalam film seperti ini hampir selalu harus punya fungsi? Masa sih. anak yang hanya ingin duduk, bingung, menangis, atau belum tahu harus melakukan apa hampir nggak jadi pusat cerita?

Padahal kehidupan anak sebenarnya jauh lebih berantakan dari itu. Anak bisa merasa takut tanpa langsung menemukan keberanian. Bisa melakukan kesalahan tanpa buru-buru tahu cara memperbaikinya. Anak juga bisa merasa nggak berguna, dan perasaan itu kadang membutuhkan waktu untuk dipahami.

Di sinilah PAW Patrol: The Dino Movie punya paradoks menarik. Film ini ingin mengatakan kepada anak, mereka nggak harus sempurna. Yup, Marshall nggak harus berhenti melakukan kesalahan untuk menjadi bagian dari PAW Patrol. Pesan itu bagus. Namun dunia yang ditawarkan film tetap merupakan dunia yang sangat menuntut performa. Marshall akhirnya tetap harus kembali ke lapangan, menyelesaikan misi, menyelamatkan makhluk lain, dan membuktikan bahwa dirinya mampu.

Perlu Sobat Yoursay ketahui, aku nggak menganggap fantasi menjadi pahlawan sebagai sesuatu yang buruk. Anak-anak memang membutuhkan cerita tentang keberanian. Mereka perlu melihat karakter yang membantu orang lain dan bekerja sama ketika menghadapi masalah.

Persoalannya muncul ketika gambaran kepahlawanan menjadi satu-satunya ukuran tentang anak yang baik. Dalam PAW Patrol, dunia selalu membutuhkan penyelamat. Setiap masalah punya alarm. Setiap alarm memanggil tim. Setiap anggota punya kendaraan. Setiap kendaraan punya fungsi. Setiap fungsi menghasilkan penyelesaian. Semuanya bergerak.

Anak-anak yang menonton akhirnya mendapat fantasi, dunia selalu bisa diperbaiki kalau kita cukup berani, kompak, dan pintar mencari solusi. Sebagai fantasi, tentu menyenangkan. Bila dijadikan gambaran kehidupan, konsep tersebut terlalu rapi.

Meski begitu, aku nggak ingin menjadikan kritik ini sebagai alasan untuk menganggap PAW Patrol: The Dino Movie gagal sebagai film anak. Film ini setidaknya memahami jadi pahlawan bukan berarti selalu sempurna. Pesan itu penting.

Hanya saja, film ini akan terasa jauh lebih kuat kalau keberanian nggak selalu harus dibuktikan melalui keberhasilannya menjalankan misi. Akan lebih menarik kalau film berani memberi tahu anak bahwa mereka boleh gagal tanpa harus segera menunjukkan kemampuan baru. Mereka boleh berhenti sejenak atau merasa belum siapa. Sebab anak nggak harus menjadi PAW Patrol supaya bernilai. Ups