M. Reza Sulaiman | Ukhro Wiyah
Official Lyric Video Usik (YouTube/Feby Putri NC)
Ukhro Wiyah

Segala sesuatu yang pernah kita lalui di masa lalu, yang bahkan sudah kita lupakan seiring berjalannya waktu, ternyata tak semua benar-benar menghilang. Ada yang masih menyisakan luka dan trauma mendalam, ada pula yang meninggalkan kenangan indah, kadang juga ada yang tidak benar-benar bisa dilupakan sekeras apa pun usaha kita mencobanya. Serangkaian kisah masa lalu itu, terkadang bisa membuat hidup kita terusik di masa depan.

Usik. Begitulah Feby Putri memberi judul pada lagunya yang dirilis tahun 2022 lalu. Kemudian di kolom deskripsi Official Lyric Video lagu tersebut, Feby menuliskan satu kalimat yang mencuri perhatian saya: “Masih berharap cahaya datang di sekitar orang-orang yang mulai menjatuhkan.” Sebuah kalimat sederhana yang punya makna cukup dalam dan erat dengan inti keseluruhan lagu ini. Yaitu tentang upaya bertahan di tengah situasi yang tak mudah dijalani dan tetap berharap cahaya kebaikan akan dihadirkan oleh Tuhan.

Lagu Usik diawali dengan gumaman yang tak begitu jelas. “Tusuk halt gnay natagni gnajrenem. Tudusret uk ini gnaur tagnah malad. Tural halt gnay lah kaugnem.” Gumaman ini seolah mengisyaratkan pikiran yang terasa rumit, penuh, dan sesak oleh hal-hal yang sulit untuk dijelaskan.

Bait pertama di atas dilanjutkan dengan gambaran seseorang yang tersesat dalam ingatan masa lalunya. “Tersesat beriring kabut. Menguak hal yang tlah larut. Dalam hangat ruang ini kutersudut, menerjang ingatan yang tlah kusut.” Mungkin begitulah gambaran ketika luka masa lalu kembali muncul di ingatan setelah sekian lama kita mencoba menjalani hidup dengan baik. Kenangan itu terlintas begitu saja tanpa diundang. Sebab tanpa kita sadari, ada bagian diri kita yang belum berdamai dengan hal yang pernah terjadi.

“Hanyut di dalam duniaku, binasa seram kelam redup. Perlahan menjerit aas yang kuterima dari orang-orang yang tak paham.”

Menurut saya, inilah bagian yang paling menyakitkan dari keseluruhan lagu. Berdamai dengan luka masa lalu bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Bahkan terkadang ada yang sampai bertahun-tahun tenggelam dalam kenangan menyakitkan hingga dunianya terasa begitu gelap. Namun sayangnya, tidak semua orang benar-benar bisa memahami kesakitannya. Ada yang menganggap remeh, ada pula yang dengan tega menghakimi tanpa mengerti yang sebenarnya terjadi.

Melalui lagu ini, seolah Feby ingin menyampaikan bahwa yang lebih menyakitkan dari pengalaman buruk adalah perasaan bahwa orang lain tidak memahami mengapa pengalaman tersebut begitu membekas. Mungkin dari luar kita tampak bisa menjalani hari dengan baik-baik saja, tetapi sebenarnya kita juga sedang berjuang menghadapi sesuatu yang tak bisa kita jelaskan dengan mudah.

Selesai dengan penggambaran luka, Feby melanjutkan lirik lagu Usik dengan harapan dan keinginan untuk pulih. “Hari-hari kujalani, harap ada yang bermakna. Kembalikanlah senyumku yang pergi, secepat seperti dilahirkan lagi.” Bagi orang-orang yang sedang terluka, mereka tidak meminta untuk sembuh saat itu juga. Harapannya sederhana: bisa menjalani hidup yang lebih bermakna dan menemukan kembali kebahagiaan yang sempat hilang.

“Tiada yang meminta seperti ini, tapi menurutku Tuhan itu baik. Merangkai ceritaku sehebat ini. Tetap menunggu dengan hati yang lapang, bertahan dalam macamnya alur hidup sampai bisa tiba bertemu cahaya.”

Nggak ada seorang pun yang meminta kehidupan penuh luka. Namun, begitulah hidup. Terkadang memang ada hal-hal yang tak sesuai harapan. Ada hal-hal dalam hidup yang mungkin membuat kita sakit, kecewa, lelah, bahkan tak paham mengapa itu harus terjadi. Dan di tengah semua itu, kita memilih untuk tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah benar-benar meninggalkan kita dan percaya bahwa Tuhan adalah sebaik-baik perancang kehidupan. Akhirnya, kita memilih menunggu, berdamai dengan semua yang terjadi, dan bertahan sampai memahami maksud dari cerita yang Tuhan rangkai untuk kita.

Lalu di akhir bait ini, Feby menuliskan frasa “sampai bisa tiba bertemu cahaya” yang seolah menunjukkan jika kehidupan yang gelap dan penuh luka ini tidak berlangsung selamanya. Akan ada titik ketika kita memahami mengapa perjalanan tersebut harus dilewati, atau setidaknya menemukan kedamaian setelah melewatinya.

Selain itu pengulangan kalimat “Tapi menurutku Tuhan itu baik” beberapa kali di bagian akhir, bagi saya terasa seperti penegasan sekaligus pengingat untuk diri sendiri. Kalimat yang juga mengingatkan kita bahwa iman seseorang bisa naik turun, terutama ketika berada dalam kondisi sulit. Karena itu, terkadang mengucapkannya berulang-ulang bisa menjadi cara agar hati tidak lupa bahwa seberat apapun hidup yang kita jalani, Tuhan tetap baik.

Overall, lagu Usik bercerita tentang seseorang yang tetap memilih bertahan meskipun belum sepenuhnya memahami hidup yang ia jalani. Sebab ada keyakinan dalam hatinya bahwa di balik semua lukanya, Tuhan menyiapkan cahaya yang indah untuknya. Selaras dengan janji Allah dalam QS. al-Insyirah ayat 5 dan 6 bahwa sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Terkadang kita mungkin terluka dan tidak menginginkan hidup kita sekarang, tapi kita tetap memilih untuk bertahan serta percaya pada janji-Nya.