Lintang Siltya Utami | Chairun Nisa
The Magicians Nephew. (Dok. Pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Saya mengenal Narnia jauh sebelum akhirnya membuka bukunya. Dunia penuh keajaiban itu sudah lebih dulu saya kenal lewat film yang saya tonton sejak dulu, lengkap dengan Aslan, Penyihir Putih, dan lemari yang menjadi pintu menuju dunia lain. Namun, The Magician's Nephew menjadi pengalaman pertama saya membaca kisah Narnia dalam bentuk novel. Ada rasa penasaran ketika akhirnya mengetahui bahwa kisah ini bukan sekadar petualangan menuju Narnia, tetapi juga membawa pembaca melihat bagaimana dunia itu bermula.

Yang membuat saya semakin penasaran adalah posisi buku ini dalam rangkaian The Chronicles of Narnia. Secara kronologis, The Magician's Nephew merupakan kisah paling awal karena menceritakan asal mula Narnia. Pembaca diajak kembali ke London pada akhir abad ke-19, ketika dua anak bernama Digory dan Polly tanpa sengaja terlibat dalam percobaan aneh milik Paman Andrew. Dari sanalah petualangan mereka dimulai dan perlahan membawa mereka menuju sebuah dunia yang bahkan belum pernah ada sebelumnya.

Masalahnya, Paman Andrew ternyata bukan sekadar orang dewasa yang aneh. Ia sedang melakukan percobaan dengan cincin ajaib yang dapat membawa seseorang berpindah dari satu dunia ke dunia lain. Digory dan Polly akhirnya mencoba cincin tersebut dan menemukan sebuah tempat misterius yang disebut Hutan di Antara Dunia. Dari tempat inilah mereka dapat memasuki dunia-dunia lain. Salah satu perjalanan mereka membawa mereka bertemu Jadis, seorang ratu yang memiliki kekuatan besar dan membawa kehancuran bagi dunianya sendiri. Tanpa menyadari akibatnya, Digory dan Polly justru membawanya kembali ke dunia mereka.

Setelah kekacauan itu, perjalanan Digory dan Polly justru membawa mereka ke tempat yang belum pernah mereka bayangkan. Mereka tiba di sebuah dunia yang masih kosong dan sunyi. Di hadapan mereka, Aslan mulai menciptakan Narnia melalui nyanyiannya. Tanah, tumbuhan, dan hewan perlahan muncul, lalu kehidupan memenuhi dunia yang sebelumnya hanya berupa kegelapan. Di tengah keindahan awal Narnia itu, Digory tetap harus menghadapi akibat dari keputusan yang telah dibuatnya. Ia pun mendapat tugas penting yang berkaitan dengan sebuah pohon yang kelak menjadi salah satu bagian penting dalam kisah Narnia.

Setelah kekacauan itu, perjalanan Digory dan Polly justru membawa mereka ke tempat yang belum pernah mereka bayangkan. Mereka tiba di sebuah dunia yang masih kosong dan sunyi. Di hadapan mereka, Aslan mulai menciptakan Narnia melalui nyanyiannya. Tanah, tumbuhan, dan hewan perlahan muncul, lalu kehidupan memenuhi dunia yang sebelumnya hanya berupa kegelapan. Di tengah keindahan awal Narnia itu, Digory tetap harus menghadapi akibat dari keputusan yang telah dibuatnya. Ia pun mendapat tugas penting yang berkaitan dengan sebuah pohon yang kelak menjadi salah satu bagian penting dalam kisah Narnia.

Di bagian inilah kisah The Magician’s Nephew mulai terasa lebih dari sekadar cerita tentang penemuan dunia ajaib. Perjalanan Digory memperlihatkan bagaimana rasa ingin tahu dapat membawa seseorang pada pengalaman yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Ia memang masih seorang anak yang mudah penasaran dan terkadang bertindak gegabah, tetapi perjalanan di Narnia perlahan memaksanya untuk belajar bertanggung jawab. Dunia yang baru diciptakan itu menjadi tempat bagi Digory untuk berhadapan dengan kesalahan, godaan, sekaligus kesempatan untuk memperbaiki apa yang telah ia lakukan.

Menariknya, Narnia dalam buku ini belum tampil sebagai negeri yang penuh kerajaan, peperangan, atau petualangan besar seperti yang dikenal dalam kisah-kisah berikutnya. Pembaca justru diajak menyaksikan bagaimana semuanya bermula. Dari dunia yang sebelumnya kosong, Narnia perlahan menjadi tempat yang dihuni makhluk hidup dan memiliki harapan untuk berkembang. Karena itu, kisah Digory dan Polly terasa seperti melihat halaman pertama dari sebuah sejarah panjang—sebuah awal yang sederhana, tetapi nantinya menjadi dasar bagi berbagai peristiwa besar dalam dunia Narnia.

Meski menarik, buku ini juga memiliki kelemahan. Lewis membangun tokoh dan konfliknya dengan cukup sederhana. Beberapa persoalan besar hanya dibagi dengan jelas antara kebaikan dan kejahatan, sehingga sisi psikologis tokohnya kurang mendalam. Hal ini paling terlihat pada karakter Jadis. Ia memang kuat sebagai tokoh antagonis, tetapi pembaca tidak banyak diajak memahami sisi batinnya.

Menurut saya, masalahnya bukan pada iman atau pesan keagamaan Lewis, melainkan pada keterbatasannya dalam melihat dunia dari sudut pandang tokoh yang berbeda darinya. Pada akhirnya, The Magician’s Nephew tetap menjadi awal yang menarik bagi dunia Narnia. Ceritanya sederhana, tetapi berhasil membangun fondasi bagi kisah-kisah berikutnya. Buku ini mungkin tidak sempurna, tetapi tetap layak dibaca bagi siapa pun yang ingin mengetahui bagaimana Narnia bermula.