Hayuning Ratri Hapsari | Ukhro Wiyah
Ilustrasi Menghitung Gaji (magnific.com/jcomp)
Ukhro Wiyah

Salah satu bentuk adegan dewasa adalah ketika kita mulai membuka kalkulator dan menghitung sisa gaji di awal bulan. Bahkan sebelum gajinya masuk, kita sudah tahu sisanya berapa. Sedikit menyedihkan, tapi itu adalah kenyataan yang dialami banyak orang. Terutama orang-orang dengan pendapatan pas-pasan.

Sebagian orang menjadikan awal bulan sebagai hari-hari yang paling ditunggu. Sebab pada saat itu, banyak notifikasi m-banking berbunyi. Bukan sekadar iklan layanan perbankan, tetapi tanda hari gajian telah datang. Bibir tersenyum lebar tanpa sadar. Perasaan bahagia menyapa tanpa perlu diminta.

Sayangnya, kegembiraan itu perlahan meredup. Kebahagiaan yang datang ketika gaji masuk ke rekening hanya bertahan sebentar. Sebelum akhirnya, otak memaksa orang-orang teringat pada banyaknya tagihan dan berbagai kebutuhan yang tak bisa ditunda. Seperti halnya ungkapan yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang kita miliki sejatinya hanyalah titipan. Gaji yang baru masuk seolah sudah memiliki tujuan.

Makan, kebutuhan sehari-hari, biaya transportasi, tagihan listrik, langganan aplikasi, kuota internet atau wifi, hingga cicilan. Semua itu seperti telah mengambil peran masing-masing sebagai “tempat pulang” gaji yang sempat mampir sejenak ke rekening kita. Dan beberapa hari kemudian, yang tersisa hanya sebuah pertanyaan, “Baru aja gajian, kok tinggal segini?”

Nggak sedikit orang yang terkadang baru menyadarinya setelah melihat saldo berkurang cukup banyak. Apalagi bagi anak muda zaman sekarang yang hidup di era serba mahal dan standar hidup yang semakin tinggi. Persoalan semacam ini sering kali terasa cukup menyiksa bagi generasi muda yang baru menapaki dunia kerja dengan pendapatan tak seberapa.

Sebagian orang mungkin menilai mereka boros atau nggak bisa mengatur finansial hanya karena gaji yang tak bertahan lama di dompet atau pun rekening. Padahal sebenarnya banyak di antara mereka yang sudah berusaha keras mengatur keuangan agar gaji imutnya cukup untuk satu bulan ke depan. Sayangnya, ketika pendapatan tidak terlalu besar, kebutuhan pokok sudah lebih dulu mengambil porsi mayoritas. Akhirnya, ruang untuk menabung atau menikmati hasil kerja semakin kecil. Dan tentu, orang-orang dengan nasib seperti ini tidak bisa begitu saja dihakimi boros. Sebab ruang finansial yang mereka miliki memang terbatas.

Di tengah keterbatasan, semua pengeluaran terasa penting. Mulai dari makan sehari-hari, transportasi, keperluan pribadi, kebutuhan untuk kerja atau kuliah, kuota internet, hiburan, dan lain sebagainya. Banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi tersebut kerap melahirkan dilema tentang kebutuhan mana yang harus dipenuhi lebih dulu. Masalahnya semua itu terasa penting. Di sisi lain, mereka juga harus menabung dan menyisihkan dana darurat.

Dalam situasi seperti itu, pemasukan yang sekadar numpang lewat saja rasanya seperti siklus langganan yang terjadi tiap bulan. Gaji masuk, senang sebentar, lalu sibuk mengalokasikannya ke berbagai kebutuhan. Sebagian disisihkan ke tabungan dana darurat. Beberapa waktu kemudian, kebutuhan tidak terduga datang. Uang yang seharusnya ditabung pun harus terpakai untuk hal lainnya. Dan seperti yang sempat saya singgung sebelumnya, rasanya gaji hanya mampir sebentar di rekening sebelum kembali pergi ke berbagai kebutuhan.

Padahal, sebagai anak muda mereka tentu ingin menikmati hasil kerja kerasnya. Bukan sekadar bekerja untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan pokok saja. Jajan, ngopi, nonton, membeli sesuatu yang disukai, atau sesekali pergi nongkrong bersama teman. Tetapi ketika penghasilan terbatas, muncul rasa bersalah setiap kali mengeluarkan uang untuk kesenangan. Belum lagi jika ada yang menganggapnya boros karena hal itu. Di sini, yang jadi pertanyaan: apakah orang dengan gaji pas-pasan tidak layak menikmati hasil kerjanya dan bersenang-senang sebentar?

Jawaban dari pertanyaan tersebut tidaklah sederhana. Sebab persoalannya di sini bukan hanya tentang layak atau tidak. Setiap orang tentu memiliki hak untuk menikmati hasil kerja kerasnya sendiri. Namun, yang perlu disadari adalah batasannya. Kita boleh-boleh saja mencari hiburan dan bersenang-senang, asalkan kesenangan itu tidak membuat kebutuhan yang seharusnya terpenuhi berakhir dikorbankan. Begitu pula di saat kita perlu mengambil jeda dan menggunakan uang untuk membahagiakan diri sendiri, kita tak harus merasa bersalah atau takut. Sebab mengatur keuangan bukan berarti melarang diri sendiri menikmati hidup, tetapi menentukan batas agar kesenangan hari ini tidak menjadi masalah di kemudian hari.

Sampai di sini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa gaji yang terasa cepat habis tidak selalu berarti ada kebocoran pengeluaran atau pun pemborosan di sana. Karena dilema anak muda dengan gaji pas-pasan bukan hanya bagaimana membuat uang bertahan sampai akhir bulan. Ada pula keinginan untuk menabung, memenuhi kebutuhan, membantu orang lain, sekaligus menikmati sedikit hasil kerja sendiri. Meskipun demikian, tetap penting bagi mereka untuk mengetahui ke mana uangnya pergi, dan menentukan prioritas serta batasan agar pengelolaan finansial tetap sehat.