Hayuning Ratri Hapsari | Davina Aulia
The Odyssey (IMDb.com)
Davina Aulia

Pengalaman menyaksikan film-film Christopher Nolan hampir selalu meninggalkan kesan serupa. Maskulin, penuh perang, dan berpusat pada laki-laki yang memikul beban besar dalam hidupnya. Dunkirk (2017), Tenet (2020), hingga Oppenheimer (2023) sama-sama memperlihatkan laki-laki yang berhadapan dengan konflik besar, mengambil keputusan penting, dan menjadi pusat dari peristiwa yang menentukan nasib banyak orang.

Karena itu, ketika Nolan membawa The Odyssey ke layar lebar, saya sempat menduga film ini akan menjadi satu lagi kisah tentang laki-laki yang pergi meninggalkan rumah, menghadapi berbagai rintangan, lalu kembali sebagai pahlawan. Dugaan itu tidak sepenuhnya salah. Odysseus tetap menjadi pusat perjalanan epik yang penuh peperangan, monster, dan petualangan. Namun, setelah menontonnya, justru bukan perjalanan Odysseus yang paling lama tinggal di kepala saya, melainkan bagaimana Penelope bertahan di Ithaca ketika suaminya pergi.

Penelope menarik perhatian saya karena perjuangannya berlangsung dalam situasi yang terbatas. Ketika Odysseus memiliki kebebasan untuk meninggalkan rumah dan mengarungi dunia, Penelope justru harus tetap berada di Ithaca dan menghadapi konsekuensi dari ketidakhadirannya. Ia harus mempertahankan kerajaan, menghadapi para pelamar, sekaligus terus berhadapan dengan tuntutan bahwa sebagai seorang perempuan, ia seharusnya segera menikah kembali.

Pernikahan dalam situasi tersebut bukan lagi sekadar soal perasaan, tetapi berkaitan dengan kekuasaan dan keberlangsungan kerajaan. Di tengah tekanan itu, Penelope tidak memiliki banyak pilihan yang terbuka baginya. Namun, keterbatasan tersebut justru membuat kecerdasannya menjadi sangat penting.

Hal ini membuat saya melihat kembali bagaimana perempuan ditempatkan dalam dunia The Odyssey. Ada tuntutan bahwa perempuan harus menikah, harus berada dalam posisi tertentu, dan harus mengikuti aturan yang sebagian besar ditentukan oleh laki-laki. Menariknya, film ini tidak hanya memperlihatkan persoalan tersebut melalui Penelope. Helen juga mejadi contoh bagaimana perempuan dalam direduksi menjadi satu karakteristik yang melekat pada tubuhnya.

Selama berabad-abad, Helen hampir selalu dikenang sebagai perempuan yang sangat cantik, seolah kecantikan merupakan hal utama yang membuat dirinya bernilai. Ia dikenal sebagai ‘Helen yang cantik’ sebelum kita mengenalnya sebagai individu dengan pikiran, pilihan, atau kehendaknya sendiri. Bagi saya, cara pandang semacam ini memperlihatkan bagaimana perempuan dalam kisah-kisah klasik sering kali dinilai berdasarkan bagaimana mereka dilihat oleh orang lain.

Penelope sendiri menawarkan gambaran yang berbeda. Nilai dirinya tidak terutama dibangun melalui kecantikan, melainkan melalui kemampuannya dalam membaca situasi dan mengambil keputusan. Salah satu strategi yang paling menarik adalah ketika Penelope menenun kain kafan Laertes dan membongkarnya kembali setiap malam.

Pada awalnya, tindakan tersebut mungkin terlihat seperti cara sederhana untuk menunda keputusan yang tidak diinginkannya. Penelope mengambil aktivitas domestik yang dianggap sebagai wilayah perempuan dan mengubahnya menjadi alat untuk mempertahankan kekuasaan. Penelope tidak melawan pada pelamar secara fisik, tetapi menggunakan waktu, bahasa, dan manipulasi persepsi untuk mempertahankan posisinya.

Saya menyukai gagasan bahwa film ini tidak harus membuat Penelope menjadi perempuan yang kuat dengan cara yang sama seperti laki-laki. Ia tidak perlu memegang pedang atau berada di medan perang untuk mendapatkan posisi sebagai tokoh yang berdaya. Dalam ruang yang sempit, Penelope tetap menemukan cara untuk bergerak.

Penelope bernegosiasi, menyusun strategi, membaca ancaman, dan memanfaatkan ekspektasi masyarakat terhadap dirinya. Justru karena ruang geraknya terbatas, setiap keputusan yang diambil Penelope justru memiliki konsekuensi yang besar. Penelope tidak sekadar menunggu Odysseus pulang, melainkan memastikan bahwa saat suaminya kembali, Ithaca masih menjadi kerajaan yang dapat disebut rumah.

Kontras antara Odysseus dan Penelope inilah yang menurut saya menjadikan The Odyssey menarik untuk dibaca ulang dari perspektif perempuan. Odysseus memiliki kisah perjalanan yang mudah dikenali sebagai kepahlawanan. Sebaliknya, perjuangan Penelope justru berlangsung di tempat yang sama, dalam rutinitas sederhana, tetapi di sanalah ia mempertahankan sesuatu yang lebih besar.

Karena itu, pengalaman menonton The Odyssey membuat saya melihat film ini sedikit berbeda dari ekspektasi awal saya terhadap Nolan. Saya masih melihat ketertarikannya pada kepahlawanan, ambisi, konflik, dan laki-laki yang berhadapan dengan dunia. Namun, kali ini saya juga melihat orang-orang yang harus hidup dengan konsekuensi dari perjalanan tersebut. Odysseus mungkin menjadi orang yang melakukan perjalanan panjang, tetapi Penelope adalah orang yang harus menjaga agar kehidupan di rumahnya tidak ikut runtuh. Film ini memperlihatkan bahwa di balik seorang pahlawan yang pergi menaklukkan dunia, ada seseorang yang tinggal untuk mempertahankan dunia yang ditinggalkannya.

The Odyssey membuat saya mempertanyakan kembali cara kita mendefinisikan kepahlawanan. Selama ini, keberanian dalam kisah epik begitu sering dikaitkan dengan perang, kekuatan, dan kemampuan menaklukkan sesuatu. Padahal, Penelope menunjukkan bentuk keberanian yang berbeda. Kemampuan untuk bertahan, berpikir, dan mempertahankan apa yang menjadi tanggung jawabnya ketika keadaan tidak memberinya banyak pilihan.

Film ini memang bercerita tentang seorang laki-laki yang berusaha pulang, tetapi di balik perjalanan tersebut terdapat kisah seorang perempuan yang tidak pernah benar-benar pergi dan justru menghabiskan waktunya untuk memastikan bahwa masih ada rumah yang dapat dituju ketika sang pahlawan akhirnya kembali.