Hayuning Ratri Hapsari | Ryan Farizzal
Salah satu adegan di film The Dog Stars (IMDb)
Ryan Farizzal

The Dog Stars (2026), film pasca-apokaliptik yang disutradarai Ridley Scott berdasarkan novel Peter Heller tahun 2012, menghadirkan kisah tentang kelangsungan hidup, kehilangan, dan pencarian harapan di tengah kehancuran peradaban. Film berdurasi sekitar 118 menit ini dibintangi Jacob Elordi sebagai Hig, Josh Brolin sebagai Bangley, Margaret Qualley sebagai Cima, serta Guy Pearce, Allison Janney, dan Benedict Wong. Di Indonesia, film ini tayang di bioskop mulai 28 Agustus 2026, sebagaimana dikonfirmasi akun resmi 20th Century Studios Indonesia, Cinépolis, dan CGV.

Refleksi Jiwa yang Sunyi dan Penuh Emosional

Salah satu adegan di film The Dog Stars (IMDb)

Latar cerita berlatar tahun 2035, satu dekade setelah pandemi flu mematikan menghancurkan hampir seluruh populasi manusia. Hig, seorang mekanik dan pilot sipil yang kehilangan istri serta anak yang belum lahir, bertahan hidup di landasan udara terpencil di Colorado bersama anjing kesayangannya, Jasper, dan Bangley, mantan marinir yang keras serta sangat waspada. Mereka mempertahankan perimeter dari ancaman para Reapers, kelompok penyintas liar yang brutal. Ketika Hig menangkap transmisi radio misterius, ia memutuskan untuk terbang lebih jauh dengan pesawat Cessna tuanya demi mencari tanda-tanda kehidupan yang lebih baik. Perjalanan itu mempertemukannya dengan Cima, seorang medic muda, dan ayahnya, Pops, sekaligus memaksa Hig menghadapi pertanyaan mendasar: apakah sekadar bertahan hidup cukup, atau manusia masih membutuhkan koneksi dan harapan?

Scott mengarahkan film ini dengan pendekatan yang lebih kontemplatif daripada sekadar thriller aksi. Sinematografi Erik Messerschmidt menangkap lanskap luas yang indah sekaligus sunyi, sementara skor Harry Gregson-Williams memperkuat suasana melankolis. Penampilan Elordi sebagai Hig yang penuh duka namun tetap berempati menjadi poros emosional. Brolin memberikan nuansa keras dan pragmatis pada Bangley, Qualley menampilkan kelembutan yang rentan, dan Pearce menghadirkan sikap protektif yang bertahap melunak. Janney muncul dalam peran yang mencolok di salah satu segmen paling janggal.

Review Film The Dog Stars

Poster film The Dog Stars (IMDb)

Secara tema, film mengeksplorasi kesedihan, loyalitas, serta kemungkinan membangun kembali kemanusiaan. Hig terus diganggu kenangan masa lalu, sementara Jasper menjadi penghubung emosional terakhirnya dengan kehidupan sebelum bencana. Hubungan antar tokoh menyoroti ketegangan antara isolasi demi keamanan dan kerentanan yang diperlukan untuk koneksi sejati. Kurasa film terasa lebih romantis dan kontemplatif daripada menegangkan, dengan elemen yang familiar dari genre pasca-apokaliptik. Untuk visual dan penampilan aktor cukup bagus sih, namun naskah Mark L. Smith terkadang kurang tajam dalam mengembangkan latar belakang ancaman dan mempertahankan ketegangan secara konsisten.

Adegan paling dramatis terjadi pada serangan dini terhadap compound Hig dan Bangley. Kelompok marauder menyusup, memicu konfrontasi brutal yang berujung pada kematian Jasper saat melindungi Hig. Kehilangan anjing yang telah menemaninya sejak masa bersama istri menjadi titik balik emosional yang keras. Hig menguburkan Jasper di dekat makam istrinya, dan tragedi ini mendorongnya meninggalkan keamanan relatif landasan udara untuk mengejar transmisi radio. Adegan malam dengan night-vision, tembakan, dan dampak emosional yang langsung terasa memperkuat intensitas kehilangan tersebut, sekaligus menandai pergeseran dari rutinitas bertahan hidup menuju pencarian makna yang lebih dalam.

Untuk adegan yang paling kuingat setelah nonton adalah momen penutup di bawah langit berbintang. Hig dan Cima memandang konstelasi, dan Hig menamai salah satunya Jasper. Simbol bintang dan anjing yang setia menyatukan tema harapan, kenangan, serta kemungkinan masa depan. Urutan terbang Hig di atas lanskap kosong, momen tenang bersama Cima, serta kontras antara kekerasan dan kelembutan juga meninggalkan kesan abadi. Adegan di bandara Grand Junction dengan tokoh Janney yang eksentrik memberikan kejutan tonal yang janggal namun sulit dilupakan.

Menurutku, film ini tidak selalu berhasil menjaga keseimbangan antara aksi, refleksi, dan pengembangan karakter. Beberapa segmen terasa melambat, dan elemen-elemen tropes genre kadang mengurangi kebaruan. Akan tetapi, kekuatan visual, penampilan utama, serta pesan tentang pentingnya koneksi manusia di tengah kehancuran memberikan nilai tersendiri. The Dog Stars menawarkan pengalaman yang lebih introspektif daripada spektakuler, cocok buat kamu yang menghargai drama emosional di tengah setting distopia.

Dengan rilis di bioskop Indonesia pada 28 Agustus 2026, film ini memberi kesempatan untuk menyaksikan karya Scott yang berbeda dari epik sebelumnya. Buat kamu yang menyukai kisah tentang ketahanan jiwa manusia, The Dog Stars layak disaksikan sebagai refleksi tentang apa yang tetap berharga ketika dunia yang dikenal telah berakhir. Rating pribadi: 7.9/10.