Sekar Anindyah Lamase | Ervina E. W.
Visual utama manga Super Psychic Policeman Chojo (animeplanet/Super Psychic Policeman Chojo)
Ervina E. W.

Membaca tiga volume pertama Super Psychic Policeman Chojo rasanya seperti menemukan kembali pusaka komedi murni yang belakangan ini makin jarang ditemui di industri manga Jepang. Di tengah gempuran serial modern yang selalu memadukan komedi dengan plot berat atau drama kelam, karya Shun Numa ini justru berani tampil sederhana dan fokus pada tujuan utamanya, yaitu mengocok perut pembaca.

Saya pribadi sangat menikmati bagaimana manga Super Psychic Policeman Chojo mengusung pendekatan lelucon klasik dengan desain visual bergaya retro yang memancarkan aura nostalgia era lama. Gaya gambar yang lugas dan tidak berlebihan membuat setiap panel terasa begitu ringan namun sangat efektif dalam menyampaikan pesan komedinya.

Fokus cerita yang mengundang gelak tawa ini berpusat pada Nao Ippongi, seorang petugas polisi pemula yang baru saja ditugaskan di Kantor Polisi Chinjuku Barat. Nasib sial langsung menghampirinya saat dia dipasangkan dengan Meguru Chojo, polisi senior yang memiliki kekuatan psikis luar biasa, tetapi sangat dibenci karena sifatnya yang malas, egois, dan kekanak-kanakan.

Dinamika antara Nao yang berperan sebagai straight man (karakter serius) dan Chojo yang terbiasa bertindak sesuka hati menjadi fondasi utama yang menggerakkan seluruh komedi dalam tiap babnya. Kontras kepribadian mereka yang begitu ekstrem berhasil menciptakan gesekan konflik yang selalu berakhir dengan situasi konyol yang tidak terduga.

Pengalaman saya menyusuri lembar demi lembar komik ini terasa sangat mirip seperti menikmati tayangan kartun episodik di hari Sabtu pagi. Setiap bab menyajikan kekacauan baru terkait tugas kepolisian mereka, mulai dari menangani preman lokal, bermain dengan anak-anak di taman, hingga berhadapan dengan sindikat kejahatan besar.

Uniknya, kekuatan psikis milik Chojo sering kali justru terasa sebagai hal yang paling 'normal' di tengah jajaran karakter sampingan lain yang kepribadiannya jauh lebih ajaib dan ekstrem. Penulis sangat mahir memutarbalikkan norma sehingga hal supranatural malah kalah menonjol dibanding kelakuan aneh para polisinya.

Interaksi antarkarakter di dalam markas polisi Chinjuku Barat benar-benar menjadi nilai jual utama yang membuat saya betah membaca hingga volume ketiga. Kita akan dihibur oleh kehadiran mantan rekan kerja Chojo yang sangat menyeramkan dan tahu terlalu banyak tentang kehidupan pribadinya, hingga sosok Nao sendiri yang ternyata menyimpan kekuatan fisik super di balik penampilannya yang lugu.

Belum lagi ditambah kehadiran karakter polisi yang selalu mabuk dalam menjalankan tugasnya serta robot polisi kecil yang keberadaannya sama sekali tidak pernah dianggap serius oleh rekan-rekannya. Keanekaragaman karakter absurd inilah yang menjaga ritme komik tetap hidup dan penuh kejutan di setiap episodenya.

Sebagai penikmat manga komedi, saya sangat menikmati bagaimana Shun Numa menyisipkan berbagai parodi cerdas dan referensi unik ke dalam jalan ceritanya. Ada bab-bab tertentu yang secara terang-terangan memparodikan waralaba populer seperti Yu-Gi-Oh! dan Super Sentai dengan eksekusi skenario yang sangat menggelitik.

Kejadian ketika para karakter dewasa ini mendadak bertingkah kekanak-kanakan di taman bermain menjadi salah satu momen komedi favorit yang berhasil membuat saya tertawa terbahak-bahak. Keberanian komikus dalam mengeksplorasi lelucon parodi ini membuat petualangan mereka terasa tidak pernah kehabisan ide.

Namun, di balik semua keseruan tersebut, saya menyadari ada satu kelemahan terbesar yang mulai terasa begitu saya menyelesaikan volume pertama. Formula lelucon mingguan yang digunakan terasa sangat kaku dan perlahan membuat alur komedinya menjadi terlalu mudah ditebak.

Pola di mana Nao selalu berakhir elus dada, Chojo yang baru berbuat benar di saat-saat terakhir, serta respons karakter lain terasa diulang dengan struktur yang hampir selalu sama. Pengulangan skema komedi ini membuat beberapa bagian cerita terasa kehilangan kesegaran alaminya.

Ketika sebuah komedi mulai kehilangan unsur kejutan, tingkat kesenangan membaca tentu otomatis ikut menurun secara bertahap. Karakteristik tiap tokoh yang dibuat mengikuti arketipe standar membuat saya sering kali bisa menebak letak punchline atau leluconnya jauh sebelum panel tersebut selesai dibaca.

Meskipun tidak sampai membuat saya bosan setengah mati, kecenderungan ini berpotensi menjadi masalah serius jika sang kreator tidak segera memberi variasi konflik pada volume-volume berikutnya. Cerita perlu keberanian untuk keluar dari zona nyaman agar momentum humornya bisa bertahan jangka panjang.

Secara keseluruhan, tiga volume pertama Super Psychic Policeman Chojo tetaplah sebuah bacaan hiburan yang sangat menyenangkan untuk menghabiskan waktu luang. Chemistry yang kuat antar karakter serta ritme comedic timing yang pas membuktikan bahwa Shun Numa adalah komikus yang sangat berbakat dalam mengeksekusi komedi situasi.

Super Psychic Policeman Chojo sangat saya rekomendasikan bagi Anda yang mendambakan bacaan komedi ringan tanpa perlu pusing memikirkan teori plot yang rumit. Kehadirannya menjadi penawar rindu yang sempurna bagi para pecinta humor klasik yang lugas dan menghibur.

Secara objektif, saya memberikan skor 7.5 dari 10 untuk tiga volume awal manga Super Psychic Policeman Chojo. Nilai tersebut sangat layak mengingat kekuatan utama manga ini terletak pada interaksi antarkarakter yang solid dan humor nostalgia yang berhasil mengeksekusi tujuan utamanya untuk menghibur.

Selain itu, manga Super Psychic Policeman Chojo juga telah resmi diadaptasi menjadi anime yang digarap oleh Arvo Animation. Anime ini dijadwalkan tayang perdana pada 6 Oktober 2026 nanti dengan judul alternatif Jepang Choujun! Choujou-senpai. Jadi, Anda bisa membaca versi manga terlebih dahulu sambil menunggu versi anime rilis.