Lintang Siltya Utami | Muhammad Rafi Hanif
Tidak Ada New York Hari Ini Karya Aan Mansyur (Gramedia)
Muhammad Rafi Hanif

Seringkali kita merasa rindu itu hanya soal orang yang pergi, padahal rindu sesungguhnya tinggal di dalam diri sendiri. Inilah yang saya rasakan saat membaca kumpulan puisi Tidak Ada New York Hari Ini. Ditulis oleh M. Aan Mansyur, penyair kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, buku ini lahir dari inspirasi skenario film Ada Apa Dengan Cinta 2. Buku setebal 55 halaman ini bukan sekadar kumpulan kata indah, ia adalah cermin bagi siapa saja yang pernah merasa kosong, terpisah, atau belum sepenuhnya pulang.

Sinopsis

Di permukaan, puisi-puisi dalam buku ini bercerita tentang perpisahan, rindu, dan cinta yang ditinggalkan. Namun jika kita menyelam lebih dalam, isi buku ini sebenarnya adalah perjalanan seseorang mencari dirinya sendiri di tengah kehilangan. 

Judulnya saja sudah memberi petunjuk: "Tidak Ada New York Hari Ini". Kota New York yang melambangkan tempat jauh, impian, atau kehadiran seseorang yang dicintai, tiba-tiba lenyap. Yang tersisa hanyalah kesendirian, kenangan, dan pertanyaan-pertanyaan tentang apa itu cinta, rindu, rumah, dan pulang. Penulis menenun perasaan lelah, kesepian, dan harapan tipis menjadi baris-baris yang terasa seperti bisikan di telinga dekat, jujur, kadang menyakitkan, namun menenangkan.

Tokoh di dalamnya tidak pernah menyebut nama dengan gamblang, namun puisi-puisi dalam buku ini diciptakan seolah-olah ditulis oleh Rangga selama ia tinggal dan memendam rindu kepada Cinta di New York selama 14 tahun. Jarak antara Jakarta dan New York bukan sekadar jarak geografis, melainkan jarak antara yang masih bertahan dan yang sudah melangkah pergi.

Hal tersebut tampak jelas dalam kutipan puisi berikut ini.

"Tidak ada New York hari ini. Tidak ada New York kemarin. Aku sendiri dan tidak berada di sini. Semua orang adalah orang lain." (Mansyur, 3).

Ketika orang yang berarti pergi, tempat yang seharusnya ada pun ikut hilang. New York di sini bukan sekadar kota, ia adalah kehadiran seseorang, janji, atau masa depan yang direncanakan bersama. Saat semuanya runtuh, kita merasa seperti asing di mana pun kita berdiri. Bahkan di tubuh sendiri, kita tak merasa berada.

"Puisi tidak menyelamatkan apa pun, namun memberi keberanian membuka jendela dan pintu pada pagi hari." (Mansyur, 23).

Bagi sebagian orang, pulang bukan soal tempat, melainkan perasaan. Jika hati masih tertinggal di mana-mana, maka ke mana pun kita pergi, kita tetap merasa tamu. Rumah yang sesungguhnya ternyata tidak lagi ada atau belum pernah benar-benar ada.

Kelebihan 

Banyak yang mengira buku ini hanyalah pelengkap film Ada Apa Dengan Cinta 2. Padahal Aan Mansyur menulisnya sebagai karya mandiri. Ia tidak sekadar mengikuti alur cerita, melainkan memberi suara batin yang tidak tertampung di layar. Puisi-puisi ini adalah apa yang tidak sempat diucapkan para tokohnya.

Jika diperhatikan, New York lebih banyak disebut sebagai ketiadaan daripada kehadiran. Penulis sebenarnya tidak sedang bercerita tentang kota itu. Ia bercerita tentang kerinduan pada sesuatu yang tidak bisa dijangkau, meski berdiri tepat di depannya sekalipun. Selain rindu pada orang, ada rindu pada masa remaja, pada sosok ayah, pada tanah kelahiran, pada bahasa ibu. Jadi kehilangan yang digambarkan bukan tunggal melainkan tumpukan dari banyak hal yang perlahan menjauh.

Kekurangan

Pola kalimat seperti "Tidak ada…", "Aku tidak mampu membedakan…", "Kelak…" muncul berkali-kali. Di awal terasa indah, namun di pertengahan hingga akhir pola ini menjadi terlalu dapat diprediksi, sehingga beberapa puisi terasa kurang memiliki kebaruan.

Ada baris yang menyentuh sangat dalam, namun ada juga yang berhenti di permukaan perasaan. Kita sering disuguhi gambaran kesedihan yang samar tanpa membiarkannya menampakkan wajah seutuhnya. Rasanya seperti menahan napas sebelum mengeluarkan perasaan yang sesungguhnya.

Bagi saya dengan ketebalan sekitar 55 halaman, buku ini terasa sangat singkat. Pembaca yang sudah jatuh cinta pada suasananya, akhir yang datang terlalu cepat justru meninggalkan perasaan belum selesai meski bisa dibilang, perasaan belum selesai itu sendiri memang menjadi inti dari buku ini.

Pesan Moral

Kita diajarkan bahwa mencintai seseorang yang pergi bukan berarti kita lemah, bahwa rindu tidak harus dihapus, cukup dipeluk perlahan, bahwa pulang tidak selalu berarti kembali ke tempat yang sama, kadang pulang berarti menerima diri yang kini sudah berubah.

Cinta tidak selalu berakhir dengan kebersamaan, kadang dengan kesanggupan melepaskan dan tetap mengingat dengan lembut. Meski pada akhirnya puisi tidak menyelamatkan apa pun, ia menyertai kita saat kita berjalan sendirian.

Identitas Buku

  • Judul: Tidak Ada New York Hari Ini
  • Penulis: Aan Mansyur
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tebal: 55 Halaman
  • Tahun Terbit: Juli, 2021
  • ISBN : 9786020327976