Lintang Siltya Utami | Tarassa Q.
Nadira (Gramedia)
Tarassa Q.

Nadira karya Leila S. Chudori menghadirkan kisah yang tersusun dari rangkaian cerita tentang kehidupan Nadira Suwandi, seorang perempuan muda yang harus menjalani hidup setelah sebuah tragedi besar mengguncang keluarganya. Alih-alih menyajikan perjalanan hidup tokohnya secara lurus, buku ini memperlihatkan Nadira melalui berbagai tahap kehidupan, sehingga pembaca dapat menyaksikan perubahan dirinya dari waktu ke waktu.

Kisahnya bermula dari sebuah pagi kelabu ketika Nadira menemukan ibunya, Kemala Yunus, telah mengakhiri hidupnya sendiri. Bagi Nadira, Nina, dan Arya, peristiwa tersebut bukan hanya kehilangan seorang ibu, tetapi juga meninggalkan pertanyaan yang sulit dijawab.

Kemala dikenal sebagai perempuan yang terbuka, penuh ekspresi, dan memiliki pemikiran yang bebas. Karena itu, kematiannya justru menghadirkan misteri emosional yang terus menghantui anak-anaknya. Jika Nina menunjukkan kesedihannya dengan lebih terbuka, Nadira justru mengambil jalan sebaliknya, yaitu menyimpan semuanya seorang diri.

Kehidupan Nadira kemudian bergerak melalui beberapa fase penting. Dalam bagian Melukis Langit, saya melihat dirinya sebagai seorang anak yang berusaha memahami trauma dan kehancuran hubungan keluarganya. Selanjutnya, Tasbih memperlihatkan Nadira sebagai wartawan di majalah Tera. Pekerjaan tersebut menjadi bagian penting dalam hidupnya, bahkan dapat menjadi tempat untuk mengalihkan perhatian dari luka yang belum selesai.

Kehidupan percintaan Nadira digambarkan dalam Ciuman Terpanjang. Hubungannya dengan Niko dan tokoh-tokoh lain memperlihatkan bagaimana pengalaman masa lalu memengaruhi kemampuannya mempercayai orang serta mengambil keputusan dalam hubungan.

Sementara itu, Kirana membawa Nadira memasuki kehidupan pernikahan, termasuk pengalaman mengenai keintiman dan seksualitas yang sebelumnya belum menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Dua bagian terakhir, Sebelum Matahari Mengetuk Pagi dan Dari New York ke Legian, semakin membawa pembaca ke wilayah psikologis Nadira, terutama mengenai pencarian makna rumah dan usaha menerima masa lalu.

Saya sendiri tertarik membaca buku ini setelah menyelesaikan Laut Bercerita. Nadira terasa memberikan pengalaman yang berbeda karena Leila S. Chudori membawa saya melihat persoalan dari sudut pandang perempuan dengan pergulatan yang lebih personal. Unsur feminisme memang terasa cukup kuat, tetapi bagi saya penyampaiannya masih dapat diterima karena tidak menghilangkan kompleksitas karakter.

Dengan jumlah 321 halaman, buku ini justru membutuhkan waktu cukup panjang untuk saya tuntaskan. Ada sesuatu dalam ceritanya yang terasa menguras energi. Saat membacanya, saya beberapa kali merasakan sesak karena beban emosional yang dibawa Nadira terasa begitu dekat dan nyata.

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah caranya menggambarkan duka. Kehilangan tidak digambarkan sebagai proses yang memiliki urutan pasti. Nadira memilih diam dan menekan emosinya, tetapi cara tersebut tidak serta-merta membuat lukanya menghilang. Dari sini, saya diajak memahami bahwa pemulihan membutuhkan keberanian untuk mengakui rasa sakit sebelum seseorang dapat perlahan berdamai dengannya.

Novel ini juga memperlihatkan perempuan sebagai individu yang memiliki kehendak dan pilihan sendiri. Nadira bukan karakter yang sekadar menunggu diselamatkan. Ia bekerja sebagai jurnalis, mengambil keputusan dalam kehidupan cintanya, serta berusaha menentukan kebahagiaan berdasarkan pemahamannya sendiri.

Isu kesehatan mental menjadi lapisan penting lainnya. Bunuh diri Kemala dan dampaknya terhadap ketiga anaknya menunjukkan bahwa persoalan psikologis dapat meninggalkan jejak panjang dalam keluarga. Buku ini mendorong pembaca untuk lebih peka terhadap kondisi emosional orang lain karena penampilan seseorang tidak selalu mencerminkan pergolakan yang sedang dialaminya.

Selain itu, perjalanan cinta dan pernikahan Nadira menunjukkan bahwa mempertahankan hubungan tidak selalu menjadi satu-satunya bentuk keberanian. Ketika sebuah relasi tidak lagi sehat, menerima kenyataan dan memilih berpisah dapat menjadi keputusan yang matang. Di tengah kekacauan personal tersebut, Nadira tetap berusaha menjalankan profesinya secara serius. Dunia jurnalistik menjadi ruang baginya untuk tetap produktif sekaligus membentuk ketangguhan.

Pada akhirnya, Nadira bukan sekadar cerita mengenai seorang perempuan yang kehilangan ibunya. Buku ini adalah potret perjalanan seseorang dalam memahami luka, menjalani kehidupan setelah tragedi, serta menemukan keberanian untuk menentukan kembali arti kebahagiaan dan rumah bagi dirinya sendiri.

Identitas Buku

Judul: Nadira
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786024242725