Mobil bertenaga roket, lompatan sejauh satu mil, dan seorang stunt driver yang rela mempertaruhkan nyawa demi menjadi legenda. Kisah Ken Carter sebenarnya sudah punya bahan untuk jadi drama yang luar biasa. Sayangnya, The Stunt Driver terasa biasa dari kisah nyata yang diangkatnya. Kok gitu? Kepoin bareng, yuk!
The Stunt Driver merupakan film biopik komedi-drama garapan Michael Dowse, yang sekaligus menulis skripnya. Film produksi Cardinal Film dan Mongrel Media bersama Telefilm Canada ini dibintangi Jay Baruchel sebagai Ken Carter, Ed Helms sebagai Dick Keller, Ben Foster sebagai Evel Knievel, Laurence Leboeuf sebagai Gloria, serta Dan Bakkedahl.
Film berdurasi ±99 menit ini tayang perdana di Toronto International Film Festival 2026. Ceritanya berlatar di pertengahan 1970-an dan mengikuti Ken Carter, stunt driver asal Kanada yang ingin menutup perjalanan panjang karirnya dengan aksi terbesar dalam hidupnya.
Setelah melewati berbagai aksi berbahaya, Ken mengejar ambisi melakukan lompatan menggunakan mobil roket melintasi Sungai St. Lawrence dari Kanada menuju Amerika Serikat. Dia membangun proyek besar dengan melibatkan perancang kendaraan roket, manajer olahraga, serta orang-orang yang percaya pada gagasan tersebut.
Di tengah persiapan itu, Ken berhadapan dengan keraguan publik, persoalan pribadi, istrinya Gloria, serta bayang-bayang Evel Knievel, stuntman Amerika terkenal. Apakah Ken mampu mewujudkannya?
Kisah Nyata Luar Biasa Nggak Cukup, Film Perlu Bahan Bakar Dramatis yang Terjaga
Film ini pada dasarnya terlalu percaya kisah Ken Carter sudah cukup menarik untuk membuat perjalanan emosionalnya bakal kuat dan bikin penonton hanyut. Padahal, kisah luar biasanya hanya menyediakan bahan bakar. Film tetap membutuhkan karakter yang membuat penonton memahami mengapa seseorang rela mempertaruhkan hidup demi obsesi.
Jay Baruchel jadi bagian paling kuat dari proses tersebut. Dia memainkan Ken sebagai sosok konyol, keras kepala, ambisius, sekaligus memiliki ketakutan yang manusiawi. Baruchel membuat Ken lebih dari sekadar pria yang ingin melakukan aksi gila. Ada ego, kebutuhan akan pengakuan, dan dorongan untuk meninggalkan sesuatu yang bisa dikenang.
Masalahnya, kedalaman itu belum mengalir ke dunia di sekitar Ken. Misalnya Gloria, yang sebenarnya memiliki posisi emosional penting karena harus hidup bersama seseorang yang menjadikan bahaya bagian dari impiannya. Hubungan mereka seharusnya membuka sisi paling manusiawi dari Ken, termasuk harga yang harus dibayar orang terdekat ketika seseorang mengejar mimpi sebesar itu. Filmnya memang memberi Gloria ruang untuk mendukung sekaligus mengkhawatirkan Ken, tapi perkembangan emosinya belum utuh.
Karakter Evel Knievel juga menarik karena kehadirannya jadi pembeda sekaligus konflik. Persaingan dua stuntman yang sama-sama mengejar perhatian publik sebenarnya bisa jadi cerminan tentang ego, ketenaran, dan kebutuhan manusia untuk dikenang. Aktor Ben Foster yang memerankannya, membuat setiap kemunculannya berisi, sayangnya plotnya masih memunculkan kesan, kisah mereka masih menyimpan konflik yang belum digali sampai dalam.
Jujur saja The Stunt Driver punya kisah nyata yang jauh lebih liar dari dramatisasinya. Film ini menampilkan roket, bahaya, ambisi, rivalitas, keluarga, dan mimpi yang terdengar mustahil. Sayangnya, keunikan bahan dasar itu belum sepenuhnya berubah jadi kedalaman drama.
Menurutku, The Stunt Driver paling menarik ketika berhenti melihat Ken sebagai stuntman nekat dan mulai memperlihatkan sisi manusia di balik aksinya. Dan memang, momen seperti itu belum cukup dominan. Film akhirnya terasa sebatas memiliki mesin yang sangat kuat, sementara kendaraan dramatisnya masih berjalan dengan tenaga yang belum sepenuhnya seimbang dan kuat.
Ken Carter memang menarik untuk ditonton. Kisah hidupnya bahkan mungkin lebih menarik lagi. Cuma ya gitu, film ini hanya berhasil menggali sebagian dari keajaiban yang sudah tersedia sejak awal. Sayang sekali, deh!
Baca Juga
-
Harumkah Bunga di Surga?
-
Review Best of the Best: Film Tari yang Lupa Memberi Ruang pada Tariannya
-
Antara Fiksi dan Sejarah, Problematika Netflix di Serial Monster: The Lizzie Borden Story
-
Bawa Teror dari Indonesia Timur ke Layar Lebar, Ini Review Jujur Film Suanggi: Ilmu Kutukan
-
Review Film The Last Sunrise: Nikmatnya Jatuh Cinta di Detik-Detik Terakhir
Artikel Terkait
-
Aming Ingin Warga Rusun 609 Jadi Hiburan di Tengah Situasi Sulit
-
Aamir Khan Bintangi Film Lalkaara, Angkat Kisah Luka Sejarah India-Pakistan
-
Ulasan Film Akal Imitasi: Saat Teknologi Canggih Mulai Menggantikan Guru
-
Review Film Whoever Steals This Book: Keajaiban Fantasi Dunia Literatur
-
Esensi Teror Berdarah di Balik Manisnya Es Krim dalam Film Ice Cream Man
Ulasan
-
Ulasan Film Akal Imitasi: Saat Teknologi Canggih Mulai Menggantikan Guru
-
Mengenal Buku Selasa Bersama Morrie, Obrolan tentang Arti Kehidupan
-
Esensi Teror Berdarah di Balik Manisnya Es Krim dalam Film Ice Cream Man
-
Mengajari Anak untuk Puasa dan Taqwa Lewat Buku Ramadan for Everyone
-
Review Furious: Obsesi Gelap dan Batas Moral Penegak Hukum yang Kabur!
Terkini
-
Fenomena 'No Viral, No Justice' dalam Kasus Rumah Ibadah: Alarm Bahaya bagi Demokrasi
-
Sustainable Lifestyle dan Budaya Konsumtif: Peduli atau Cuma Ikut-ikutan?
-
Reuni Usai 10 Tahun, Yoo Yeon Seok dan Seo Hyun Jin Tampil Tegang di The Perfect Lie
-
Solusi Cerdas Kelola Sampah Organik: Ubah Sisa Dapur Menjadi Pakan Ternak Berprotein
-
4 Moisturizer Korea Birch Sap Jaga Kelembapan Kulit untuk Skin Barrier Kuat