Lintang Siltya Utami | Dian Haerani
Time To Hunt . (Instagram/@dntlrdl)
Dian Haerani

Bayangkan hidup di sebuah kota yang sudah tidak lagi terasa seperti tempat untuk tinggal, melainkan tempat untuk bertahan hidup. Ekonomi memburuk, masa depan terasa tidak menjanjikan, dan satu-satunya hal yang tersisa hanyalah keinginan untuk pergi sejauh mungkin. Kira-kira seperti itulah kenyataan yang diceritakan Time to Hunt, film Korea Selatan tahun 2020 yang dibintangi Lee Je-hoon, Ahn Jae-hong, Choi Woo-shik, dan Park Jeong-min. Film berdurasi 134 menit ini disutradarai oleh Yoon Sung-hyun dan memadukan genre thriller, kriminal, heist, serta distopia.

Saya memutuskan untuk menonton film ini karena aktor favorit saya, Choi Woo-shik. Time to Hunt ternyata bukan sekadar film tentang sekelompok orang yang melakukan perampokan lalu dikejar pembunuh bayaran. Di balik suara tembakan dan adegan kejar-kejarannya, ada cerita tentang anak muda yang sudah terlalu lelah dengan kehidupannya sendiri.

Cerita berpusat pada Jun-seok, seorang pemuda yang baru keluar dari penjara. Bersama tiga sahabatnya, Jang-ho, Ki-hoon, dan Sang-soo, ia merencanakan sebuah perampokan. Tujuannya cukup sederhana, untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin, meninggalkan kehidupan sekarang, lalu memulai hidup baru di tempat yang jauh.

Mungkin terdengar seperti rencana yang nekat. Dan memang begitu. Masalahnya, mereka tidak menyadari bahwa uang yang ingin mereka curi bukanlah uang biasa. Setelah melakukan perampokan, mereka justru menjadi target seorang pembunuh misterius yang terus memburu mereka.

Di sinilah Time to Hunt berubah dari film heist menjadi permainan bertahan hidup. Yang menarik, film ini tidak langsung memberikan kita rasa aman setelah perampokan berhasil dilakukan. Justru setelah itu, ketegangan semakin meningkat. Para karakter yang awalnya merasa sudah mendapatkan kesempatan untuk mengubah hidup perlahan menyadari bahwa mereka  telah membuat kesalahan terbesar.

Dan menurut saya, bagian inilah yang membuat Time to Hunt terasa cukup dekat dengan kehidupan nyata. Bukankah terkadang kita juga ingin kabur?

Kabur dari pekerjaan yang tidak kita sukai. Kabur dari keadaan finansial yang sulit. Kabur dari lingkungan yang membuat kita merasa tidak berkembang. Atau sekadar ingin pergi ke tempat baru karena kita merasa hidup yang sekarang tidak akan membawa kita ke mana-mana.

Jun-seok dan teman-temannya mungkin melakukan cara yang ekstrem, tetapi dorongan dasarnya terasa manusiawi, mereka ingin memiliki kesempatan kedua. Sayangnya, film ini menunjukkan bahwa kesempatan kedua tidak selalu datang dalam bentuk yang kita bayangkan.

Choi Woo-shik sendiri tampil sebagai Ki-hoon, salah satu anggota kelompok tersebut. Setelah Parasite yang dirilis setahun sebelumnya, melihatnya dalam karakter yang berada di tengah situasi penuh tekanan seperti ini menjadi sesuatu yang menarik.

Ia tidak menjadi pusat cerita, tetapi kehadirannya ikut membangun dinamika kelompok yang terasa seperti persahabatan sekaligus hubungan yang dibentuk oleh keadaan. Netflix sendiri menempatkan Choi Woo-shik sebagai salah satu pemeran utama bersama Lee Je-hoon dan Ahn Jae-hong.

Adegan pengejarannya sendiri menjadi salah satu kekuatan film. Time to Hunt tidak terlalu sibuk memberikan banyak kejutan besar setiap beberapa menit. Ketegangannya justru dibangun melalui perasaan bahwa para karakter selalu berada beberapa langkah di belakang seseorang yang jauh lebih siap daripada mereka.

Ada rasa tidak berdaya di sana. Mereka berlari, bersembunyi, menyusun rencana, kemudian berlari lagi. Sementara itu, sang pemburu seperti tidak pernah benar-benar kehilangan jejak.

Pada akhirnya, Time to Hunt terasa seperti pertanyaan sederhana yang dibuat menjadi thriller selama lebih dari dua jam, "Seberapa jauh kita bersedia pergi ketika merasa sudah tidak punya pilihan lain?"

Film ini memang bukan tontonan yang ringan. Kekerasan dan suasana brutalnya cukup dominan, sehingga penonton yang mencari film Korea dengan cerita santai tentu tidak akan menemukan itu di sini. Netflix sendiri mengategorikannya sebagai film kriminal dan thriller dengan nuansa distopia, heist, serta pembunuh bayaran.

Tetapi justru di balik semua itu, ada sesuatu yang cukup menyedihkan. Para karakter ini sebenarnya tidak sedang mengejar kehidupan sempurna. Mereka hanya ingin hidup yang sedikit lebih baik daripada kehidupan yang mereka miliki sekarang.

Kadang-kadang, ketika hidup terasa terlalu berat, kita memang ingin meninggalkan semuanya dan memulai dari awal. Namun film ini mengingatkan bahwa melarikan diri dari keadaan tidak selalu berarti kita bisa melarikan diri dari konsekuensi pilihan kita.

Pada akhirnya, mungkin yang paling menakutkan bukanlah ketika seseorang mengejar kita. Melainkan ketika kita sudah tidak tahu lagi ke mana sebenarnya kita ingin berlari. Saran saya, siapkan mental kalau kamu ingin menonton film ini!