Apa jadinya kalau sebuah siaran radio yang awalnya hanya ditujukan untuk menghibur pendengar justru menjadi pintu masuk bagi sesuatu yang jauh lebih mengerikan?
Pertanyaan itulah yang coba dijawab oleh 10 PM, serial horor Indonesia yang tayang di Prime Video pada 2024. Dibintangi Mawar de Jongh, Giorgino Abraham, dan Maxime Bouttier, serial garapan Indra Gunawan ini terdiri dari enam episode dan memadukan unsur horor supranatural dengan teknologi modern.
Yang membuat 10 PM cukup menarik adalah konsep dasarnya. Serial ini berpusat pada Arvino, seorang penyiar radio yang setiap Kamis malam membawakan cerita-cerita horor kepada pendengarnya. Arvino diperankan oleh Giorgino Abraham, dan serial ini sekaligus menjadi debutnya dalam genre horor.
Awalnya, semuanya terdengar seperti program radio biasa. Sampai kemudian muncul sesuatu yang jauh lebih aneh. Ada siaran misterius dan aplikasi bernama 10 PM yang berkaitan dengan kejadian-kejadian supranatural.
Viska, seorang perempuan yang memiliki kemampuan melihat hal-hal tak kasatmata, mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang salah. Bersama Arvino dan Chandra, ia berusaha mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi dan bagaimana menghentikan teror tersebut.
Dari premisnya saja, 10 PM sebenarnya sudah menawarkan sesuatu yang cukup berbeda dari horor Indonesia pada umumnya. Bukan sekadar rumah kosong. Bukan sekadar hantu yang muncul tiba-tiba di balik pintu. Kali ini, teknologi justru menjadi bagian dari terornya.
Menurut saya, dari situlah salah satu daya tarik utama serial ini. Kita hidup di zaman ketika hampir semua hal bisa dilakukan melalui layar. Mencari informasi, berkomunikasi, bertemu orang baru, bahkan mencari hiburan yang sebelumnya mungkin terasa mustahil.
Karena itu, ide tentang sebuah aplikasi yang justru menjadi penghubung dengan sesuatu dari dunia lain terasa cukup relevan dengan kehidupan sekarang. Bagaimana kalau rasa penasaran kita terhadap sesuatu di internet ternyata membawa kita ke tempat yang tidak seharusnya kita datangi?
10 PM bermain-main dengan ketakutan tersebut. Di sisi lain, serial ini juga menarik karena tidak hanya mengandalkan jumpscare. Ceritanya membawa unsur misteri yang membuat penonton bertanya-tanya mengenai hubungan antara radio, aplikasi, Viska, Arvino, dan kejadian-kejadian aneh yang terus bermunculan.
Menurut saya, beberapa bagian ceritanya juga terasa cukup rumit dan membutuhkan perhatian ekstra. Perpindahan antara unsur supranatural, teknologi, masa lalu karakter, hingga konflik personal membuat alurnya terkadang terasa padat.
Bagi penonton yang mengharapkan horor dengan jalan cerita sederhana, mungkin ada beberapa bagian yang terasa membingungkan. Namun, justru karena itulah 10 PM lebih menarik jika ditonton sebagai misteri horor, bukan hanya sebagai tontonan untuk mencari adegan jumpscare.
Giorgino Abraham sendiri membawa karakter Arvino dengan pendekatan yang berbeda dari peran-perannya yang lebih dikenal sebelumnya. Dalam wawancara menjelang penayangan, Giorgino mengungkapkan bahwa ia tertarik mengambil proyek ini karena merupakan pengalaman pertamanya bermain dalam genre horor.
Sementara itu, Mawar de Jongh sebagai Viska menjadi salah satu karakter yang cukup penting dalam cerita. Viska bukan hanya sosok yang bisa melihat makhluk tak kasatmata. Ia juga digambarkan memiliki sisi pemberani sekaligus rentan karena kemampuannya tersebut.
Bagi saya, kombinasi ketiga karakter inilah yang membuat ceritanya tetap memiliki sesuatu untuk diikuti selain sekadar mencari tahu siapa hantunya. Lalu, apakah 10 PM worth it untuk ditonton?
Kalau kamu mencari horor yang hanya mengandalkan jumpscare, mungkin serial ini bukan pilihan yang paling tepat. Tetapi kalau kamu suka cerita horor yang mencoba menggabungkan supranatural, teknologi, misteri, dan drama karakter, 10 PM cukup layak masuk watchlist.
Apalagi hanya terdiri dari enam episode dengan durasi sekitar 45 menit, sehingga ceritanya relatif mudah diikuti dalam waktu singkat. Serial ini juga memberikan pengalaman berbeda karena mengambil radio dan aplikasi sebagai bagian penting dari dunia horornya.
Pada akhirnya, 10 PM mengingatkan kita bahwa terkadang hal yang paling menakutkan bukanlah sesuatu yang muncul dari kegelapan. Melainkan rasa penasaran kita sendiri.
Setelah menonton 10 PM, kamu akan berpikir dua kali sebelum sembarangan mencoba aplikasi atau mendengarkan sesuatu yang terdengar terlalu misterius setelah jam sepuluh malam. Berani untuk coba menonton serial ini?
Baca Juga
-
Our Beautiful Summer: Ketika Kita Sibuk Bertahan Sampai Lupa Menikmati Hidup
-
Review You Will Die in 6 Hours: Saat Kematian Mengajarkan Kita Cara Menjalani Hidup
-
Review Time To Hunt: Keinginan untuk Kabur yang Membawa Kita Pada Perburuan
-
Badland Hunters: Ketika Dunia Hancur, Apa yang Membuat Kita Tetap Bertahan?
-
Review Film Brave Citizen: Berani Melawan saat Semua Orang Memilih Diam
Artikel Terkait
-
Review Serial Kartu Keluarga, Pernikahan Palsu yang Bikin Gregetan
-
Review Crew Girl: Kisah Perjuangan Atlet Remaja Mempertahankan Impian!
-
Rampung Syuting, Lily Collins Pamitan dari Emily in Paris Musim Terakhir
-
Review Furious: Obsesi Gelap dan Batas Moral Penegak Hukum yang Kabur!
-
Ulasan Your Lie in April: Tentang Belajar Hidup sebelum Semuanya Terlambat
Ulasan
-
Review Avengers: Endgame Encore, Bocoran 4 Adegan Baru yang Menggoda Fans
-
Jika Boring, Jangan Lupa Touring: Menikmati Lautan Awan di Puncak Malangsari
-
Review Film Daayra: Hadirkan Realita Pahit Penegakan Hukum yang Dilematis!
-
Our Beautiful Summer: Ketika Kita Sibuk Bertahan Sampai Lupa Menikmati Hidup
-
Tahun Itu Berlalu Begitu Cepat Vol 1: Bayang-bayang Cinta yang Tak Selesai
Terkini
-
Darurat ISPA di Wilayah Karhutla: Mengapa Mitigasi Preventif untuk Anak Selalu Terlambat?
-
Sacrifice Tayang 16 Oktober, Chris Evans Terjebak Kultus Anya Taylor-Joy
-
Peran AI di Dunia Kepenulisan: Ancaman atau Partner Kerja bagi Penulis?
-
Drakor Makin Pendek, Benarkah Efek Samping TikTok Bikin Penonton Susah Fokus?
-
Sinopsis Analog Nurse, Drama Medis Jepang yang Dibintangi Matsushita Nao