Cerita Fiksi
CERPEN: Demi Adil yang Sulit Diraih
Kalau bukan lagi Lebaran, tiga orang di dalam rumah sederhana itu—di bawah atap seng yang melengkung dengan retakan memanjang seperti garis nasib—tidak akan makan berbagai macam olahan daging maupun ikan. Biasanya, lauk mereka hanya tempe tipis atau kuah bening yang lebih banyak air daripada rasa. Daging dan ikan adalah kemewahan musiman.
Adil menatap paha ayam di piringnya cukup lama, seolah-olah takut salah mengambil. “Belum lebaran, Mak,” katanya pelan.
Asri tidak menjawab. Ia meraih satu paha ayam, menggigitnya cepat, seperti orang yang takut makanannya dirampas. Minyak hangat masih menempel di ujung bibirnya, sementara matanya mengeras, menahan sesuatu yang tak ikut tertelan.
“Weslah, dimakan aja.” Samsul terkekeh kecil. Tangannya menyambar bagian terbaik tanpa ragu. “Dapat bonus, ya?” katanya lagi sambil mengunyah. “Atau dikasih bos di pasar?”
Asri menggerutu dengan kasar. “Tinggal makan. Banyak nanya.”
Tak ada lagi suara setelah itu, selain bunyi kunyahan dan kipas tua yang berdecit. Adil sesekali melirik ayahnya. Mata anak itu berbinar, bahagia setiap kali Samsul menepuk kepalanya atau menyodorkan kulit ayam yang renyah.
Asri melihat keakraban mereka dan dadanya terasa lebih sesak daripada rumah itu sendiri. Ia tahu, jika dulu ia berani memilih untuk pergi, mungkin sepiring nasi berikut lauknya tidak perlu terasa sepahit ini. Namun kini, ia hanya duduk di dekat anak lelaki yang paling ia cintai, menyaksikan bagaimana kekaguman anaknya tumbuh pada ayah sekaligus suami yang tidak pernah bekerja, tetapi selalu ada saat dibutuhkan sang anak.
***
Esok malamnya, Asri berada di kamar sempit yang pengap. Bau keringat lama bercampur seprai lembap menguar ke udara. Lampu bohlam redup menggigil di langit-langit, membuat bayangan bergerak tidak utuh di dinding.
Di atas ranjang, ada lelaki terbaring telanjang. Dada bidangnya naik-turun, kulitnya mengilap oleh peluh. Tatapannya mengikuti setiap gerak Asri yang berdiri membelakangi, mengganti pakaian dengan tangan sedikit bergetar.
“Nggak nyangka kon mau muasin saya, Sri,” katanya, suaranya serak, nyaris puas.
Asri tidak menoleh. Ia merapikan kancing dengan gerakan cepat, seolah-olah ingin segera selesai. “Yang penting aku dapet duit darimu.”
Lelaki itu terkekeh pelan, menyandarkan punggung ke bantal. “Kenapa tak dari dulu?”
Asri mengernyit. Ada kata yang hampir lolos dari mulutnya, tetapi ia telan kembali. Ia menarik napas pendek, lalu menghadap ranjang. Dalam benaknya, wajah Adil muncul dengan senyum kecil dan tatapan yang selalu mencari serta merindukan keberadaan Samsul.
Pikirnya, dengan uang yang ia dapat dari mantan kekasihnya yang tidak pernah bisa melupakan dirinya, ia bisa membahagiakan Adil dan bisa merebut hati anaknya yang sudah terlampau jauh diraih.
***
Asri pulang saat rumah sudah gelap. Pintu kayu dibukanya perlahan, engselnya berdecit pelan seperti keluhan yang selama ini ia tahan. Ia melangkah masuk tanpa menyalakan lampu.
Dari kamar, terdengar dengkuran teratur. Asri mengintip. Di atas dipan sempit, Adil tidur meringkuk, satu lengannya melingkar di dada Samsul. Kepala anak itu bersandar nyaman, wajahnya tenang, bahkan ada senyum kecil masih tersisa di sudut bibirnya. Samsul, sembari mendengkur, tangannya jatuh begitu saja di punggung anak itu.
Asri tertegun di ambang pintu. Ia tidak masuk, tidak juga memanggil nama anaknya.
Tak lama, di sudut kamar yang gelap, Asri berjongkok perlahan. Punggungnya menempel pada dinding dingin berdebu. Satu tetes air jatuh ke lantai, lalu satu tetes lagi, kemudian deras. Ia lantas menutup mulut dengan punggung tangan, menahan suaranya agar tangisnya tidak begitu terdengar.
Purbalingga, 31 Desember 2025