Cerita Fiksi
CERPEN: Air yang Mengalir di Sudut Dapur
Kara tidak pernah tahu apa salahnya. Mengapa semenjak ia tinggal di rumah ibu mertuanya, semua hal yang dilakukan Kara selalu salah di mata beliau.
Setiap Kara usai mencuci piring, ibu mertuanya tiba-tiba akan menurunkan kembali semua piring dari rak dan mencucinya ulang. Jika Kara mengepel lantai, tak berapa lama mertuanya pun akan kembali mengepel ulang lantai, yang menurut Kara sudah wangi, bersih, dan kinclong.
Ibu mertuanya juga tidak pernah mau makan masakan buatan Kara. Makanan yang sudah dihidangkan Kara di meja makan akan tetap utuh, tak tersentuh. Beliau malah memilih pergi ke warteg terdekat untuk membeli makanan bagi dirinya sendiri.
Lalu seolah sengaja, mertuanya itu akan sengaja meletakkan makanan yang baru beliau beli tadi, bersebelahan dengan masakan Kara. Lantas perempuan paruh baya itu memakannya dengan lahap tanpa memedulikan perasaan Kara yang merasa terhina.
Kara tahu masakannya tidaklah buruk. Danu selalu memuji masakannya, juga keluarga besar Kara. Bahkan Kara sempat berjualan makanan via online, sebelum berhenti karena sang ibu mertua selalu menunjukkan wajah tak suka, jika Kara ‘menguasai’ dapur.
“Ibu mungkin sungkan. Selama ini, kan, Ibu yang selalu masak. Terus tahu-tahu dia tinggal makan aja, tentu jadi sungkan meskipun sama menantu sendiri.”
Pembelaan itu diberikan Danu ketika Kara mengeluhkan masakannya yang tidak pernah disentuh ibu suaminya itu. Tentu saja ia tak menunjukkan kekesalannya terang-terangan. Kara hanya berucap, “Kasihan Ibu beli lauk terus di warteg. Padahal aku sudah masakin, loh. Apa lauknya nggak cocok sama Ibu ya, Mas?”
Setahu Kara, sejak dulu ibu mertuanya memang mengerjakan semua urusan rumah tangga sendiri tanpa campur tangan asisten rumah tangga. Mulai dari mencuci, merawat kebun, menyetrika, dan terutama memasak.
Bisa jadi sang mertua merasa tersingkirkan ketika tiba-tiba menantunya tinggal satu atap dan mengambil alih sebagian urusan rumah tangga. Lalu untuk menunjukkan otoritas atas rumah tersebut, ibu mertuanya bertingkah demikian. Itulah satu-satunya pikiran yang terlintas di kepala Kara, ketika mencoba menganalisis semua hal yang terjadi.
Kara jadi menyesali keputusan Danu yang mengajaknya pindah ke sini. Sebenarnya waktu dahulu hubungan Kara dan Danu sudah mencapai tahap serius, mereka sudah patungan mencicil sebuah rumah. Rencananya mereka akan tinggal di rumah tersebut setelah menikah. Sayangnya, Danu mengubah keputusan itu ketika sang ayah meninggal sebulan sebelum pernikahan mereka.
“Kasihan Ibu nggak ada yang nemenin kalau kita tinggal di rumah baru. Kalau Ibu sakit siapa yang urus? Aku nggak mau menyesal kalau sesuatu terjadi sama Ibu dan aku nggak ada di sampingnya. Ayah sudah nggak ada, masak aku juga harus ninggalin Ibu. Kamu tahu, kan, aku anak Ibu satu-satunya.”
Kara menyerah. Danu langsung memboyong Kara ke rumah orangtuanya begitu pesta pernikahan usai. Lalu terjadilah apa yang dulu kerap didengar Kara dari teman-temannya, bahwa menantu yang tinggal satu atap dengan mertua, biasanya akan timbul gesekan yang semakin lama akan menghasilkan percikan bahkan kobaran api.
Siang itu Kara sudah memasak capcay, yang menurut Danu adalah makanan favorit sang ibu. Lalu ayam goreng mentega, udang goreng tepung—yang beberapa kali Kara lihat dibeli mertuanya di warteg—dan tempe goreng. Semua makanan tersebut Kara letakkan di atas meja makan.
Lalu sang ibu mertua datang, meletakkan bungkusan plastik dengan kasar di atas meja, sebelum mulai memindahkan sayur dan lauk yang dibelinya di warteg ke wadah yang sudah beliau siapkan sebelumnya.
Kara mengepalkan tangan. Air mengucur dari wastafel di dapur. Kara tahu ibu mertuanya selalu mencuci tangan sebelum makan, meskipun beliau makan menggunakan sendok.
Kara masih berdiri di sudut meja makan ketika mertuanya kembali, menarik kursi dengan keras, dan menghempaskan bokong besarnya di kursi makan.
Perempuan setengah baya itu tak menegur Kara atau menawarinya makan seperti yang biasa dilakukan Kara. Ia membuka bungkusan nasi yang juga dibelinya dan menuangkannya ke piring, lalu menambahkan ikan goreng, dan sambal.
Ibu mertuanya mulai mencicipi kuah segar sayur asam. Kara bisa mengendus bau asam yang lebih kuat dari semestinya. Dahi mertuanya mengernyit, tapi beliau tetap meneruskan menyeruput sayur tersebut, ketika menyadari Kara yang masih berdiri di sudut meja. Satu sendok. Dua sendok. Tiga. Lima.
Kara masih berdiri di sana ketika ibu mertuanya mulai tersedak. Sendok terlepas dari jemari, jatuh ke lantai, dan menimbulkan denting yang terasa terlalu nyaring di telinga Kara.
Perempuan dua puluh tujuh tahun itu melangkah perlahan ke arah dapur. Di balik punggungnya suara tercekik-cekik itu masih terdengar, putus-putus, seperti napas yang tak sanggup lagi bertahan.
Kara mengikat rambut panjangnya, menggulung lengan baju, lalu mulai mencuci piring. Dibukanya keran besar-besar untuk menyamarkan suara kursi yang jatuh—dan, sepertinya, tubuh yang ikut tumbang.
Mulai besok, tak ada lagi piring yang dicuci ulang. Lantai yang dipel berulang-ulang. Kara juga tak perlu memasak untuk tiga orang. Cukup untuk dirinya dan Danu.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS