Sepatu Bot Merah Milik Adikku

M. Reza Sulaiman | Reza Agustin
Sepatu Bot Merah Milik Adikku
Ilustrasi Adik. (Image by Jensen Art Co from Pixabay)

Adikku, ia sedikit berbeda dibandingkan dengan anak lain. Beda dengan anak laki-laki seumuran dengannya, beda pula dengan anak yang jauh lebih tua maupun lebih muda. Ia agak menakutkan. Untuk anak seumurannya, ia bisa menjadi begitu kekanakan, tetapi di satu sisi juga bisa mengejutkan orang dewasa. Ketika kecil, ia sering menangis ketika diabaikan oleh orang-orang terdekatnya. Namun, ketika menarik perhatian orang, caranya sering kali di luar nalar anak kecil.

Ia pernah rewel karena kami kurang memperhatikannya saat sedang sakit. Lelah menangis tanpa mendapat tanggapan, ia malah melakukan hal nekat. Ia menenggak sabun cuci piring.

Alasannya sederhana, “Kalau kalian sudah tidak peduli padaku, lebih baik aku mati saja.”

Di masa sekolah pun, ia kerap keluar masuk ruang BK dengan berbagai alasan yang membuat sakit kepala. Hingga pada akhirnya, kami sudah tidak bisa mengatasinya karena terlalu kewalahan. Entah kenapa, ia pun ikut mereda. Selama bertahun-tahun hingga akhirnya lulus SMA pun, ia tidak pernah lagi melakukan hal-hal aneh. Ia telah menjadi ‘normal’ sebagaimana orang pada umumnya.

Tiba waktunya aku menikah dan ikut dengan suamiku ke rumah keluarganya. Suamiku awalnya masih bersikap baik, tetapi lama-lama kelihatan juga sifat aslinya yang kerap main tangan dan obsesif. Tidak jarang pula tubuhku dijadikan samsak.

Ada kalanya ketika ia harus bekerja ke luar kota, aku akan izin pulang ke rumah orang tua dan sedikit menenangkan pikiran. Walaupun sudah kututupi, ternyata adik laki-lakiku bisa melihat bekas-bekas luka yang selama ini kusembunyikan.

“Kakak diapain sama dia?” tanya adikku datar.

“Ah, enggak apa-apa. Cuma salah paham, kok. Ini juga cuma lecet dikit. Bentar lagi pasti sembuh.”

“Bohong.”

“Eh, enggak. Abang iparmu aslinya baik, kok. Jangan salah paham, ya.”

Namun, sepertinya masalah itu tetap mengganjal adikku sekeras apa pun aku meyakinkan bahwa semuanya masih bisa terkendali. Dini hari itu, sehabis menunggui Ayah yang sakit, aku pindah ke kamar sendiri. Secara tak terduga, adikku baru saja kembali dari luar mengenakan jas hujan lusuh dan sepatu bot merah. Ia agak kaget.

“Kakak masih bangun?” tanyanya.

“Iya, ini baru mau balik tidur. Habis nungguin Ayah.”

Ia tidak membalas lagi setelah mengeluarkan reaksi "oh" andalannya. Setelah itu, ia melenggang keluar, sepertinya untuk melepaskan jas hujan dan sepatu bot merah itu.

"Dari mana kamu?" tanyaku balik.

"Ah ... abis ngecek got depan. Kata Ibu mampet, ada yang nyumbat. Musim hujan gini nanti rawan meluap airnya."

Alih-alih seperti habis mengecek got, ia lebih kelihatan seperti baru pulang dari sawah. Lagi pula, kenapa harus mengeceknya dini hari begini, padahal bisa dicek besok pagi ketika hari sudah terang? Mengecek penyebab tersumbatnya got akan jauh lebih mudah saat terang, bukan? Namun, aku tidak mempertanyakan hal itu padanya.

"Biar Kakak yang bantu jemur," tawarku.

"Enggak usah, Kakak tidur aja. Udah capek di rumah mertua, jangan sampai sampai capek di sini juga. Kakak kan ke sini buat istirahat." Ia bersikeras menjemur jas hujan itu sendiri. Kami pun tidak bicara lagi dan beranjak tidur ke kamar masing-masing.

Namun, aku masih terbayang-bayang oleh perilaku janggalnya. Kenapa adikku itu terkesan sedang menyembunyikan sesuatu?

Paginya, tidak kudapati baik itu jas hujan maupun sepatu bot merahnya. Adikku juga sudah pergi dengan temannya; katanya hendak mencari kerja. Kukira pagi itu akan berjalan seperti biasa, dengan aku yang bisa lebih santai dan tenang karena berada di rumah sendiri. Namun, panggilan dari Ibu mertuaku segera menepis semua bayang-bayang tenang itu. Suamiku dirawat di rumah sakit karena dibegal!

Tanpa menunggu waktu lagi, aku bergegas menuju rumah sakit yang dimaksud bersama dengan Ibu. Sesampainya di rumah sakit, dokter membawakan kabar menyedihkan. Suamiku selamat, tetapi cedera yang dideritanya mengakibatkan ia tidak bisa lagi berdiri dengan kedua kakinya dan akan menghabiskan sisa hidupnya di atas kursi roda.

Menurut dokter, suamiku telah berulang kali mendapatkan pukulan benda tumpul dan beberapa kali tusukan. Tusukan yang terkesan tidak mematikan, tetapi cukup untuk melumpuhkan pria dewasa. Dugaannya, suamiku hampir dihabisi. Namun, karena beberapa alasan, pelaku meninggalkannya. Mungkin aksinya ketahuan oleh seseorang sebelum sempat menggondol sepeda motor tersebut, atau sesuatu mencegahnya menyelesaikan apa yang terjadi malam itu. Satu hal yang jelas, suamiku bahkan tidak berdaya di ranjang dan terancam tidak bisa bekerja lagi.

Aku sedih, jelas. Namun, di sisi lain, aku sedikit mendapatkan kelegaan. Suamiku tidak akan pernah lagi melayangkan tendangan padaku dengan keadaannya yang begitu. Selang beberapa waktu, polisi datang meminta keterangan dari suamiku. Untuk keperluan penyelidikan, ia ditanyai tentang berbagai hal: bagaimana kronologinya dan seperti apa pelakunya.

"Orang yang begal saya waktu itu pakai jas hujan, Pak. Sama sepatu bot merah."

Seketika jantungku seolah jatuh ke perut. Saat itulah, pesan dari adikku masuk.

Kak, aku sama temenku mau ke luar kota dulu. Mau cari kerjaan. Aku udah pamit sama Ayah, Ibu. Kakak jaga diri, ya.

Aku bersumpah akan membawa kejadian dini hari itu ke liang lahat.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

20 Januari 2026 | 13:05 WIB

Suara-Suara di Kamar

Tampilkan lebih banyak