Tamu Tak Teduga di Pesantren Kilat

M. Reza Sulaiman | Reza Agustin
Tamu Tak Teduga di Pesantren Kilat
Ilustrasi misteri saat pesantren kilat. (Dok. Gemini AI)

SMP-ku memiliki agenda yang sama tiap tahunnya. Pesantren kilat. Di mana kami juga akan merasakan menjadi santriwan dan santriwati selama satu malam saja. Aku cukup antusias menyambut agenda tersebut. Ada sedikit rasa penasaran yang terpercik tiap kali membayangkan pesantren kilat. Maklum saja, SMP-ku berstatus negeri dan tidak berbasis agama. Serta ... ini adalah tahun pertamaku di SMP. Maka, pengalaman pesantren kilat ini akan menjadi momen sangat berarti bagiku.

Pengalaman yang baru dan segar selalu menjadi tantangan baru bagi kami. Aku pun selalu bertanya-tanya. Bagaimana ya, rasanya menjadi santri? Walaupun harus diakui kalau satu malam menginap di sekolah tak menggambarkan bagaimana kehidupan di pesantren secara penuh dan nyata.

Menurut wali kelas, pesantren ini akan berlangsung dua hari satu malam. Hari pertama diisi pengajian, pelajaran agama seperti biasa, diselingi dengan istirahat siang, lalu pada sore harinya kembali mengaji untuk menantikan waktu berbuka. Kami bahkan diperbolehkan membantu menyiapkan takjil walaupun tidak diwajibkan oleh pihak sekolah. Lalu setelah berbuka bersama dan salat Magrib berjamaah, kami diberikan waktu bebas untuk santai. Setelah salat Isya dan Tarawih berjamaah, kami akan diberi kebebasan lagi. Kami dipersilakan untuk mengaji, membaca di perpustakaan, maupun menghubungi orang tua. Baru setelah itu acara menginap bersama dimulai untuk menutup kegiatan pesantren kilat hari pertama.

Dan tibalah pada hari kedua diawali dengan sahur bersama, salat Subuh berjamaah diselingi dakwah oleh para guru. Paginya bisa dibilang puncak acara di hari kedua. Yaitu dengan diadakannya pengajian akbar dan untuk dakwahnya juga diisi oleh seorang ustaz ternama di kota kami. Baru setelah itu kami diperbolehkan pulang setelah saling bermaaf-maafan sebelum menikmati libur panjang lebaran. Kira-kira begitulah runutan acara pesantren kilatnya.

Ini hari pertama kegiatan pesantren kilat. Alhamdulillah lancar sampai berbuka puasa. Sambil menunggu jatah tempat untuk salat Magrib berjamaah, aku memutuskan duduk-duduk di dekat kantin saja sambil menghubungi orang tua via pesan singkat. Kakak-kakak kelas yang berhalangan puasa sedang membantu mencuci piring. Saat itulah aku mendengar selentingan obrolan mereka.

"Eh, kamu kan yang pernah liat si itu gak sih pas puasa tahun lalu," celetuk salah satu dari mereka.

"Eh, iya lagi. Padahal katanya mereka dikurung pas puasa. Kok masih bisa keluar, sih. Pas kita pesantren kilat lagi," balas yang lain.

"Selama enggak jahat ya enggak apa-apa, sih. Kan dia baik tuh, bangunin kita sahur, hahaha."

Sebetulnya aku penasaran dengan topik yang sedang asyik diobrolkan kakak-kakak kelas itu, akan tetapi aku masih sungkan bergabung. Padahal mereka terlihat ramah, masalahnya adalah aku yang tidak punya keberanian menyapa duluan. Namun, siapa yang menduga kalau salah satu dari kakak-kakak itu malah menyapaku duluan. Dialah yang memulai topik obrolan tadi. Namanya Kak Najwa, sekarang duduk di kelas sembilan yang berarti pula tahun terakhirnya di SMP ini. Kebetulan sudah ada ruang untuk salat di masjid, aku pun bergegas berangkat ditemani Kak Najwa yang kasihan melihatku sendirian.

"Oh, iya Kak Najwa. Kalau boleh tanya, tadi ngomomgin soal apa?" tanyaku di perjalanan.

Iya hanya terkekeh. "Ada, deh. Kalau kamu tahu, nanti malah ngacir enggak mau nginep di sini lagi."

"Eh, emang apaan itu, Kak?"

"Udah, enggak usah dipikirin. Nanti malah kepikiran."

Kak Najwa tidak sempat menemaniku sampai masjid karena ia sudah lebih dulu dipanggil guru BK untuk bantu-bantu menggotong piring kotor. Ia sempat menggerutu walaupun pada akhirnya menurut juga. Setelah saling melambaikan tangan, kami pun berpisah ke tujuan masing-masing. Aku sempat terlupa dengan topik pembicaraan tentang "si itu" sampai berakhirnya seluruh kegiatan. Hingga tibalah waktunya tidur.

Angkatan kelas satu terdiri dari enam kelas. Tiga kelas dijadikan tempat tidur anak perempuan, sedangkan tiga kelas yang lain menjadi tempat tidur anak laki-laki. Setiap kelas dijaga masing-masing dua guru. Kami tidur di lantai beralaskan tikar dan kasur tipis. Mungkin saking mengantuknya, aku lekas tidur dan anehnya aku bermimpi cukup seram. 

Di setiap sekolah selalu berembus mitos; sekolah kita bekas kuburan. Mungkin dikarenakan desas-desus itulah aku akhirnya bermimpi buruk. Halaman sekolah, lorong-lorong kelas, bagian dalam kelas, bahkan kamar mandinya ditanami dengan batu nisan! Aku sangat ketakutan sampai rasanya ingin berteriak, tetapi suaraku teredam. Tidak mau keluar sekuat apa pun aku mencoba. Saat itulah di telingaku terdengar bisikan dengan suara serak yang berkata, "BANGUN!"

Seperti ditarik kencang, aku secara tidak sadar sudah duduk terengah-engah di atas kasur. Lelehan keringat membasahi tubuh. Perpaduan antara rasa takut dengan keringat dingin, napas yang satu-satu, dan debaran jantung tidak teratur nyaris membuatku pingsan. Namun, belum sempat aku menguasai diri, telingaku menangkap bunyi tuk tuk tuk berulang. Seperti kaca jendela yang diketuk berulang-ulang dengan tenaga kecil. Aku tidak berani mengarahkan pandanganku pada sumber suara. Ada sesuatu menyeramkan di sana. 

Sayangnya, semakin diabaikan, suara itu malah semakin menjadi. Seolah sedang berusaha menarik perhatianku. Awalnya aku tidak berani menoleh ke asal suara, tetapi jika aku tidak menoleh mungkin saja kaca jendela kelas kami pecah oleh ketukan itu. Jantungku berdebar makin kencang, keringat kembali meleleh, dan napasku makin tersengal. Seperti kepala boneka rusak, aku menoleh dengan gerakan putus-putus. Jeritan yang semula tertahankan di mimpi meledak ketika aku melihat sosok "itu" di jendela. Ia menggedor-gedorkan kepala ke kaca jendela. Teriakan itu membangunkan seisi kelas. Bahkan salah satu dari teman sekelasku juga melihat pemandangan yang sama.

"Bu, Bu Guru! Ada pocong, Bu!"

Sekarang aku mengerti maksud perkataan Kak Najwa. "Si itu" betulan membangunkan kami semua sahur.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak