Aku baru saja diusir dari kosan karena menunggak, lalu secara kebetulan Ardi menawarkan agar aku menginap saja di rumahnya selama beberapa hari.
Hitung-hitung biar rumahnya tidak kosong karena ditinggal dinas keluar kota. Ardi memang tinggal sendirian semenjak orang tuanya meninggal. Kakak perempuannya juga sudah ikut suaminya setelah menikah. Tawaran itu sangat menggiurkan untukku yang sedang tekor.
Walaupun kami aslinya tidak begitu dekat di tempat kerja, tetapi Ardi baik juga mau memberikan tumpangan tempat tinggal.
“Nanti kamu tidur di kamar bekas kakakku, ya. Sekarang udah jadi kamar tamu. Kalau soal makanan, paling itu-itu aja di kulkas soalnya aku selama ini gak masak. Paling pesen online aja. Tapi kalau mi instan sama telur udah pasti ada,” pesannya sebelum berangkat dinas tadi. “Satu lagi. Jangan masuk ke kamarku, ya!”
Aku hanya terkekeh.
“Iya, iya. Enggak bakal maling, kok. Udah dikasih tumpangan masa mau maling juga. Aman, aman.”
Ardi pun menyerahkan kunci rumah dan kunci kamar tamu saja. Ia pamit sambil titip pesan supaya jaga rumah. Lalu, di sinilah aku memasuki rumah Ardi untuk pertama kali.
Rumahnya tidak begitu luas, tetapi lebih luas daripada rumah petak di kiri kanannya. Ada halaman kecil yang dijadikan tempat menjemur dan ditanami bebungaan yang tidak terawat.
Untungnya Ardi tidak menitipkan jemuran juga padaku. Malam itu, aku menikmati mi goreng dengan telur ceplok sambil main gim.
Suasana di sekitar rumah Ardi agak ramai karena masih ada beberapa anak yang main sehabis isya. Namun, di antara bising anak-anak di luar, aku mendengar suara duk duk duk yang berulang dari kamar Ardiada stiker bertuliskan huruf A di pintunya sehingga kutafsirkan itu sebagai kamarnya.
Suara itu terus terdengar beberapa kali, sehingga aku yakin itu bukan halusinasiku saja. Segera, aku mengirimkan pesan pada Ardi.
[Ada suara dari kamarmu]
[Oh, di pasti suara tikus. Di kamarku kadang ada tikusnya]
[Rumahmu enggak angker, ‘kan?]
[Heh! Enggaklah. Udah puluhan tahun tinggal di sana, gak pernah tuh liat setan]
Kusudahi pesan itu, memang aku saja yang parno. Berpindah-pindah kosan, bukan sekali dua kali aku mengalami hal aneh sehingga aku selalu parno tiap kali menempati kamar baru.
Setelah berulang kali berkomprompi, akhirnya aku memutuskan untuk tidur saja. Toh, yang punya rumah saja sudah konfirmasi kalau tak ada hal-hal aneh di rumahnya. Suara-suara di kamarnya karena ulah tikus.
Cuci piring sudah, mandi sudah. Waktunya tidur. Beruntung kamar tamu cukup jauh dari kamar Ardi. Kalaupun ada suara gaduh tikus, setidaknya tidak akan terlalu terdengar dari jarak ini. Namun, suara-suara itu masih saja terdengar walaupun sudah beberapa waktu berlalu.
Aku penasaran. Tikus sebesar apa yang mampu membuat suara-suara itu? Merasa tidak bisa lagi diam, aku pun menghampiri lagi kamar tersebut. Suaranya masih terdengar walaupun sudah tak sekencang sebelumnya. Kutempelkan telinga ke badan pintu dan saat itulah kudengar suara berdebum keras dari dalam. Juga suara rintih napas perempuan.
Tidak bisa begini! Aku bergegas kembali ke kamar tamu, mengambil barang-barang lalu keluar dari rumah itu. Kucoba menghubungi Ardi, tetapi nomornya tidak aktif. Status WhatsApp terakhirnya menunjukkan bahwa ia telah naik pesawat. Ia tidak akan bisa kuhubungi dalam beberapa waktu. Tidak angker katanya. Padahal rumahnya jelas-jelas berhantu. Jadilah malam itu aku menginap ke kosan teman lain daripada tidur menggembel di jalanan.
***
Ardi dikabarkan tidak bisa dihubungi setelah hari keberangkatannya itu. Sudah satu pekan berlalu tanpa kabar. Kakak perempuannya bahkan mencarinya ke kantor dan saat itulah kami berjumpa.
Kedatangannya ke kantor ini untuk menanyakan keberadaan adiknya yang hilang tanpa kabar, tetapi setelah kusebutkan perihal kunci yang masih terbawa olehku ia buru-buru memintaku ikut dengannya ke rumah tersebut.
Setibanya di halaman, aroma busuk luar biasa itu segera menusuk-nusuk hidung. Aroma ini jelas mengganggu tetangga sampai-sampai mereka ikut berkumpul di halaman rumah Ardi. Kakak perempuan Ardi membuka pintu rumah, saat itulah aroma busuknya makin keras tercium. Aroma itu berasal dari kamar Ardi. Namun, karena kunci kamar Ardi masih dibawa, kakaknya tidak memiliki pilihan selain mendobrak paksa pintu tersebut. Begitu pintu terbuka, aroma bangkai semakin menyebar di udara.
Di dalam kamar itu, jasad seorang perempuan ditemukan terikat dengan kaki ranjang. Mulutnya dibungkam dengan kain dan tubuhnya mulai membusuk. Aku tercenung, jadi ... suara-suara misterius di kamar itu bukanlah hantu.