Aku selalu percaya bahwa hidup berubah karena keputusan besar, pindah kota, berhenti kerja, menikah, atau kehilangan seseorang. Aku tidak pernah menyangka bahwa hidupku justru berbelok karena sesuatu yang begitu kecil bahkan nyaris tak berarti hanya satu menit keterlambatan.
Pagi itu dimulai seperti hari-hari lain. Alarm berbunyi pukul lima, aku mematikannya tanpa semangat. Hujan turun sejak subuh, membasahi jendela kamar kosku yang kusam. Di luar, suara motor berlalu-lalang, seperti rutinitas yang tak pernah peduli pada perasaan siapa pun.
Aku bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan distribusi kecil. Tidak ada yang istimewa dari pekerjaanku. Datang pagi, pulang sore, hidup dari gaji yang cukup untuk bertahan, bukan untuk bermimpi. Namun pagi itu terasa berbeda bukan karena firasat, hanya karena aku kelelahan luar biasa.
Saat hendak berangkat, aku melihat kemeja kerjaku kusut. Biasanya aku akan mengabaikannya. Tapi entah mengapa, aku memutuskan menyetrika ulang. Hanya sebentar, pikirku. Tak sampai lima menit.
Keputusan kecil itulah yang membuatku keluar kos satu menit lebih lambat dari biasanya.
Aku ingat betul, satu menit.
Saat aku tiba di halte, bus langgananku sudah melaju menjauh. Aku berdiri terpaku, napasku tertahan. Bus itu jarang terlambat. Biasanya akulah yang selalu tepat waktu. Aku mengumpat pelan, menyalahkan setrika, hujan, dan diriku sendiri.
Tak ada pilihan selain menunggu bus berikutnya.
Di halte yang sama, seorang ibu tua duduk sambil memegang tas kain lusuh. Rambutnya memutih, bajunya sederhana. Ia tersenyum kecil saat aku berdiri di sampingnya.
“Ketinggalan bus, Nak?” tanyanya.
Aku mengangguk, malas berbasa-basi.
“Tidak apa-apa,” katanya lembut. “Kadang yang terlambat justru diselamatkan.”
Aku nyaris tertawa. Kalimat itu terdengar seperti nasihat klise yang sering dibagikan di media sosial. Aku hanya membalas senyum tipis.
Beberapa menit kemudian, bus berikutnya datang. Aku naik dan duduk di dekat jendela. Perjalanan terasa biasa saja hingga tiba-tiba bus berhenti mendadak. Suara sirene meraung. Orang-orang mulai berbisik.
“Tabrakan,” kata seseorang.
Kami turun dan melihat kerumunan di persimpangan. Jantungku berdegup cepat saat aku menyadari sesuatu yang membuat kakiku gemetar bus yang terlibat kecelakaan itu adalah bus yang seharusnya kutumpangi.
Bus yang ketinggalan satu menit tadi.
Kecelakaan itu parah. Sebuah truk melaju tak terkendali dan menghantam sisi bus. Beberapa penumpang terluka. Aku berdiri terpaku, napasku tercekat. Jika aku tidak menyetrika kemeja itu… jika aku berangkat seperti biasa…
Aku tidak berani melanjutkan pikiran itu.
Hari itu aku pulang lebih awal. Aku duduk di kamar kos, menatap dinding kosong. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar menyadari betapa rapuhnya hidup. Betapa satu menit bisa menjadi garis tipis antara ada dan tiada.
Namun perubahan tidak berhenti di situ.
Sejak hari itu, aku mulai memperhatikan hal-hal kecil yang dulu kuanggap sepele. Senyum orang asing. Sapaan satpam di kantor. Pesan singkat dari ibuku yang sering kutunda balasannya.
Beberapa minggu kemudian, aku kembali bertemu ibu tua di halte itu. Ia duduk di tempat yang sama, membawa tas yang sama.
“Kita bertemu lagi,” katanya sambil tersenyum.
Aku duduk di sampingnya. Kali ini, aku yang membuka percakapan.
“Terima kasih,” kataku tiba-tiba.
Ia menoleh, bingung.
“Karena ucapan Ibu waktu itu,” lanjutku. “Tentang yang terlambat diselamatkan.”
Ia tertawa kecil. “Ah, itu cuma kata-kata.”
“Bagi saya, itu lebih dari kata-kata.”
Kami berbincang sepanjang menunggu bus. Aku tahu namanya Bu Rani. Ia menjual kue basah keliling. Setiap pagi ia naik bus untuk menitipkan kue ke warung-warung kecil.
“Saya tidak pernah sekolah tinggi,” katanya suatu kali. “Tapi saya percaya satu hal: kebaikan kecil itu tidak pernah sia-sia.”
Kalimat itu menempel di kepalaku.
Di kantor, aku mulai berubah. Aku tidak lagi bekerja sekadar menggugurkan kewajiban. Aku lebih teliti, lebih peduli. Saat seorang rekan kerja dimarahi atasan, aku menemaninya makan siang. Saat ada kesalahan kecil dalam laporan, aku memilih memperbaiki tanpa menyalahkan siapa pun.
Perubahan itu tidak langsung mengubah hidupku secara drastis. Tidak ada promosi instan. Tidak ada lonjakan gaji. Tapi ada sesuatu yang berbeda aku pulang dengan perasaan lebih utuh.
Beberapa bulan kemudian, perusahaan kami hampir kehilangan klien besar karena kesalahan administrasi. Aku kebetulan memeriksa ulang dokumen yang hampir luput diperhatikan. Kesalahan kecil satu angka yang tertukar berhasil dicegah.
Atasan memanggilku ke ruangannya.
“Kalau kamu tidak teliti waktu itu,” katanya, “kerugiannya bisa besar.”
Aku hanya mengangguk. Dalam hati, aku teringat kemeja kusut, satu menit keterlambatan, dan seorang ibu tua di halte.
Beberapa minggu setelah itu, aku dipromosikan. Bukan ke posisi tinggi, tapi cukup untuk membuat hidupku lebih stabil. Namun yang paling berharga bukan jabatan itu melainkan kesadaran bahwa hidup tidak selalu berubah karena lompatan besar.
Kadang, hidup berubah karena kita memilih menyetrika kemeja.
Karena kita memilih menunggu, bukan memaksa.
Karena kita memilih bersikap baik, meski tak ada yang melihat.
Suatu pagi, aku datang lebih awal ke halte. Aku tidak melihat Bu Rani lagi. Kata penjaga halte, beliau pindah ke kota lain untuk tinggal bersama anaknya.
Aku tersenyum sendiri.
Aku tidak tahu apakah Bu Rani menyadari betapa besar pengaruh kata-katanya bagiku. Mungkin tidak. Dan mungkin memang tidak perlu.
Karena kini aku tahu hal kecil tidak perlu terlihat besar untuk mengubah segalanya. Ia hanya perlu terjadi dan kita cukup hadir untuk menyadarinya.
Dan sejak hari itu, setiap kali hidup terasa biasa saja, aku mengingat satu menit yang mengubah hidupku.