Cincin itu tergeletak di dasar laci — sunyi, dingin, dan berkarat. Aku tak tahu sudah berapa lama aku duduk di tepi ranjang ini, memandangi sepasang lingkaran kecil itu seolah mereka bisa bicara. Karat yang melingkupinya tak terbentuk dalam semalam; ia adalah hasil dari tahun-tahun panjang yang dipenuhi luka, diam, dan jarak. Namun meskipun begitu, mereka tetap sepasang. Tetap bersama. Sama seperti kita, dulu.
Aku mengusap cincin itu dengan ibu jari, pelan dan hati-hati, seakan takut melukai sesuatu yang sudah lebih dulu rapuh. Ada rasa dingin yang menyusup ke kulitku, tapi lebih dari itu, ada kenangan yang tiba-tiba menyeruak — begitu nyata sampai rasanya aku bisa mendengar suaramu memanggil namaku.
Aku ingat hari ketika kita membeli cincin ini. Toko kecil di sudut jalan, dengan etalase kaca yang agak berdebu dan lampu redup. Kita tak punya banyak uang saat itu, tapi kau menggenggam tanganku dengan keyakinan yang begitu kuat. “Yang penting bukan harganya,” katamu, sambil tersenyum. “Yang penting, ini milik kita.”
Aku tak pernah lupa bagaimana matamu berbinar ketika penjual itu menyerahkan dua cincin sederhana dalam kotak beludru. Aku tak pernah lupa caramu menyematkan cincin itu di jariku, dengan tangan yang sedikit gemetar. Dan aku juga tak pernah lupa bisikanmu malam itu, ketika kita berbaring di bawah langit yang dipenuhi bintang:
“Kita akan baik-baik saja, kan?”
Waktu itu aku menjawab dengan penuh keyakinan. “Tentu saja.”
Tapi janji sering kali lebih mudah diucapkan daripada dijaga.
Perlahan-lahan, kita mulai kehilangan arah. Pekerjaan yang menyita waktu, mimpi yang berjalan ke arah berbeda, percakapan yang semakin jarang, semakin jarang tertawa. Kita terbiasa dengan diam, sampai diam itu berubah menjadi dinding. Dan ketika akhirnya kita mulai bicara, kata-kata yang keluar hanya saling menyakiti.
“Apa kita salah?” tanyamu di suatu malam, di tengah sunyi yang menyesakan.
Aku tak tahu harus menjawab apa. Aku hanya menatapmu dalam remang kamar, mencari jawaban di wajah yang begitu kukenal tetapi terasa begitu jauh. Aku ingin memelukmu. Aku ingin mengatakan bahwa kita bisa memperbaikinya. Tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokanku, dan aku hanya bisa berbisik, “Mungkin kita hanya kalah.”
Malam itu, kau melepas cincinmu. Aku melihat caramu menatap lingkaran kecil itu di jarimu, seolah enggan berpisah. Lalu, dengan gerakan yang pelan dan penuh ragu, kau meletakkannya di atas meja. Denting kecilnya terdengar seperti penutup sebuah cerita.
Aku mengikuti jejakmu. Melepas cincinku, meletakkannya di samping milikmu. Dan di sanalah mereka, dua lingkaran yang tak sempurna, berdampingan dalam keheningan yang menyakitkan.
Sejak malam itu, kita memilih berjalan di jalan yang berbeda. Aku tak pernah tahu bagaimana caramu menghabiskan hari-harimu setelah itu, dan aku terlalu pengecut untuk bertanya. Aku hanya tahu, dunia terasa jauh lebih sepi tanpamu.
Tapi aku tak pernah bisa membuang cincin itu. Aku menyimpannya di laci ini, bersama kenangan yang terlalu berharga untuk dilupakan. Kadang-kadang, aku membuka laci itu hanya untuk memastikan mereka masih di sana — sepasang cincin yang pernah menjadi simbol harapan kita.
Dan malam ini, aku melakukannya lagi. Aku mengangkat cincin-cincin itu, menggenggamnya di telapak tangan, merasakan dinginnya yang menusuk. Aku bertanya-tanya apakah kau juga masih menyimpannya. Atau mungkin, kau sudah melupakannya, seperti kau melupakan aku.
Ponselku tiba-tiba bergetar. Aku terlonjak, dan ketika melihat namamu tertera di layar, jantungku berdegup kencang. Aku menatap layar itu lama, ragu-ragu untuk membuka pesanmu. Tapi akhirnya, aku menyerah pada rasa ingin tahu yang selama ini kutahan.
“Aku mimpi tentang kita tadi malam.”
Hanya satu kalimat, tapi rasanya cukup untuk membangkitkan segala yang selama ini kusembunyikan rapat-rapat. Aku menatap layar itu lama, sebelum akhirnya membalas dengan hati-hati.
“Mimpi yang indah atau menyakitkan?”
Balasanmu datang hampir seketika.
“Keduanya.”
Aku menutup mata, membiarkan air mata yang kutahan sejak tadi akhirnya jatuh. Aku menatap cincin di tanganku, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku tersenyum. Mungkin kita tak lagi bersama. Mungkin waktu sudah mengubah kita. Tapi ada satu hal yang tak pernah berubah: sepasang cincin ini tetap milik kita.
Dan meskipun berkarat, mereka tetap sepasang. Tetap bersama. Seperti kita, dalam cara yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata.