Tidak ada yang istimewa dari halaman belakang rumah itu. Tanahnya keras, berdebu, dan nyaris tak pernah disentuh air hujan dengan layak. Di sekelilingnya berdiri rumah-rumah rapat, berdinding tembok kusam, dengan jemuran pakaian menggantung seperti bendera kelelahan. Namun, di sudut halaman itu, berdiri sebuah pohon mangga tua yang tinggi, rindang, dan selalu berbuah, bahkan ketika musim seakan lupa pada tempat itu.
Bagi orang-orang sekitar, pohon itu hanyalah pohon. Tempat berteduh dari panas, tempat anak-anak memanjat, tempat burung bertengger, dan sesekali tempat orang dewasa memetik buah tanpa izin. Tidak ada yang tahu, atau mungkin tidak peduli, bahwa pohon itu tumbuh dari sebuah kebaikan kecil yang pernah dilakukan puluhan tahun lalu. Termasuk aku.
Aku baru menyadarinya ketika kembali ke kampung itu setelah dua puluh tahun pergi. Namaku Angga. Aku pulang bukan sebagai siapa-siapa yang besar. Aku tidak membawa mobil mewah atau pakaian mahal. Aku hanya membawa satu koper tua, tubuh yang lelah, dan kepala yang penuh ingatan yang selama ini sengaja kutinggalkan.
Rumah itu masih berdiri. Catnya lebih pudar, gentingnya mulai retak, tetapi pohon mangga itu masih sama—bahkan lebih besar, lebih kokoh, dan lebih hidup daripada ingatanku sendiri. Aku berdiri lama di depannya. Dan ingatan itu datang tanpa diminta.
Aku dibesarkan di rumah itu oleh seorang perempuan bernama Bu Sari. Ia bukan ibu kandungku. Aku bahkan tidak pernah tahu siapa orang tuaku yang sebenarnya. Aku hanya tahu satu hal: ketika aku berusia tujuh tahun, aku ditemukan pingsan di depan musala kampung dengan tubuh kurus dan perut kosong.
Tidak ada yang mau repot. Semua orang punya hidup masing-masing. Sampai akhirnya Bu Sari keluar dari rumahnya, membawa segelas air dan sepiring nasi.
“Kalau Tuhan masih memberi kamu napas,” katanya pelan waktu itu, “berarti kamu masih layak hidup.”
Ia membawaku masuk, memberiku makan, dan membersihkan lukaku. Sejak hari itu, aku tinggal bersamanya. Bu Sari bukan orang kaya. Ia hanya menjahit baju tetangga, mengajar mengaji anak-anak pada sore hari, dan menjual gorengan kecil-kecilan. Namun, ia tidak pernah menghitung berapa kali ia memberiku makan, berapa biaya sekolahku, atau berapa banyak kesabarannya yang terkuras karena kenakalanku.
Satu hal yang paling kuingat darinya adalah caranya memandang hidup.
“Kebaikan itu seperti menanam pohon, Ga,” katanya suatu sore sambil menyiram tanah kosong di belakang rumah. “Kita tidak selalu makan buahnya. Kadang malah orang lain. Namun, kalau kita tidak menanam, tidak akan pernah ada yang bisa dipetik.”
Aku tidak mengerti waktu itu. Aku hanya anak kecil yang ingin cepat besar dan keluar dari kampung sempit ini. Hari itu, Bu Sari menanam bibit mangga kecil. Batangnya kurus, daunnya sedikit. Tetangga bahkan sempat menertawakannya.
“Bu, tanah sini keras. Tidak bakal hidup,” kata seseorang.
Bu Sari hanya tersenyum. “Kalau mati, ya sudah. Setidaknya pernah dicoba.”
Ia menyiramnya setiap pagi, menjaganya dari kambing tetangga, dan memagarinya dengan kayu bekas. Semua dilakukan dengan sabar, tanpa harapan berlebihan. Sementara aku? Aku tumbuh dengan kepala penuh amarah. Aku sering iri melihat anak-anak lain yang memiliki orang tua kandung. Aku sering bertanya-tanya mengapa hidupku harus dimulai dari tidak punya siapa-siapa. Dalam kebodohanku, aku sering melampiaskannya pada Bu Sari. Aku pernah kabur dari rumah, mencuri uangnya, hingga berkata kasar. Namun, Bu Sari tidak pernah berhenti menyebut namaku dalam doanya.
Waktu terus berjalan. Pohon mangga itu tumbuh pelan-pelan, sama seperti aku. Saat aku lulus SMA, aku diterima bekerja di kota. Tidak besar, tidak hebat, tetapi cukup untuk pergi. Aku pamit tanpa banyak air mata. Aku pikir, hidupku yang sebenarnya baru akan dimulai setelah meninggalkan kampung ini.
Bu Sari hanya membekaliku satu kalimat. “Ke mana pun kamu pergi, jangan lelah menjadi orang baik. Dunia sudah cukup keras tanpa perlu kamu ikut menambahnya.”
Aku mengangguk, tetapi aku tidak benar-benar mendengarnya. Di kota, hidup mengajariku cara bertahan. Aku bekerja keras, jatuh, dan bangkit. Aku belajar bersikap dingin agar tidak dimanfaatkan. Tanpa sadar, aku mulai melupakan cara melihat manusia seperti Bu Sari melihatku dulu; sebagai seseorang yang layak ditolong meski belum berguna.
Tahun demi tahun berlalu. Aku jarang pulang, telepon pun makin jarang. Hingga suatu hari, kabar itu datang: Bu Sari meninggal. Aku pulang terlambat. Tidak sempat melihat wajahnya untuk terakhir kali, tidak sempat mengucapkan terima kasih dengan benar, dan tidak sempat mengatakan bahwa aku akhirnya mengerti.
Pemakaman sederhana, tangis pelan, dan pohon mangga itu… penuh buah. Orang-orang memetiknya setelah tahlilan. Anak-anak tertawa, tetangga membawa pulang dalam kantong plastik. Aku berdiri di sudut halaman, menatap pohon itu dengan dada sesak. Bu Sari sudah pergi, tetapi sesuatu darinya masih hidup.
Aku kembali ke kampung itu sekarang, bertahun-tahun kemudian, bukan untuk bernostalgia. Aku pulang karena lelah. Karena hidup akhirnya mengajarkanku bahwa kesuksesan tanpa makna hanyalah bentuk lain dari kehampaan. Pohon mangga itu masih berdiri, lebih besar dan lebih rindang. Akar-akarnya bahkan merambat ke tanah tetangga, memberikan naungan di mana-mana.
Seorang anak kecil memanjatnya. Ia menjatuhkan satu mangga, lalu tertawa. Ibunya tidak memarahinya. “Pohon Bu Sari mah tidak pelit,” katanya.
Aku tersenyum kecil. Hari itu, aku duduk di bawah pohon itu lama sekali. Angin menggerakkan daun-daunnya. Cahaya matahari jatuh seperti doa yang tidak pernah selesai. Dan aku akhirnya mengerti. Bu Sari tidak hanya menanam pohon mangga. Ia menanam keberanian di hatiku yang dulu takut hidup. Ia menanam kasih di dunia yang dingin. Ia menanam kebaikan yang tidak meminta balasan.
Dan seperti pohon itu, kebaikannya terus berbuah bahkan setelah ia tiada. Malam itu, aku memutuskan sesuatu. Aku menjual rumah di kota, kembali ke kampung, dan membuka kelas kecil untuk anak-anak yang kesulitan sekolah. Aku tidak kaya, aku tidak sempurna, tetapi aku punya cukup untuk berbagi.
Kadang aku lelah, kadang aku ingin menyerah. Namun, setiap kali aku ragu, aku melihat pohon itu. Aku ingat Bu Sari. Dan aku tahu, hidup bukan soal seberapa banyak yang kita kumpulkan, melainkan seberapa lama kebaikan kita bisa terus hidup setelah kita pergi. Karena kebaikan sejati tidak pernah mati.
Ia tumbuh, berakar, berbuah, dan memberi nikmat bagi banyak orang bahkan ketika penanamnya sudah menjadi bagian dari tanah. Seperti Bu Sari. Seperti pohon yang rindang itu. Seperti kebaikan kecil yang dilakukan dengan hati utuh, yang diam-diam mengubah dunia.