Segala kebaikan yang dilakukan di bulan Ramadhan menjadi pahala yang berlipat ganda. Rafi selalu percaya satu hal Ramadhan adalah musim panen, ya, Panen pahala, tentu saja.
Sejak awal bulan, lini masa Instagram dan TikTok-nya dipenuhi poster donasi. Wakaf Al-Qur’an untuk pelosok. Bantuan kemanusiaan untuk Gaza. Sedekah iftar harian. Pembangunan sumur di desa kekeringan. Semua disertai hitung mundur dan kalimat yang terasa mendesak
“Jangan tunda kebaikan, lakukan sekarang juga.”
“Kesempatan belum tentu datang dua kali.”
“Satu klikmu, menyelamatkan mereka.”
Rafi, mahasiswa semester lima jurusan manajemen, merasa tertantang. Ia bukan anak orang kaya. Uang bulanannya juga pas-pasan. Tapi ia tak ingin Ramadhan-nya biasa saja, ia ingin bisa membantu banyak orang dengan sedikit rezekinya.
Di story, teman-temannya mulai mengunggah bukti transfer. Ada yang berdonasi satu juta. Ada yang patungan besar untuk wakaf atas nama keluarga. Bahkan ada pula yang selalu membagikan takjil gratis kepada banyak orang di pinggiran jalan.
Rafi menatap layar ponselnya lama.
“Aku juga bisa, aku mau seperti mereka” gumamnya.
Di bawah tombol pembayaran, tersedia berbagai opsi. Transfer bank, E-wallet dan satu yang paling praktis Paylater bisa dicicil 3 bulan dan tanpa kartu kredit.
Rafi tersenyum kecil seakan ada hilal di pikirannya untuk membantu sesama.
“Yang penting niat dulu. Nanti rezeki pasti datang dengan sendirinya kalau kita ikhlas berbagi,” pikirnya.
Klik, donasi pertama sukses. Perasaannya hangat, ringan seperti baru saja melakukan sesuatu yang besar.
Tak berhenti di situ, keesokan harinya ia ikut program sedekah harian otomatis. Nominalnya tak besar, tapi rutin. Lalu ada kampanye wakaf atas nama orang tua. Ia tak ingin ketinggalan. Klik lagi.
Di akhir pekan, ia dan teman-temannya membagikan takjil di jalan. Rafi menanggung biaya lebih banyak karena ingin sekalian di dokumentasikan untuk konten kampus.
“Masya Allah, Raf, dermawan banget lo,” kata Fikri sambil menepuk bahunya.
Rafi tersenyum, meski dalam hati ia tahu hampir semua itu dibayar dengan limit digital.
Minggu kedua Ramadhan, notifikasi pertama muncul, jumlah tagihan Paylater Rp1.350.000. Jatuh tempo 30 hari. Rafi mengerutkan dahi.
Ia mencoba menghitung. Uang bulanannya tinggal separuh. Belum termasuk kebutuhan kos, fotokopi tugas, dan transportasi.
“Masih lama jatuh temponya,” hiburnya.
Namun poster-poster donasi terus berdatangan.
Malam ke-17, sebuah kampanye besar muncul di lini masanya. Video anak kecil dengan mata berkaca-kaca. Narasi menyentuh. Target donasi hampir tercapai.
“Sayang banget kalau kurang sedikit,” pikir Rafi.
Ia membuka kembali aplikasi, limitnya tinggal sisa sedikit, dan klik. Transaksi berhasil. Ada rasa bangga. Seolah-olah ia ikut menutup kekurangan dunia.
Masalah mulai terasa menjelang sepuluh hari terakhir Ramadhan. Uang sakunya menipis lebih cepat dari biasanya. Ia mulai mengurangi makan di luar. Sahur dengan mi instan. Buka puasa seadanya.
Di masjid, ustadz membahas tentang keutamaan sedekah yang dilakukan dengan ikhlas dan tanpa memberatkan diri. Rafi tersentak pada satu kalimat
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.”
Ia menunduk mendengar kata kemampuan. Kata itu seperti menggedor kepalanya.
Sepulang tarawih, ia membuka aplikasi paylater lagi. Total tagihan membuat napasnya tercekat. Jika tidak dibayar tepat waktu, bunga dan denda akan bertambah.
Ia mulai gelisah, sulit tidur dan setiap malam pikiran dipenuhi angka-angka. Untuk pertama kalinya, Ramadhan terasa menekan. Suatu sore, Rafi duduk bersama ibunya lewat panggilan video.
“Ibu bangga kamu rajin sedekah,” kata ibunya setelah Rafi bercerita sedikit tentang kegiatannya.
Rafi tersenyum canggung. Ia tak berani menyebut soal cicilan.
“Yang penting jangan sampai menyusahkan diri sendiri ya, Nak,” lanjut ibunya lembut.
“Sedekah itu baik, tapi bukan berarti kita harus memaksakan.”
Rafi terdiam sejenak.
“Ibu dulu waktu muda sering cuma bisa sedekah seribu dua ribu. Tapi konsisten. Allah lihat niatnya.”
Rafi menelan ludah. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyesakkan.
Setelah panggilan berakhir, ia menatap kamar kosnya yang sempit. Meja belajar penuh buku. Sudut ruangan dengan jemuran pakaian. Semuanya terasa nyata, berbeda dari dunia digital yang serba instan.
Ia membuka kembali story teman-temannya. Masih ada yang membagikan bukti transfer. Masih ada yang menulis caption panjang tentang “takut tertinggal pahala”.
Rafi sadar, sebagian dari dorongannya bukan murni soal empati. Ia hanya takut ketinggalan, takut kalah dengan orang lain dan takut terlihat kurang peduli dengan sesama.
Malam ke-27 tiba. Biasanya ia akan sibuk membagikan konten refleksi. Tapi kali ini ia duduk sendiri di sudut masjid setelah witir. Doa-doa panjang mengalun. Orang-orang menangis. Rafi justru sibuk memikirkan tagihan.
“Ya Allah, Aku ingin berbuat baik. Tapi kenapa rasanya berat begini?” ia diam-diam mengadu pada Allah dengan mata yang berkaca-kaca.
Tiba-tiba ia merasa kecil. Bukan karena nominal donasinya, tapi karena niatnya yang tercampur. Ia teringat ayat yang pernah ia baca tentang sedekah yang tidak diiringi dengan menyakiti diri sendiri.
Rafi menarik napas panjang, mungkin ia terlalu fokus pada angka, mungkin ia lupa bahwa kebaikan bukan perlombaan.
Hari terakhir Ramadhan, ia membuat keputusan. Ia menghentikan sedekah otomatis. Ia menyusun rencana keuangan sederhana. Ia menghubungi layanan paylater untuk mengatur pembayaran agar tidak terkena denda.
Rasanya tidak heroik. Tidak dramatis, tapi terasa jujur.
Di hari Idulfitri, Rafi tidak mengunggah total donasinya. Tidak ada screenshot. Tidak ada rekap “Ramadhan achievement”.
Ia hanya mengirim pesan pada dua teman dekatnya yang tertuliskan, “Kalau mau sedekah, pastikan sesuai kemampuan ya. Jangan kayak gue, pakai paylater segala.”
Fikri membalas dengan emoji tertawa, lalu serius
“Serius lo?”
Rafi mengangguk dalam pesan suara panjang. Ia menceritakan semuanya. Anehnya, setelah itu ia merasa lebih ringan.
Sebulan kemudian, tagihan pertamanya lunas. Ia masih harus membayar beberapa bulan lagi, tapi kali ini tanpa panik. Ia tetap bersedekah, nominal kecil, langsung dari uang yang memang ia miliki. Tidak besar, tidak viral.
Suatu sore, ia membelikan makan untuk satpam kos yang sering menyapanya ramah. Tanpa foto. Tanpa unggahan. Rasanya hangat. Tenang. Tidak ada notifikasi, tapi ada kelegaan.
Rafi akhirnya mengerti sesuatu yang sederhana namun penting kalau pahala tidak diukur dari nominal atau kecepatan transfer. Kebaikan bukan soal siapa paling cepat klik donasi dan Allah tidak pernah meminta kita berutang demi terlihat dermawan.
Ramadhan mengajarkannya bukan hanya tentang memberi, tapi juga tentang mengenal batas diri. Karena kadang, yang perlu diselamatkan bukan hanya orang lain tapi juga kebijaksanaan kita sendiri.