Di lorong paling ujung pasar, terdapat sebuah kios yang seolah-olah waktu berhenti berputar di dalamnya. Namanya "Kios Aksara Muda". Pintunya terbuat dari kayu jati yang sudah menghitam, dan papan namanya nyaris tak terbaca karena tertutup debu yang menebal. Klasik.
Di tengah keriuhan pasar yang kini lebih banyak menjual bahan makanan, pakaian, alat tulis kantor, dan buku pelajaran bajakan, kios milik Pak Seno ini tetap setia dengan tumpukan novel sastra, kumpulan puisi, dan naskah-naskah drama lama yang kertasnya sudah berwarna cokelat seperti warna daun jati kering.
Masalahnya hanya satu, kios itu sangat sepi. Kadang, dalam seminggu, tidak ada satu pun pasang kaki yang melewati ambang pintunya. Pak Seno, seorang pria berusia tujuh puluh tahun dengan kacamata tebal yang selalu melorot di hidungnya, biasanya hanya duduk di kursi goyang di pojok ruangan, membaca ulang buku-buku miliknya sendiri sambil sesekali mengusap sampulnya dengan sayang.
Namun, di tanggal lima setiap bulan, tepat pukul empat sore, lonceng kecil di atas pintu akan berdenting. Seorang pria tua dengan setelan jas abu-abu yang rapi, namun sangat kuno, akan masuk. Rambut pria itu putih bersih, langkahnya tegap meski dibantu tongkat kayu berujung perak.
Ia tidak pernah bertanya di mana letak buku tertentu. Ia akan langsung berjalan menuju rak paling belakang, rak yang sengaja Pak Seno kosongkan dari buku-buku populer. Ia langsung berdiri di depan rak itu, memperhatikan sampul buku. Serius.
Rak itu hanya berisi buku-buku karya seorang penulis bernama Lesmana Kencana. Seorang penulis yang namanya sudah terkubur oleh zaman, yang karya-karyanya tidak pernah lagi dicetak ulang sejak akhir tahun tujuh puluhan.
"Masih ada?" tanya pria itu dengan suara yang berat, namun lembut.
Pak Seno akan menurunkan kacamata ke ujung hidung, lalu tersenyum tipis. "Masih, Pak. Saya baru saja menemukan cetakan pertama Senja di Pelabuhan Sunyi di sebuah loakan di Jawa Timur bulan lalu. Kondisinya masih bagus, meski ada beberapa noda air di bab terakhir."
Pria itu akan mengambil buku tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia akan menghirup aroma kertas tua itu dalam-dalam, sebuah aroma yang bagi orang lain mungkin terasa agak apek, namun baginya adalah aroma kehidupan. Ia akan duduk di kursi kayu di depan Pak Seno, membuka halaman demi halaman tanpa suara, seolah-olah ia sedang bercakap-cakap dengan kawan lama.
Kejadian ini terus berulang selama bertahun-tahun. Pak Seno tidak pernah bertanya mengapa pria itu hanya membeli buku karya Lesmana Kencana. Dan pria itu tidak pernah bertanya mengapa Pak Seno bersusah payah mencarikan karya-karya penulis yang sudah tidak laku itu hingga ke pelosok negeri. Semuanya diam.
Suatu sore di bulan Januari, hujan turun dengan sangat deras. Langit di atas pasar tampak seperti tinta tumpah. Pak Seno mengira pengunjung setianya tidak akan datang. Namun, tepat pukul empat, lonceng itu berbunyi. Pria berjas abu-abu itu masuk dengan ujung celana yang basah kuyup.
"Pak, kenapa nekat sekali datang di cuaca seperti ini?" kata Pak Seno sambil menyodorkan selembar handuk kering.
Pria itu hanya tersenyum sedih. Ia tidak menuju rak seperti biasanya. Ia duduk di kursi kayu dengan napas yang sedikit sesak. "Seno... aku rasa ini adalah kunjungan terakhirku."
Pak Seno tertegun. Ia meletakkan buku yang sedang ia bersihkan. "Maksud Bapak?"
"Dunia sudah terlalu cepat, Seno. Tidak ada lagi tempat untuk kata-kata yang ditulis dengan tinta. Orang-orang lebih suka membaca ringkasan pendek di layar ponsel daripada menyelami jiwa di balik kalimat," ujar pria itu sambil mengusap sampul buku Lentera yang Padam.
Pak Seno menghela napas panjang. "Kios ini tetap buka karena saya percaya, sebuah buku tidak akan benar-benar mati selama masih ada satu orang yang membacanya."
Pria itu menatap Pak Seno dengan mata yang berkaca-kaca. "Tahukah kau, Seno? Saat aku menulis buku ini lima puluh tahun lalu, aku membayangkan seseorang akan membacanya di sebuah perpustakaan megah sambil memikirkan arti kehidupan. Aku tidak pernah menyangka bahwa di masa tua, aku sendirilah yang harus menjemput buku-bukuku dari kios agar mereka tidak berakhir di penggilingan kertas."
Pak Seno terdiam. Itulah pertama kalinya pria itu mengaku secara terang-terangan bahwa dialah Lesmana Kencana. Meskipun sebenarnya, Pak Seno sudah mengetahuinya sejak sepuluh tahun yang lalu. Tersenyum.
"Saya tahu, Pak Lesmana," bisik Pak Seno. "Itulah alasan mengapa saya tidak pernah menjual buku-buku di rak belakang itu kepada orang lain, meskipun ada kolektor yang menawarnya dengan harga tinggi. Saya menyimpannya untuk Bapak. Saya ingin Anda tahu bahwa di dunia yang bising ini, ada satu sudut kecil yang masih menghargai napas Bapak."
Lesmana Kencana terharu. Ia menyentuh tangan Pak Seno yang keriput. "Kenapa kau melakukannya, Seno? Kiosmu sepi. Kau bisa saja menjual buku-buku langka itu untuk memperbaiki tokomu."
"Karena saya adalah pembaca pertama Bapak. Cerpen Anda di surat kabar lama adalah alasan saya mencintai buku. Saya tidak sedang menjaga kios, saya sedang menjaga sejarah saya sendiri."
Sore itu, tidak ada transaksi uang. Lesmana Kencana meninggalkan kios itu bukan dengan membawa buku, melainkan dengan meninggalkan sebuah naskah tua yang ditulis tangan di atas kertas segel. Naskah yang belum pernah diterbitkan.
"Judulnya Kios di Ujung Jalan. Ini untukmu, Seno. Terbitkan atau simpanlah. Setidaknya, ia berada di tangan yang tepat."
Pria itu pergi menembus hujan. Hari itu memang menjadi kunjungannya yang terakhir. Seminggu kemudian, Pak Seno membaca berita duka di koran tentang berpulangnya seorang sastrawan lama. Air matanya tumpah.
Kios itu kini tetap sepi, namun Pak Seno tidak lagi merasa sendirian. Di rak paling belakang, naskah tulisan tangan itu ia pajang di sebuah bingkai kaca. Setiap kali ada orang langka yang tersesat masuk ke kiosnya, Pak Seno akan menceritakan bahwa di tempat ini, kata-kata pernah menyelamatkan dua nyawa dari kesepian. Bangga.