Jangan Takut Berkata Tidak

M. Reza Sulaiman | Oktavia Ningrum
Jangan Takut Berkata Tidak
Ilustrasi People Pleaser (Gemini AI)

Pagi itu, jam di dinding kamar berdetak terlalu keras, seolah-olah ikut mengomentari hidup Dara yang belakangan terasa seperti antrean permintaan tak berujung. Ia bangun dengan kepala berat, bukan karena kurang tidur, melainkan karena terlalu sering mengiyakan hal-hal yang seharusnya bisa ia tolak.

Ponselnya sudah berisik sejak subuh.

“Dara, bisa bantu membuatkan laporan?”

“Dara, temani aku ke sini, dong.”

“Dara, kamu kan baik, pasti bisa.”

Kalimat terakhir selalu menjadi yang paling licik. Kata "baik" sering diselipkan seperti gula di ujung racun. Dara menatap layar sambil menghela napas panjang. Ia ingin menjawab nanti, atau tidak sama sekali, atau menghilang sementara menjadi awan kecil di langit yang tidak punya kewajiban apa pun. Namun, jarinya refleks mengetik: “Iya.”

Ia mendesah, menghapusnya. Mengetik lagi, menghapus lagi. Ia merasa bersalah, tetapi hatinya begitu berat. Ia tidak nyaman dengan dirinya yang sekarang. Semua orang melihatnya sebagai orang baik. Namun, orang baik mana yang menyesal ketika mengiyakan permintaan tolong orang lain? Ia merasa menjadi manusia paling munafik; tersenyum dan mengatakan semua baik-baik saja, padahal di balik itu semua ia mengumpat tindakan orang lain yang tidak bisa mengerti dirinya.

“Kenapa susah banget, sih, mengetik ‘nggak’?” gumamnya pada cermin, yang jelas-jelas tidak akan menghakimi.

Di dapur kos, ia bertemu Via. Teman sekamarnya yang hidupnya tampak lebih ringan, mungkin karena Via punya bakat langka: tidak merasa bersalah saat menolak. Jujur, Dara iri akan hal itu.

“Kamu kenapa pagi-pagi sudah kelihatan capek?” tanya Via sambil menuang kopi. Dara tidak menjawab; ia terlalu lelah untuk itu.

“Sudah baca berita?” tanya Via lagi. Dara mengerutkan keningnya, lalu menjawab dengan gelengan. “Belum.”

“Padahal belum disakiti negara hari ini, sudah capek saja,” ujar Via sembari menyeruput kopi hitamnya.

“Ahaha... Lucu banget kamu,” kata Dara datar, cenderung garing. Biasanya memang lucu, tetapi ia terlalu lelah jika harus menanggung beban negara juga.

“Ih, bukan bercanda. Itu pengamatan.”

Dara duduk, menumpukan dagu di meja. “Aku capek, Vi. Semua orang seolah mengandalkan aku. Dan entah kenapa, aku selalu bilang iya.”

Via menyesap kopi, lalu menatap Dara dengan serius yang tidak terlalu serius. “Aku pernah bilang, kan, kamu itu orang baik. Tapi kamu juga manusia, bukan Wi-Fi gratis.”

Dara terkekeh kecil. “Aku takut dibilang egois.”

“Egois itu kalau kamu sengaja menyakiti orang. Bukan kalau kamu lagi menyelamatkan diri sendiri,” jawab Via yakin.

“Lagi pula, orang-orang yang paling sering minta tolong biasanya paling jarang bertanya, ‘Kamu nggak apa-apa?’”

Kalimat itu jatuh pelan, tetapi tepat sasaran.

Hari itu, Dara tetap berangkat kerja dengan langkah sedikit lebih berat dari biasanya. Di kantor, mejanya belum sempat dingin, sudah ada kepala yang muncul.

“Dar, nanti siang kamu bisa gantikan aku presentasi, ya? Aku ada urusan mendadak,” kata Bagas sambil tersenyum penuh harap. Biasanya, Dara akan mengangguk. Biasanya, Dara akan menelan keberatannya bulat-bulat. Namun hari itu, entah kenapa, dadanya terasa sesak.

Ia teringat pagi tadi. Teringat kopi hitam Via yang terlihat gelap tetapi ternyata manis. Ia teringat betapa lelahnya ia akhir-akhir ini. Lelah yang tidak pernah diumumkan, tidak pernah diperlihatkan, dan mungkin karena itulah tidak pernah dianggap ada. Seolah-olah Dara adalah robot yang baterainya selalu penuh.

“Gas,” kata Dara pelan.

“Ya?” Bagas tersenyum.

“Bukan,” lanjut Dara. “Gas… aku nggak bisa.”

Bagas terdiam. Ruangan seolah-olah ikut menahan napas.

“Hah?” Bagas merasa asing dengan jawaban Dara hari ini. Itu bukan kalimat standar Dara yang biasa.

“Aku nggak bisa. Aku lagi kewalahan. Maaf.”

Tidak ada petir. Tidak ada gempa. Dunia tidak runtuh.

“Oh… ya sudah,” kata Bagas akhirnya, agak canggung. “Aku cari solusi lain.”

Bagas pergi. Dara masih duduk di sana, jantungnya berdegup cepat. Tangannya sedikit gemetar. Namun, senyum tak tertahankan hadir di wajahnya. “Ah, ternyata aku... bisa.” Dunia tidak hancur seketika hanya karena ia berkata "tidak".

Siang harinya, Dara makan sendirian di bangku taman kecil dekat kantor. Angin menggerakkan daun-daun, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, kepalanya terasa sedikit lebih ringan. Ponselnya bergetar.

“Dar, kok kamu berubah, sih, sekarang? Dulu kamu... baik?”

Ia menatap pesan itu lama. Dahulu, kalimat seperti itu akan membuatnya panik, merasa bersalah, lalu buru-buru menjelaskan panjang lebar. Dahulu ia hanya bisa mengetik kata, “Maaf, ya.”

Tetapi sekarang, ia hanya percaya satu hal: aku hanya sedang belajar memilih diriku sendiri. Sungguh ironis, memilih diri sendiri dan membatasi hal yang membuat lelah mental justru dianggap kejahatan oleh orang yang sering kali ia bantu dahulu. Seolah-olah setiap kebaikan yang ia lakukan tidak pernah ada. Namun, Dara tidak lagi peduli. Harinya terasa lebih tenang setelah ia berani menentukan batas. Ia tidak berhenti menolong; ia hanya membatasi apa yang ia tidak mampu. Dan itu bukan egois, melainkan tahu kapasitas diri.

Malamnya di kos, Via sedang menonton acara debat presiden sambil makan keripik.

“Gimana hari pertamamu bilang nggak?” tanya Via tanpa mengalihkan pandangan dari TV.

“Aku hampir pingsan,” jawab Dara. “Tapi aku berhasil.”

Via mengacungkan keripik seperti piala. “Selamat. Level satu berhasil dilewati.”

“Memangnya ada level-levelnya?”

“Oh, jelas,” kata Via. “Level dua: bilang nggak tanpa minta maaf berlebihan. Level tiga: nggak menjelaskan panjang lebar. Level empat: tidur nyenyak tanpa memikirkan perasaan orang yang sebenarnya nggak memikirkan kamu.”

Dara tertawa, kali ini lebih lepas. Malam itu sebelum tidur, Dara menulis di catatan kecilnya:

Aku boleh bilang tidak.

Aku boleh merasa keberatan.

Aku boleh sedikit egois untuk diriku sendiri.

Karena orang-orang tidak tahu aku capek. Dan andaikan mereka tahu pun, belum tentu mereka peduli.

Ia menutup buku itu perlahan. Di luar, dunia tetap berisik. Permintaan tetap datang. Orang-orang tetap berharap. Namun, untuk pertama kalinya, Dara tahu satu hal penting: tidak semua hal harus dijawab “iya”. Memilih diri sendiri ternyata bukan kejahatan. Ia hanyalah keberanian yang datang terlambat, tetapi akhirnya tiba juga.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak