Cathy dikenal sebagai gadis yang selalu tampak baik-baik saja. Di layar, ia tertawa mudah, menyapa dengan mata berbinar, dan menutup video dengan kalimat khas, “Jangan lupa jaga diri, ya.” Orang-orang memercayai hal itu. Ia terlihat utuh. Ya, terlalu utuh untuk dicurigai. Padahal, retaknya dimulai dari rumah.
Sejak kecil, Cathy hidup di rumah yang rapi dan terjadwal, tetapi sunyi sepi. Ayahnya sering berangkat pagi dan pulang larut malam. Ibunya mengejar target, memelihara kelelahan. Mereka mencintainya, Cathy tahu itu, namun cinta itu jarang punya waktu untuk duduk bersama. Ia belajar mandiri lebih cepat dari usianya: mengerjakan PR sendiri, menghangatkan makan sendiri, merayakan ulang tahun sendiri dengan kue kecil yang dipesan secara online. Ucapan selamat hadir melalui panggilan singkat. “Nanti uangnya diganti, ya,” selalu begitu.
Ketika TikTok memberinya panggung, Cathy menemukan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan di rumah: perhatian yang besar dan konsisten. Angka followers itu terasa seperti pelukan. Seratus ribu suka berarti seratus ribu orang berkata, "Kami melihatmu."
Ia merekam dari sudut kamar, mengedit hingga dini hari, lalu bangun lagi dengan banyak ide konten baru. Namanya naik cepat. Teman-teman bangga padanya. Penggemar mengidolakan sosoknya. Namun, di meja makan, prestasinya lewat sebagai kabar selintas. Tidak ada apresiasi lebih.
“Videomu bagus,” kata ibunya suatu malam tanpa menatap. “Ibu capek, mau tidur.” Cathy pun mengangguk. Ia pandai mengangguk.
Popularitas membuka pintu lain, mulai dari undangan kolaborasi konten, acara malam, klub, hingga undangan after-party. Awalnya ia menolak karena tidak terbiasa. Lalu, satu kali ia datang. Lalu dua kali. Ia pun candu. Musik keras membuat pikirannya sunyi. Minuman membuatnya berani tertawa lebih lama. Orang-orang memanggil namanya—bukan karena ia anak baik, melainkan karena ia terkenal.
“Cathy, kamu harus ikut. Ini networking,” bujuk seorang teman. Ia tersenyum. “Sekali-sekali tidak apa-apa, kali.” Namun, sekali itu menjadi kebiasaan.
Di usia legal, Cathy pindah ke apartemen hasil jerih payahnya sendiri. “Biar aku mandiri,” katanya pada orang tua.
Sebetulnya, ia menginginkan ruang yang tidak menuntutnya tampil cerah setiap waktu. Apartemen itu modern, dingin, dan terlalu luas untuk satu orang. Jam tiga pagi menjadi waktu paling jujur, ketika notifikasi berhenti dan ia menangis tanpa tahu sebab yang pasti. Ia masih salat, kadang-kadang. Di atas sajadah tipis, ia memohon bukan untuk bahagia, melainkan hanya agar rasa sesak itu berhenti. Setelahnya, rasa bersalah datang. "Aku sudah terlalu jauh," pikirnya. "Tuhan masih mau mendengarku tidak, ya?"
Lalu, tiba-tiba hadir seorang laki-laki bernama Hans. Hans datang seperti pelarian yang meyakinkan. Ia adalah konten kreator dari platform sebelah; bertato, hidupnya liar dan bebas. Mereka bertemu di sebuah acara. Hans tertawa lepas, bicara tanpa basa-basi. “Semua orang punya masa gelap,” katanya sambil menyalakan rokok. “Dan itu tidak apa-apa banget.”
Di dekat Hans, Cathy merasa diterima tanpa harus tampil rapi. Ia jatuh cinta karena Hans tidak menuntutnya ceria setiap saat. Hans melihat sisi lembut Cathy—cara ia mengingat ulang tahun orang lain, caranya membagi makanan dengan kru, hingga caranya meminta maaf meski bukan salahnya. Cathy pun melihat kebaikan Hans yang jarang diceritakan orang lain. Cathy tidak peduli pada reputasi buruk Hans di luar sana.
Namun, ternyata badai besar justru datang dari layar yang dulu menyelamatkannya. Sebuah potongan video Cathy saat minum di klub tersebar dan dipelintir tanpa konteks. Dalam caption video itu, ia dituduh melakukan hal tidak bermoral. Tuduhan berantai muncul: topeng palsu, murahan, hingga jual citra. Hujatan datang bertubi-tubi menyerang tubuhnya, masa lalunya, bahkan keluarganya.
Cathy mencoba melakukan klarifikasi dengan suara bergetar. Berita semakin membesar hingga banyak jenama (brand) membatalkan kerja sama dengannya. Manajer menyarankannya untuk diam dan tiarap. “Nanti juga reda.”
Nyatanya, berita itu tidak reda begitu saja. Cathy membaca komentar sampai ponselnya jatuh dari tangan. Ia merasa gagal sebagai anak, sebagai figur publik, dan sebagai manusia. Orang tuanya menelepon—bukan untuk bertanya kabar, melainkan panik soal kontrak yang batal dan reputasi keluarga.
“Kamu harus hati-hati. Berita buruk tentangmu benar-benar merugikan keluarga,” kata ayahnya. Kalimat itu memecahkan sesuatu di dalam diri Cathy.
Malam itu, ia mengingat obrolan lama dengan Hans tentang gas tawa—nitrous oxide N20. Hans pernah berkata santai, “Ini bukan narkoba, kok. Aman. Biasanya dipakai di medis, buat bikin whipped cream juga bisa. Banyak orang pakai.”
Cathy tahu gas tawa memang dipakai untuk keperluan tertentu, tetapi ia juga tahu tren menghirupnya sedang marak dan berbahaya jika disalahgunakan. Ia takut pada narkoba “asli”, namun gas tawa terasa “lebih aman” baginya. Sejenak ia ingin melupakan semuanya. Sebentar saja.
“Kalau mau pakai, jangan kebanyakan,” pesan Hans waktu itu. “Cukup buat rileks saja.”
Cathy membuka ponsel dengan tangan gemetar. Ia membeli tiga tabung besar gas tawa dari toko online 24 jam. "Satu mungkin akan kurang," pikirnya. "Aku cuma mau tidur tenang."
Hans tidak sedang bersama Cathy. Ia sibuk melakukan acara meet and greet dengan penggemar seharian. “Nanti aku telepon,” tulisnya. Paket itu datang. Cathy lalu menutup tirai dan menghirupnya dengan mantap. Awalnya kepalanya terasa ringan, telinganya berdengung seperti suara laut. Ia tertawa kecil, lalu diam. Melayang. Nikmat sesaat.
Namun, tiba-tiba napasnya pendek. Dadanya terasa ditekan. Ia mencoba berhenti, tetapi tangannya sudah lemas. Ia tidak tahu bahwa gas tawa dalam jumlah besar bisa mengurangi oksigen dalam tubuh, menyebabkan sesak napas, kehilangan kesadaran, gangguan irama jantung, bahkan kematian—terutama jika dipakai secara berlebihan, sendirian, dan dicampur dengan kebiasaan lain seperti merokok atau alkohol.
“Kenapa… susah, sih…,” napasnya seakan-akan mau terputus.
Cathy teringat ibunya, ayahnya, dan sajadah tipis itu. Teringat kalimat “Nanti uangnya diganti, ya.” Ia ingin menghubungi seseorang, siapa saja. Namun, layar ponsel tampak buram. Dunia mengecil di matanya. Cathy jatuh di atas kasur, lalu sunyi.
Hans mengirim pesan dan menelepon, tetapi tidak terjawab. Asisten datang, namun tidak ada jawaban dari dalam kamar. Manajer menyusul dan kamar ditemukan terkunci. Pintu akhirnya dibuka paksa. Semua kaget melihat Cathy terbaring kaku di kasurnya. Dokter menyimpulkan ia telah meninggal berjam-jam sebelumnya.
Berita kemudian meledak: “Kematian Seleb Paling Tragis Tahun Ini.” Tangisan virtual memenuhi kolom komentar yang dulu penuh hujatan. Orang-orang menyesal terlambat berbuat baik pada Cathy. Orang tua Cathy memeluk ponsel, seolah-olah bisa memutar waktu.
Hans terpaku; kalimat “Aman banget, kok” itu terus menghantuinya. Di pemakaman, langit mendung. Ibunya berbisik, “Maafkan Ibu, ya, Nak.” Ayahnya menunduk lama. Tak ada kata yang cukup untuk menebus semuanya. Terlambat.
Catatan dari Penulis: Cerita hidup Cathy bukan untuk dihakimi. Ini adalah peringatan yang perlu diucapkan dengan terang benderang bahwa gas tawa (nitrous oxide) bukan mainan. Meski memiliki kegunaan medis dan industri, penyalahgunaannya sangat berbahaya. Menghirupnya untuk “melupakan masalah” bisa berujung pada kekurangan oksigen, pingsan, kerusakan saraf, hingga kematian—apalagi jika dipakai berlebihan dan tanpa pengawasan. Label “aman” sering kali menipu ketika dipakai di luar tujuan seharusnya.
Untuk kamu yang masih muda, yang merasa sendirian di tengah sorak: jangan coba-coba. Jangan terlena oleh tren dan kata-kata. Jika lelah, cari manusia, bukan zat berbahaya. Bicaralah dan minta pertolongan. Prestasimu sekecil apa pun layak dirayakan, dan hidupmu terlalu berharga untuk dipertaruhkan demi kenikmatan sesaat. Tren bisa menjadi kesenangan yang menipu, tetapi napas itu nyata. Maka tugas kita adalah menjaganya.