Keputusan oran tuaku untuk hidup slow living setelah sekian lama gila kerja tidak bisa diganggu gugat. Aku, remaja 16 tahun, sudah terbiasa mandiri. Orang tuaku gila kerja.
Papaku seorang desainer adibusana yang karyanya dipamerkan enam bulan sekali di festival Cannes, sementara Mama sibuk dengan pekerjaannya sebagai influencer dengan jutaan pengikut.
Kekayaan kami cukup untuk beberapa generasi, tapi bukan itu yang membuatku senang—aku menghargai keputusan mereka memberi masa depan yang stabil.
Dari ibu kota, kami pindah ke sebuah desa sejuk di lereng Gunung Slametaji, dengan bebukitan menjulang dan hamparan tembakau.
Sejak zaman Belanda hingga kini kawasan ini masih asri sebagai penghasil tembakau terbesar di Jawa. Kami tinggal di sebuah rumah Belanda yang megah di lereng bukit, dengan dinding tinggi ventilasi dan jendela besar, tapis ama sekali tidak mencekam seperti yang dibayangkan.
Setahun terakhir telah direnovasi besar-besaran. Dari teras rumah, ladang tembakau membentang rapi, berbaris mengikuti kontur tanah. Angin pagi membawa aroma tanah basah dan dedaunan tembakau yang baru disiram embun.
Burung-burung bersahut-sahutan, sesekali ayam jantan berkokok, dan kabut tipis masih menyelimuti lembah. Semua tampak damai, namun tetap ada sesuatu yang terasa mengganjal di hati. Tengga menyambut dnegan ramah kedatangan kami diselingi bisik bisik yang mendebarkan hati.
Pada suatu pagi, aku memindahkan rak buku tua dari kayu jati di sudut dapur yang belum dipermak. Rak itu ringan, tapi saat digeser terdengar bunyi berderit… dan di baliknya, pintu tersembunyi muncul, digembok dengan rantai karatan.
Jantungku berdegup kencang. Aku membayangkan rahasia besar apa yang menunggu di bawah sana.
“Papa! Mama! Sini, tolong! Ada ruang rahasia!” teriakku.
Seketika, Papa dan Mama, yang sedang memandikan Jule, berlari. Aku hampir tertawa membayangkan mereka meninggalkan kucing itu dengan busa belum terbilas.
“Astagaaa… apakah ini ruang rahasia, Tuan De Witt van Houtten?” Mama bertanya, matanya membesar.
“Siapa itu, Mama? Pemilik lama rumah?” Papa ikut penasaran.
“Iya, mandor kebun Raya, pemilik ladang tembakau terbesar di kabupaten ini beratus tahun silam. Bagaimana kalau isinya emas, berlian, atau gulden?”
“Bagaimana kalau isinya Valak, arwah noni Belanda, atau tulang-belulang pekerja romusha?”
Argh! Mama mencubit perut Papa. Aku hanya bisa menahan tawa.
“Ihh, Papa, jangan gitu! Ini Mama mau live streaming, ide bagus kan? Mesti banyak view-nya. Kebetulan kemarin follower Mama minta spill rumah baru Mama.”
Tanpa pikir panjang, setelah mengeringkan Jule kami memutuskan untuk mengeksplorasi ruangan itu.
Ngengggggg… klontang! Papa memotong rantai dengan gerinda elektrik. Pintu terbuka, terdengar suara kritttt mendecit tajam, menusuk telinga.
Di bawah, ada tangga sempit menurun tiga meter. Mama masuk duluan dengan peralatan live streaming, sementara aku dan Papa membawa senter besat dikepala dan tongkat kasti sebagai senjata.
Hawa di tangga begitu dingin dan apek, hampir menempel di kulit. Lorong pertama yang kami masuki berdebu, udara pengap bercampur aroma kayu tua.
Lorong itu panjang, seakan tak berujung. Setiap langkah menggeser debu, suara kaki kami bergema, menciptakan gema yang mencekam. Di ujung lorong, ada ruangan kosong tanpa satu pun benda kecuali lukisan noni Belanda dengan kebaya putih anggun berenda, duduk memangku anjing Helder hitam besar.
Lukisan itu begitu hidup, matanya seolah menatap tiap gerakan kami. Aku berhenti sejenak sebuah nama terukir dibawah Maria Van Houtten.
“Paaa, Papaaaa, tunggu! Lihat, ada lukisan noni Belanda!” Aku menarik ujung baju Papa, berjalan mengikuti kecepatan Mama.
“Syuttt… jangan tatap matanya, nanti hidup ngikutikn kamu lho,” Papa berseloroh.
Aku pun mencubit perut Papa. Di tengah ketegangan ini, bisa bisanya Papa bercanda seperti itu. Lorong panjang itu ternyata jalan buntu, hanya tembok gelap.
Mama mengisi live streamingnya. Jutaan pengikut menahan napas bersama kami.
Kami masuk ke ruangan berikutnya. Aku memperhatikan setiap detail: debu tebal, meja kayu sonokeling asli, tumpukan kertas Belanda kuno, guci-guci antik. Udara begitu lembap, dingin menusuk, dan setiap langkah kami bergema di dinding, menciptakan ketegangan yang nyata.
Ckrittt… gludak-gludak! Dua tikus besar melintas di kaki Papa. Jangankan Valak, tikus pun membuat Papa tersentak.
Pintu kali ini tidak terkunci, tanpa gerinda elektrik. Di baliknya, kami menemukan 70 batangan emas, sedikit berdebu tapi masih mengilap, tersimpan dalam peti mayat tua. Atmosfer ruangan begitu tegang, seolah benda-benda itu dijaga oleh sesuatu yang tak terlihat.
Keesokan paginya, aku menemani Papa di studionya. Ruang itu penuh dengan tumpukan kertas desain, sketsa kain, pola-pola yang rumit, dan alat gambar yang berserakan di atas meja kayu besar. Cahaya pagi menembus jendela tinggi, menyinari debu-debu halus yang menari di udara.
Papa menunduk, tangannya bergerak cepat, memindahkan pensil, penggaris, dan catatan warna, mengukur ulang setiap detail pola busana yang akan dipamerkan di festival Cannes. Setiap goresan, setiap catatan warna, tampak penting, seolah menentukan nasib karya yang akan menjadi sorotan dunia.
Beberapa papa-papa berseragam coklat berdiri rapi di halaman, membawa map dan surat resmi dari Dinas Cagar Budaya.
Salah satu dari mereka membacakan suara lantang:
“Selamat pagi. Kami mendapat laporan penemuan benda-benda bersejarah di rumah ini. Kami membawa surat resmi untuk memeriksa dan menindaklanjuti laporan tersebut.”
Aku menatap Papa, sedikit tegang. “Papa… kita harus gimana, emas-emas itu kan milik kita?” bisikku.
Papa menepuk bahuku, wajahnya tetap tenang. “Sudahlah, biarakan saja, jadi mereka lebih berhak atas benda-benda itu, benda yang ada tanpa hasil kerja keras kita, sejatinya belum tentu rezeki kita.” Aku terharu, Papaku begitu bijaksana.
Para petugas disertai 3 anjing pelacak mulai kemudian memeriksa ruangan bawah tanah. Langkah mereka teratur, mata mereka meneliti setiap sudut.
Tanganku mengepal, jantungku berdetak cepat saat mereka membuka ruang rahasia dan memeriksa guci-guci, kertas kuno, dan batangan emas yang tersisa.
“Beberapa benda akan dipugar dan dibawa untuk menjadi benda cagar budaya sementara emas-emas akan digunakan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat,” ujar salah satu petugas sambil menulis catatan di mapnya.
Satu per satu, benda-benda bersejarah itu dibungkus rapi, dimasukkan ke kardus dan peti kayu, lalu diangkat ke mobil pick-up besar yang menunggu di halaman.
Saat mereka pergi, aku merasa hampa. Ruang bawah tanah kini kosong. Aku menelusuri lorong itu sekali lagi, sendirian. Astagfirullahaladzimm. Aku tidak salah lihat kan. Sayang aku tidak memfotonya.
Demi Van Gogh, teknik lukisan apa yang bisa menjelaskan semua fenomena ini? Noni Belanda berkebaya tidak ada, hanya anjing Helder di atas kursi. Jantungku berdebar serratus kali lebih cepat, kakiku lemas, aku duduk menjeplak di atas lantai dnegan keringat menetes membanjiri tubuhku ditengah lantai yang begitu dingin,
Aku menangis, tanpa suara. Hampir satu jam. Saat kekuatan tulang-tulang kakiku kembali kau berdiri pelan-pelan. dengan sedikit keberanian yang muncul begitu saja. Aku berbisik pada lukisan yang menyisakan anjing herder diatas kursi yanpa nyonya yang memangkunya.
“ Noni Maria Van Houtten atau siapapun itu yang didalam sana jika kau keluar dari lukisan dan menginginkan hartamu kembali, itu bukan urusan kami. Semua sudah diatur negara untuk kesejahteraan rakyat. Mari hidup berdampingan dengan damai. Semoga kau tenang dimanapun kau berada.” Aminn.
Malam itu aku duduk lebih lama meski rasa takut masih dikuasai rasa takut. Keputusan besar orang tuaku, Rencana- rencana masa depan, semua itu dibayar dnegan harga yang mahal. Tidak boleh dirusak hanya karena entah imajinasi atau betulan nyata.
Aku terbiasa berpikir logis meski sesekali masih mempercayai logika mistika. Aku sadar meski kami hidup dalam rumah yang sama, meski misteri ini belum atau tidak akan terpecahkan, ketakutan itu tidak akan menguasai hidupku. Aku bisa hidup berdampingan dengan bayangan masa lalu, dengan rahasia yang tersisa.
Krietttt… aku menutup pintu, melangkah pelan dengan rasa damai. Biarkan semua rahasia dan misteri tersimpan di sana.