Cerita Fiksi
Kertas Usang di Pabrik Konveksi
Deru mesin jahit mendominasi aktivitas di sebuah ruangan yang sangat luas. Konveksi baju yang telah berjalan selama 30 tahun tersebut memiliki puluhan karyawan. Para penjahit sesekali menyeka peluh yang membasahi kening mereka; hari ini memang terasa sedikit lebih panas. Malang bagi mereka, ruangan sebesar itu tidak dilengkapi dengan pendingin ruangan.
“Dua ratus kemeja akan diambil pukul 14.00! Pastikan semuanya rapi!” Seorang pria tua dengan wajah oriental mengejutkan para pekerja dengan suara kerasnya.
Seketika tubuh mereka menegang. Bagaimana mungkin menyelesaikan 200 kemeja dalam waktu 2 jam? Ini gila! Setelah menyampaikan perintahnya, pria tua yang biasa disapa Pak Bebu itu pun meninggalkan ruangan para penjahit.
Di sinilah segala bentuk ketidakadilan dimulai. Buruh jahit tersebut hanya digaji Rp300.000,00 per bulan dengan jam kerja dari pagi hingga malam. Belum lagi, mereka tidak mendapat jatah makan siang dan tidak memiliki hari libur. Tidak sedikit buruh yang mencoba kabur, tetapi selalu ketahuan oleh Pak Bebu.
Monika adalah satu dari puluhan buruh remaja yang telah mencoba melarikan diri dari perbudakan majikannya. Hari ini, ia merasa sangat lapar karena belum makan sejak kemarin malam. Monika mencoba untuk kabur sekadar untuk memakan secuil roti. Namun, niat itu ia urungkan. Hasan, teman sebaya Monika, lagi-lagi mencoba kabur dari pengawasan Pak Benny—anak buah Pak Bebu—dan kembali tertangkap.
Hukuman yang akan diterima Hasan tidak dapat dielakkan lagi. Mengingat tubuhnya yang sudah lemas, Monika merasa tidak akan sanggup jika harus menerima hukuman dari Pak Benny apabila ia mencoba kabur. Maka, ia pun meneruskan pekerjaannya dengan sisa energi yang dimiliki.
Tepat pukul 14.00, Pak Benny mengambil 200 jahitan untuk segera dikirim. Monika telah menyelesaikan kemeja kelimanya dalam waktu dua jam.
"Kita tidak bisa begini terus, Mon. Kita harus melakukan sesuatu," bisik Hasan tanpa menoleh, takut ketahuan lagi.
"A-aku takut, San."
"Kita semua juga takut. Tetapi kalau begini terus, kita bisa mati di sini. Entah karena kelaparan atau kecapekan," imbuh lelaki kurus itu.
Obrolan mereka terhenti di situ, namun otak Monika tidak berhenti berpikir. Hasan benar. Jika diam saja, mereka bisa mati di ruang konveksi ini. Entah satu-dua orang atau mereka semua bisa berakhir di sini. Monika tidak mau hal itu terjadi. Maka, sebelum menyerahkan hasil jahitannya ke troli yang dibawa Pak Benny, ia menyelipkan secarik kertas pada kerah kemeja dan menjahitnya rapat-rapat.
Perasaan takut dan waswas menyelinap di dada Monika saat ia meletakkan semua hasil kerjanya hari ini ke atas troli. Ia hanya bisa berdoa semoga aksinya tidak ketahuan.
“Kerja bagus! Sekarang kalian boleh makan dan istirahat selama 10 menit!” teriak Pak Benny lantang.
Kalimat yang diucapkan Pak Benny itu bagai angin segar di telinga Monika dan para buruh lainnya. Dengan satu gerakan cepat, mereka pun segera berhamburan menuju loker untuk menyantap bekal. Bagi orang lain, 10 menit bukanlah waktu yang lama. Namun, 10 menit itu bisa menjadi waktu yang sangat panjang bagi raga yang letih dan jiwa yang penat. Kebebasan masih menjadi dambaan bagi sebagian orang di luar sana, namun kondisi terkadang memaksa mereka melakukan hal-hal di luar keinginan.
Satria adalah seorang polisi yang menyamar sebagai pembeli kemeja di konveksi milik Pak Bebu. Satria telah lama menaruh curiga pada bisnis yang dijalani pria tersebut. Pasalnya, beberapa waktu lalu, ia telah menangkap sindikat perdagangan manusia, terutama anak di bawah umur. Ia menduga sindikat ini masih berkaitan dengan bisnis milik Pak Bebu. Setelah menjalankan misinya, Satria mengirim pesan kepada anak buahnya. Dugaannya selama ini ternyata benar; Pak Bebu terlibat dalam perdagangan manusia dan perbudakan.
Setelah berpura-pura membeli beberapa kemeja dari konveksi Pak Bebu, Satria segera membuka bungkusannya. Beruntung, secarik kertas yang tadi diselipkan Monika sampai ke tangan polisi.
"Help." Demikian tulisan di kertas itu. Hanya satu kata, tetapi cukup untuk menjelaskan segalanya.
Satria pun mengajak anak buahnya untuk segera mengepung dan menggerebek konveksi tersebut. Tidak lama kemudian, beberapa mobil polisi tiba di depan lokasi. Salah seorang polisi mendobrak ruangan milik Pak Bebu dengan membawa surat penangkapan resmi. Serangan tiba-tiba itu tentu mengagetkan Pak Bebu yang sedang bersantai di ruang kerjanya.
Merasa dirinya telah di ujung tanduk, Pak Bebu sempat melakukan perlawanan sebelum akhirnya menyerah. Tidak berhenti sampai di situ, polisi juga menggeledah ruangan besar tempat para buruh jahit.
“Monika, ada polisi,” Hasan berbisik di telinga gadis itu. Monika mengangkat wajahnya; ekspresi ketakutan jelas tercetak pada raut wajahnya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya seorang polisi bertubuh kurus pada Monika.
“T-tolong kami,” ucap Monika dengan suara bergetar. Akhirnya, pertolongan itu datang.
Mengetahui apa yang terjadi, polisi yang diketahui bernama Samsul itu pun mengajak beberapa buruh ke mobil sebagai saksi. Selain menangkap Pak Bebu, Pak Benny selaku kaki tangannya juga turut diringkus. Meski tubuh mereka masih bergetar, Monika, Hasan, dan puluhan buruh di ruangan konveksi itu akhirnya bisa bernapas lega. Semua ini berkat tindakan kecil yang dilakukan Monika, yang mampu menyelamatkan banyak nyawa teman-teman seperjuangannya.