Cerita Fiksi
Telepon Misterius
“Na, kamu jadi menginap, kan?” Nenek Tirah muncul di ambang pintu kamar saat Hana tengah mengeluarkan pakaian ganti dari tasnya.
“Jadi, dong, Nek. Sudah sengaja bawa baju banyak begini, lho,” jawab gadis dua puluhan tersebut dengan nada manja. Nenek bibinya itu terkekeh melihat ekspresi Hana.
“Ya sudah, istirahat dulu. Nenek ke warung, ya? Mau pesan pecel.”
"Eh, tidak usah, Nek!"
Hana hendak mencegah karena khawatir merepotkan, tetapi neneknya sudah keluar rumah. Lagi pula, dipikir-pikir percuma ia menahan kemauan perempuan sepuh itu. Nek Tirah sudah biasa hidup mandiri semenjak Kakek Udin meninggal sepuluh tahun silam. Akhirnya, Hana memilih melihat-lihat seisi rumah. Siapa tahu ada yang berubah sejak terakhir kali berkunjung setahun lalu.
Lemari berukir di ruang tengah ternyata masih sama fungsinya, yaitu sebagai tempat menaruh aneka pajangan keramik. Keranjang rotan tempat menaruh kumpulan majalah wanita edisi lawas juga masih berada di pojok ruang tamu. Hana terus melangkah ke ruang keluarga. Ada barang baru berupa televisi layar datar, lengkap dengan alat set top box. Hana menduga benda itu hadiah dari keponakan Nenek yang tinggal di Jakarta.
Pandangan Hana tertumbuk pada meja kayu kecil di samping televisi. Ada benda kotak berwarna abu-abu dengan papan berisi tombol-tombol numerik. Gadis hitam manis ini mendekat, kemudian mengangkat gagangnya. Terdengar nada denging, tanda telepon itu masih berfungsi.
"Nenek, Nenek. Disarankan ganti HP tidak pernah mau. Malah lebih setia dengan telepon model begini," gumamnya menyayangkan sikap sang Nenek.
Hana mengembalikan gagang telepon ke posisi semula. Kini ia menoleh ke arah meja makan, di sebelah meja telepon. Ia menyingkap tudung saji bulatnya, dan air liurnya terbit seketika. Rupanya, Nenek sudah menyediakan semangkuk besar gulai daun singkong, lengkap dengan sepiring bakwan jagung.
"Lho, lalu untuk apa Nenek tadi ke warung buat pesan pecel? Ini sudah ada makanan." Hana berdiri bingung. Lalu, tangannya mencomot sepotong bakwan dan mengunyahnya sembari duduk di kursi terdekat.
Sambil menikmati gorengan, mata Hana mengamati langit-langit rumah dan dinding. Semua dalam kondisi bersih, rapi, dan terawat. Gadis ini merasa bersyukur, nenek bibinya ini menua dalam keadaan aman secara finansial. Beliau pandai mengelola uang pensiun dari almarhum suaminya sehingga cukup untuk menjalani usia senja.
Hana menerawang ke masa lampau. Saat ia masih di Purwokerto, nyaris setiap akhir pekan dilewatkannya di rumah ini. Sebab baginya kala itu, rumah Nek Tirah adalah suaka dari tekanan hidup bersama ayahnya yang emosional. Namun, setelah ia merantau ke Semarang, paling banter setahun sekali ia baru bisa mengunjungi sang Nenek.
Tak terasa bakwan kedua sudah habis dilahap, tetapi Nenek belum kembali. Hana baru terpikir untuk menyusul ke warung. Tepat ketika ia beranjak dari kursi, telepon Nenek berdering nyaring. Hana terlonjak kaget. Semula ia ragu untuk mengangkat telepon, namun deringnya terus mengganggu. Akhirnya, pada deringan keenam, ia memutuskan mengakhiri kebisingan.
“Halo? Selamat siang. Dengan siapa saya bicara?” tanyanya berhati-hati.
Di ujung sana terdengar bunyi kemeresek beberapa saat, seolah sinyal komunikasi sedang terganggu. Hana mengulangi sapaannya, “Halo? Siapa ini, ya?”
“…cel. Mau …cel.” Klik. Telepon terputus begitu saja.
Hana mengernyit. Apa-apaan ini? Astaga! Rasanya ia ingin sekali memasukkan tangannya ke gagang telepon, lalu menjambak rambut si penelepon misterius.
“Lho, Hana? Kamu kenapa?” Tahu-tahu Nenek sudah berada di belakangnya. Raut wajahnya cemas melihat tingkah cucu keponakannya itu. Nenek buru-buru meletakkan bungkusan plastik ke meja makan, lalu meraih wajah Hana.
“Nenek, dari mana saja, sih?!” seru Hana, gusar sekaligus lega. Ia memeluk tubuh neneknya erat-erat.
Nek Tirah mengusap-usap lembut kepala dan punggung Hana. Setelah merasa tenang, barulah gadis itu menceritakan kejadian barusan. Di luar dugaan, neneknya tidak menampilkan kebingungan ataupun kecemasan. Sebaliknya, ia hanya tersenyum lembut.
“Itu, ya? Ya, memang salah Nenek agak terlambat,” ucapnya tenang. “Ayo, ikut. Nanti kamu tahu sendiri.”
Nenek mengajak Hana menyusuri gang kecil di sebelah rumah. Langkah mereka terarah menuju sebuah rumah sederhana tanpa teras. Begitu sampai, Nenek terus saja mendorong pintu dari kayu yang telah kusam warnanya. Hana yang mengekor sedikit terperanjat mendapati sebuah ruangan yang terbuka tanpa sekat. Agak menempel ke dinding, ada sebuah dipan kayu sederhana.
Begitu melangkah lebih dekat, barulah Hana melihat seorang perempuan renta terbaring. Matanya terbuka, dan tangannya menggapai-gapai begitu melihat kedatangan mereka. Gadis itu memilih berdiri di belakang neneknya. Ia penasaran, siapa orang tersebut?
“Maaf, aku kelamaan, ya, Sal? Ini kubawakan pecelmu,” celoteh Nek Tirah riang.
Lalu, Nenek memindahkan pecel yang dibawanya ke dalam piring seng yang tergeletak di meja sebelah dipan. Nenek juga mengambilkan sebilah sendok serta menuangkan air dari kendi ke cangkir plastik.
"Bangun dulu, Sal. Waktunya makan," tegas Nenek. Ia lalu membantu perempuan tersebut untuk duduk bersandar pada kepala dipan.
“Cel...,” sahut perempuan tersebut. Rona gembira tergambar di wajahnya yang tirus. Ia menyambut piring berisi sayuran rebus berlumur saus kacang yang disodorkan Nenek. Tak lama terdengar suara berdecap-decap penuh kenikmatan. Beberapa kali ia hampir tersedak. Nenek segera mengusap-usap punggungnya dan menyodorkan air minum.
Hana menonton semua adegan tersebut dengan perasaan campur aduk. Banyak pertanyaan muncul di benaknya. Kemudian, matanya menangkap sebuah benda yang semula tertutup oleh bantal. Itu ponsel warna perak (silver). Gadis ini menepuk dahi setelah melihat benang merah yang muncul. Di sini rupanya ponsel untuk Nek Tirah yang ia hadiahkan beberapa bulan lalu. Berarti telepon misterius tadi bersumber dari Nenek Sal ini. Begitulah kesimpulan yang Hana ambil.
"Nah, alhamdulillah pecelnya habis. Sekarang kamu istirahat lagi, ya, Sal? Nanti, kan, Agus pulang," kata Nenek Tirah.
Hana membantu neneknya memberesi remah-remah sisa makanan di dipan tersebut. Setelah itu, ia juga membantu Nenek membaringkan perempuan bernama Sal tersebut. Kemudian, mereka pamit pulang.
Hana dan Nenek banyak mengobrol dalam perjalanan kembali ke rumah. Hana menjadi kian sadar, begitu banyak pernik dalam kehidupan nenek kesayangannya. Ia makin kagum pada rasa solidaritas yang dimiliki Nek Tirah.
"Bu Sal itu cuma tinggal berdua dengan anak tunggalnya, Agus. Anaknya itu setiap hari kerja dari pagi sampai sore. Nenek kasihan karena dia ditinggal sendirian di rumah. Apalagi Sal itu pernah kena strok," urai Nek Tirah.
“Terus, Nenek minta maaf, ya, Na. HP dari kamu Nenek pinjamkan ke Bu Sal agar dia bisa telepon Nenek pas jam makan siang. Soalnya kadang Nenek kelupaan,” cerita Nenek.
Hana malah merangkul erat pundak neneknya. “Tidak apa-apa, Nek. Aku ikhlas, kok. Tapi, kenapa menunya pecel?”
Nenek mengangkat bahu. “Dulu waktu masih sehat, Bu Sal jualan pecel. Mungkin itu penyebabnya."
Mereka berdua terkekeh pelan. Hana menggandeng lengan Nenek Tirah dengan hati penuh rasa sayang.